Home / Seputar Madina / 22 dari 23 Kecamatan di Madina Endemik Malaria

22 dari 23 Kecamatan di Madina Endemik Malaria

PANYABUNGAN (Mandailing Onlne) – Kecuali Kecamatan Pakantan, seluruh kecamatan di Mandailing Natal adalah kawasan endemik malaria. Itu artinya 22 dari 23 kecamatan merupakan kawasan sebaran virus berbahaya tersebut.

Dan jenis malaria yang ada di Mandailing Natal (Madina) adalah jenis Plasmodium Palsifarum dan Plasmodium vivax.

“Jenis Palsifarum yang paling bebahaya, karena merusak sekitar 86 persen sel darah si penderita. Baik penderita usia tua maupun usia muda. Sementara vivax merusak sekitar 3 persen sel darah muda,” ujar Kepala Kantor Pusat Penaggulangan Malaria Madina, Syarifuddin menjawab Mandailing Online, Kamis (12/12/2013).

Malaria termasuk penyakit berbahaya, oleh WHO (Wold Health Organisation) malaria masuk salah satu dari 3 penyakit yang menjadi perhatian dunia setelah AIDS dan TB paru.

Berdasar data yang dilansir Kantor Pusat Penaggulangan Malaria Madina, pada tahun 2012 jumlah penderita malaria di Madina mencapai 7.901 orang dari total 410.931 jumlah penduduk Madina.

Sementara berdasar kecamatan, Kecamatan Panyabungan mendominasi angka yakni 3.842 kasus dari total 78.584 jumlah penduduk. Disusul Kecamatan Siabu sebanyak 1.111 kasus dari total 48.072 jumlah penduduk. Terrendah adalah Kecamatan Pakantan dengan angka 6 kasus dari total 2.178 jumlah penduduk, disusul Kecamatan Ranto Baek dengan 8 kasus dari total 11.426 jumlah penduduk.

Jumlah penderita tertinggi berada d bulan November, yakni 857 kasus atau 11,1 persen. Sedangkan kasus terrendah berada di bulan Agustus dengan angka 327 kasus atau 4,2 persen.

Musim hujan pada bulan Desember hingga Maret dihipotesa sebagai meningkatnya persentase meningkatnya sebaran malaria. Sementara rentang bulan Juni hingga September (kemarau) menunjukkan persentase rendah.

Terdapat dua jenis utama nyamuk penyebar virus malaria di Madina, yakni jenis anopheles kochi dan anopheles nigerimus. Anopheles kochi ditemukan di kawasan Mandailing Godang, Mandailing Julu dan Pantai Barat. Sementara anopheles nigerimus ditemukan di kawasan Mandailing Julu.

Habitat perkembangan nyamuk ini berada pada kawasan rawa, perkebunan, sungai dan alur pantai serta kawasan hutan.

Sementara DPRD Madina sejauh ini sudah memperingatkan Pemkab Madina tentang dampak malaria terhadap generasi baru Madina, sebab berdasar riset para ahli, anak-anak yang pernah menderita malaria akan mengalami kekurangan daya ingat sekitar 30 persen.

“Itu artinya, sekitar 50 persen saja anak-anak di Madina menderita malaria akan bagaimana kualitas sumber daya manusia kita di masa mendatang. Ini juga berakibat buruk atau malah bertolak belakang dengan target capaian kualitas pendidikan yang bekaitan dengan visi misi pemerintah daerah Madina,” kata anggota DPRD Madina, Ali Mutiara, Kamis (12/12).

Ali Mutiara menyatakan, sejauh ini Pemkab Madina sangat kurang mengalokasikan anggaran dana bagi penyetopan mata rantai siklus nyamuk malaria. Untuk itu, dia mendesak bupati Madina meningkatkan anggaran dana untuk masalah ini di tahun 2014.

“Ini tidak soal kesehatan saja, tetapi kualitas mutu manusia dari sisi sektor pendidikan. Artinya, jika malaria tak serius ditanggulangi, maka akan bertolakbelakang dengan visi misi pemerintah daerah Madina yang memprioritaskan peningkatan pendidikan dan kesehatan disamping sector pertanian,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Pusat Penaggulangan Malaria Madina, Syarifuddin mengakui rendahnya alokasi anggaran bagi instansinya. Kondisi itu menyebabkan banyaknya program yang direncanakan terbengkalai dari tahun ke tahun.

Dicontohkanya, program pogging (penyemprotan rumah-rumah penduduk), pihaknya pada tahun 2013 ini hanya mampu melakukannya di tiga kecamatan dengan jumlah kegiatan hanya sekali dalam setahun ini, itu pun tidak seluruh desa yang dicapai. Penyebabnya akibat minimnya dana yang dalokaskan di APBD.

“Normalnya itu seharusnya 2 kali dalam setahun, yakni setiap 6 bulan sekali. Harusnya setiap desa di seluruh kecamatan agar siklus virus dapat distop,” katanya parau.

Selain itu, penyediaan kelambu bagi tiap rumah tangga juga sangat ampuh meminimalisir jangkitan malaria ini. Berdasar hitungan, dengan jumlah 96.387 kepala keluarga, dibutukan 192.774 helai kelambu. Kelambu ini tahan selama 5 hingga 10 tahun. Tetapi, lagi-lagi program ini mentok karena tak ada alokasi dananya.

Upaya ke lembaga PBB seperti WHO juga sudah diperjuangkan Kantor Pusat Penanggulangan Malaria Madina. Tetapi, lembaga itu lebih banyak ke program jenis obat-obatan. Jika pun ada kelambu hanya sebanyak 3 persen dari estimasi penduduk. Alhasil, masih jauh dari cukup.

Penanganan secara lintas sektoral, kata Syarifuddin, juga sangat diharapkan dalam mengeliminasi malaria ini. Sebab, ini terkait dengan pertanian, pertamanan, pemukiman, prilaku dan budaya penduduk setempat dan lainnya.

Pertanian misalnya, pola tanam serentak persawahan sangat berpengaruh. Jika tertib jadwal tanam serentak berlaku, maka siklus pembiakan nyamuk akan stop pada rentang tahap pengeringan sawah. Tetapi pola tanam yang kacau balau akan menyebabkan keserentakan pengeringan air persawahan tak terjadi, ini menyebabkan siklus pembiakan malaria menjadi kontiniu sepanjang tahun.

Peliput/editor : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar