Home / Berita Sumut / 30% rakyat Indonesia tanpa listrik

30% rakyat Indonesia tanpa listrik

MEDAN, (MO) – Indonesia masih kekurangan listrik. Sedikitnya 30 persen rakyat Indonesia saat ini belum menikmati listrik.

Hal itu ditegaskan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Unsur Pemangku Kepentingan, Tumiran. Meski menolak dikatakan krisis, namun dia mengakui masih banyak daerah di Indonesia yang kekurangan energi. “Banyak daerah yang dipotret betul oleh DEN, masih banyak kekurangan,” katanya.

Tumiran menyebutkan, rasio elektifikasi energi di Indonesia baru sekitar 67-70 persen. “Artinya, 30 persen rakyat Indonesia balum punya listrik,” ungkap Tumiran.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM) ini menambahkan, dengan jumlah tersebut, Indonesia jelas kekurangan listrik. Karena itu, DEN sedang mendata kebutuhan energi di daerah untuk memproyeksikan kebutuhan energi secara nasional hingga beberapa tahun ke depan, termasuk darimana sumber energi untuk memenuhinya.

“Kondisi ini tak boleh dibiarkan. Itu kan growth, industri terus tumbuh, itu harus kita siapkan berdasarkan proyeksi. Kalau gak punya proyeksi, kita tidak tahu, untuk apa kita membangun pembangkit,” imbuhnya.

Tumiran menjelaskan, nantinya akan ada kebijakan energi nasional dengan membuat proyeksi kebutuhan energi Indonesia ke depan dengan memperhatikan pertumbuhan ekonomi rata-rata, pertumbuhan penduduk dan lainnya. Sehingga diketahui berapa kebutuhan energi nasional hingga tahun 2050.

Dia mencontohkan Jepang dan Korea yang tidak memiliki gas, namun memiliki rencana umum energi yang baik, sehingga kebutuhan energi negara tersebut bisa diproyeksikan.

Dengan proyeksi ini, lanjut Tumiran, diharapkan tidak ada lagi daerah di Indonesia yang kekurangan sumberdaya energi. “Karena kalau sampai kekurangan sumber daya energi, dia tertinggal,” bebernya.

Di Sumut sendiri, krisis listrik sepertinya tidak pernah henti. Padahal sumber energi dan jumlah pembangkit listrik di daerah ini tidak sedikit dan selalu dibangga-banggakan. Masih melekat diingatan masyarakat Sumatera Utara pada Januari 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan sejumlah proyek raksasa, salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan I berkapasitas 2×90 MW, dan Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi Simangkuk 275/150 KV kapasitas 250 MVA di Balige. Tujuannya adalah agar kebutuhan listrik di daerah ini terpenuhi dan membebaskan Sumatera Utara dari pemadaman listrik karena kekurangan daya.

Potensi lain yang ada di Sumatera Utara adalah PLTU Labuhan Angin, PLTA Asahan III, PLTA Spahoras, PLTA Lau Renun, dan PT Inalum. Begitu juga pembangkit listrik berkapasitas 2×2,5 MW di Humbang Hasundutan, pembangkit listrik di Simalungun berkapasitas 2×4,5 MW, kawasan Danau Toba yang memiliki potensi pembangkit energi power hydro. Jika ditotal, Sumut telah memberikan sumbangan untuk peningkatan pembangkit mencapai 10 ribu MW.

Luar biasa potensi listrik yang ada di Sumut. Jika potensi ini benar-benar berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan, maka Sumut dipastikan bebas pemadaman dan akan terang-benderang. Namun kenyataannya, apa yang dirasakan masyarakat masih jauh dari harapan. Pemadaman(Waspada)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar