Home / Seputar Tapsel / 200-an Warga Bulumario Protes Pembalakan Hutan

200-an Warga Bulumario Protes Pembalakan Hutan

SIPIROK-Sekitar 200-an warga Desa Bulumario, Sipirok, Tapsel melakukan aksi atas penebangan kayu di Hutan Napa Jae tepatnya di Perbatasan Kecamatan Sipirok dengan Kecamatan Marancar tepatnya di Aek (Sungai) Sirabun Tapsel, Senin (20/2). Aksi protes meraka lakukan atas aktivitas sebuah perusahaan di hutan tersebut, berlangsung tertib dan damai di bawah pengawalan Polsek Sipirok bersama Koramil Sipirok, Polsek Batang Toru dan Koramil Batang Toru.
Pantauan METRO Senin (20/2), 200-an warga Desa Bulumario berjalan hingga 2 jam menuju ke lokasi di Sungai Sirabun. Di saana mereka memagari jalan dan membentangkan spanduk protes di badan jalan yang diduga menjadi jalur pengangkutan kayu menuju pengolahaan. Sementara di seberang sungai yang merupakan base camp perusahaan dijaga ketat oleh aparat kepolisian dan TNI dari Sipirok dan Batang Toru.
Setelah selesai memagari, warga berorasi dengan pegeras suara agar perusahaan yang beraktivitas di Hutan Napa Jae tidak mengulangi kembali kegiatannnya, karena lokasi tersebut merupakan tanah adat Desa Bulumario.
“Kami minta pihak perusahaan agar menghentikan aktivitas penebangan kayu, karena hutan ini merupakan tanah adat desa secara turun-temurun (wariskan) dari opung (kakek). Kami datang dengan damai dan hanya untuk memagari apa yang menjadi milik kami, dan kiranya jangan diganggu lagi,” kata mereka disambut dengan teriakan.
Setelah selesai menggelar aksi, warga pun membubarkan diri dan pulang, sementara beberapa karyawan perusahaan yang berada di lakosi menghentikan aktivitasnya. Bahkan, sebelum kedatangan warga Desa Bulkumario beberapa alat berat dipindahkan untuk mengantisipasi hal yang diluar dugaan.
Camat Marancar Baginda Siregar AP ketika dimintai keterangannya pada METRO Senin (20/2) di base camp perusahaan penebangan kayu tersebut mengatakan, perusahaan itu memiliki izin untuk menebang kayu yang dikeluarkan oleh pemkab.
“Setahu saya mereka memiliki izin yang diterbitkan oleh satu pintu,” katanya.
Ketika disinggung apakah memang aek (Sungai) Sirabun merupakan tapal batas resmi Kecamatan Marancar dengan Kecamatan Sipirok, Baginda mengatakan belum mengetahui secara pasti, namun akan segera mencari kepastian tentang hal itu.
“Kalau mengenai letak secara pasti tapal batas antara Kecamatan Sipirok dan Kecamatan Marancar belum saya ketahaui, karena itu memerlukan penelitian lebih dahulu.” katanya.
Dalam megamankan aksi protes tersebut Kapolsek Sipirok AKP Heru S beserta personilnya, Dan Ramil Sipirok Kapten Inf J Aritonang serta personelnya, Kapolsek Batangtoru AKP Gunawan Pane serta personelnya serta Dan Ramil Batang Toru Kapten Inf Saridi beserta beberapa personelnya. (ran/mer.metrotabagsel)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar