Home / Seputar Madina / Gyta Adinda, Gadis Belia si Penemu Obat Diabetes

Gyta Adinda, Gadis Belia si Penemu Obat Diabetes

Membawa Berkah Bagi Orangtua dan Keluarganya
Masih ingatkan dengan Gyta Adinda Nasution, gadis belia warga Jalan Pendidikan, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Madina yang berhasil menemukan ramuan obat diabetes ? Ternyata, sejak lahir 17 tahun lalu, gadis berkerudung dan berkacamata ini sudah membawa berkah bagi orangtua dan keluarganya.

Bisman Nasution menceritakan, putrinya yang saat ini sekolah di SMAN 2 Plus Sipirok merupakan anak pendiam sejak masih SD tetapi suka bergaul dan di sukai teman-temannya. Giat membaca tidak hanya buku pelajaran, tapi majalah dan koran menjadi konsumsinya.
Bahkan, tutur pensiunan PNS Pemkab Madina ini, setiap ada tugas sekolah, teman-temannya selalu belajar di rumahnya. Meski di sekolah tidak dapat ranking namun selalu masuk 5 besar, putri ke tiga dari empat bersaudara ini selalu di sukai guru dan kawan sekelasnya.
”Dia sering di kunjungi kawan-kawannya untuk menyelesaikan tugas sekolah dan sangat suka membaca buku” kenang Bisman memulai cerita dengan METRO, Kamis (26/1).
Diceritakan Bisman awal mula dirinya sakit hingga putrinya sendiri yang menemukan obatnya secara otodidak. Ketika Gyta duduk kelas 1 SMPN 1 Panyabungan, Bisman sudah menderita diabetes dan asam urat. Tahun demi tahun sakitnya malah semakin parah.
Tanpa sepenetahuannya, saat Gyta duduk di kelas tiga SMP, Gyta tekun sekali belajar tentang obat diabetes demi kesembuhan dirinya. Beragam buku kesehatan, tentang obat-obatan herbal dan lainnya menjadi ‘santapan’ Gyta setiap harinya.
”Sejak penyakit saya tambah parah, dia banyak menghabiskan waktu di luar jam sekolah di Perpustakaan Madina yang ada dekat kantor KPU Madina di Jayu Jati. Dari situ dia mencoba meramu obat-obatan secara herbal atau dari akar-akaran. Setiap hari itu sajalah kerjaannya,” tuturnya.
Setelah berulang kali mencoba hingga dua tahun lamanya saat Gyta sudah duduk di kelas 1 SMA Plus Sipirok, obat yang diramu Gyta mulai membuahkan hasil. Dasarnya, karena minum ramuan obat Gyta, penyakit Bisman menurun. Dan sejak itu jugalah beberapa orang datang ke rumahnya meminta ramuan obat yang sama.
”Apaagi setelah dikorankan METRO TABAGSEL, ratusan orang sering datang ke rumah untuk meminta ramuan obat itu. Dan ramuannya kami jual Rp70 ribu perkilogram. Ibunyalah sekarang yang membuat obat itu setelah diajari oleh Gyta,” pungkas Bisman.
Kata Bisman, saat ini Gyta sedang mengikuti pelatihan di USU mengenai ramuan obat yang ditemukannya tersebut meskipun harus mengeluarkan biaya sampai Rp8 juta.
”Dia masih mengikuti latihan di USU. Dan selama latihan itu, dia membutuhkan biaya sebesar Rp8 juta. Namun mengenai biaya itu, Kepala Sekolahnya (Kasek SMAN 2 Plus Sipirok) sudah membantu Rp2,5 juta,” pungkasnya.
Meski sudah terbukti secara fisik dan kesehatan kalau ramuan Gyta tersebut bisa mengobati diabetes, hingga saat ini aku Bisman belum ada respon Pemkab Madina akan temuan putrinya tersebut. Meski demikian, dirinya berharap Pemkab merespon hasil inovasi putrinya.
”Kami sangat berharap Pemkab Madina bisa mendukung kami. Gyta pada dasarnya memiliki cita-cita untuk menjadi guru dan bisa membantu kesulitan orang lain. Namun setelah memiliki inovasi ini, dia berkeinginan untuk mengembangkannya agar nantinya bisa diberikan kepada orang lain. Karena, yang dihasilkannya itu belum maksimal dan masih harus mengikuti proses pendidikan dan pelatihan untuk mengetahui kemampuan obat yang ditemukannya itu,” tambahnya.
Jum’at 11 Nopember 2011 lalu, Gyta yang di jumpai METRO di SMAN 2 Plus Sipirok duduk di kelas kelas XII IPA 1. Temuan ini didapatkannya sekitar 4 tahun lalu, setelah mencoba berbagai ramuan tradisional melalui pengumpulan data dan informasi tentang diabetes dan pencegahannya yang ada dalam buku dan media internet.
Saat itu, ramuan serbuk berbahan tumbuhan dengan nama Kopi Gula Gita itu sedang menuju proses mendapatkan hak paten, agar kedepan dapat membantu mengurangi kecemasan penderaita diabetes, karena sulitnya mendapatkan penawar yang dapat menghambat dan menyembuhkan.
“Semenjak ayah terserang diabetes, ketika itu saya masih duduk dibangku kelas 6 SD (SDN Inpres 1425594 Panyabungan). Saya prihatin melihat ayah yang harus makan kentang dan tak boleh makan nasi. Padahal dia begitu suka dengan nasi dan sangat cocok untuknya sebagai asupan karbohidrat dalam tubuhnya dan sumber energi. Disamping itu, kondisi tubuhnya yang memang gemuk dan suka makan, tampak tak sehat, dan tak bersemangat. Sejak itu saya berniat mencari solusi dengan gemar membaca buku–buku yang berkaitan dengan diabetes. Hampir setiap hari sepulang sekolah, saya selalu meluangkan waktunya untuk membaca di perpustakaan daerah,” ungkap Gyta anak ke empat dari pasangan Bisman Nasution SH dengan Dra Lismawati bercerita.
Saat di SMP kegiatan mencari dan mengumpulkan data tentang diabetes melalui buku dan internet terus dilakukan. Setelah merasa cukup membaca, mulailah Gyta memberanikan diri meramu obat melalui petunjuk buku yang dibaca diperpustakaan. Bercampur rasa sedih, cemas, kasihan melihat kondisi tubuh sang ayah lemas terutama ketika penyakit diabetesnya kambuh sering menjalani pengobatan di beberapa rumah sakit, namun resep yang diberikan dokter tidak sesuai dengan yang di harapkan, lantas gadis belia yang lahir di Medan, 2 Juli 1994 itu mulai meramu obat melalui petunjuk buku yang dibacanya. Padahal usianya ketika itu baru 13 tahun.
“Saya pernah menangis ketika melihat ayah yang begitu inginnya memakan nasi, karena merasa bosan setiap hari selalu makan roti dan kentang sebagai asupan karbohidratnya. Lantas saya mulai meramu obat dari buku Pengobatan Ala Hembing. Dengan bermodalkan keingintahuan dan kemauan yang kuat, saya mencoba melakukan beberapa penelitian dan eksperimen untuk mengatasi penyakit diabetes yang diderita ayah,” kata siswa yang bercita-cita menjadi guru dan dosen tersebut.
Diceritakannya, telah banyak tumbuhan obat yang diteliti dan diraciknya, namun beberapa hasil eksperimen yang dilakukan masih sering kurang memuaskan. Misalnya, ramuan daun mahkota dewa yang dikeringkan lalu direbus dan airnya diminum penderita masih belum memuaaskan setelah diuji selama 2 minggu, akhkirnya diganti dengan ramuan buah mahkota dewa yang dikerangkan lalu di jadikan bubuk dan diseduh dan diminumkan. Dan hasilnya juga belum memuaskan. Sedangkan ramuan lainnya akar mahkota dewa, ceplukan (pultak-pultak), asupan jus dan ramuan lainnya, namun tetap saja belum mendapatkan hasil yang maksimal
Rata-rata setiap 2 minggu kalau reaksi tidak maksimal, maka Gita akan mengganti ramuan bahkan menggabung ramuan yang sati dengan yang lainnya. Dan setiap hasil ramuan dirinya selalu lebih dahulu meminum, agar tahu rasanya, karena takut terjadi apa-apa dengan ayahnya.
Memang rata-rata ramuan itu rasanya aneh dan selalu mengundang mual dan muntah. Dan diantara ramuan ada yang tidak sempat diberikan pada sang ayah karena rasanya sangat aneh.
“Awalnya rata-rata ramuan itu hanya bisa membuat ayah bersemangat saja, tetapi setelah diperiksakan kadar gulanya masih tetap tinggi. Dengan keadaan seperti itu saya terus berusaha menemukan obat yang belum pernah dikenal masyarakat, terus mencoba dan mencoba. Atas saran ibu akhirnya saya menemukan obat sederhana bernama kopi gula. Mula-mula kurang percaya dengan hipotesis itu, dan karena penasaran akan khasiatnya, obat itu langsung saya minum rasanya pahit,” akunya sambil mengatakan bahan dasar obat hasil temuannya itu masih tetap tumbuhan yang hasilnya menjadi serbuk sehingga namanya diberikan kopi gula.
Selanjutnya, merasa yakin dengan temuannya, ramuan itupun diminumkan pada sang ayah dan setelah mengkonsumsi selama dua hari, sang ayah merasa cocok dengan kopi gula yang telah diracik itu. Dan muncul beberapa perubahan positif seperti pandangan mulai normal atau jelas, badan terasa ringan, kulit yang mulanya kendur menjadi kencang kembali, dan badan yang mulanya lemas menjadi berenergi, serta kadar glukosa melalui pemeriksaan dapat menurun dan ternetralisir.
“Merasa bahagia karena itu suatu kejutan besar dan ayah sudah sejak 3 tahun terakhir kembali makan nasi, dan kadar glukosanya normal kembali,” kata Dinda panggilan panggilan akrabnya. (***.metrotabagsel)

Comments

Komentar Anda

One comment

  1. bagaimana ,klau bahan2x obat herbal,yang ditemukan,gyta adinda ini,dipublasikan,saya rasa ,jauh lebihbermamfaat,jangan sampai apa yang selama ini,ia,temukan adalah:,karya ilmiah,oranglain,

Silahkan Anda Beri Komentar