Home / Dakwah / Aisha Roberson: Islam Bukan Milik Bangsa Arab

Aisha Roberson: Islam Bukan Milik Bangsa Arab

Musim panas tahun 1991, Aisha Roberson menemukan ajaran Kristen di dalam Alquran. Ini dilakukannya selama dua tahun, sebelum akhirnya ia memutuskan menjadi Muslim. Alhamdulillah. “Aku menemukan kebenaran dalam Alquran. Aku baca surat Al-Maidah ayat 82-85. Ini menguatkan kerinduanku menjadi Muslim,” kenang dia seperti dilansir onislam.net, Rabu (20/11).

Aisha mengalami perubahan drastis dalam hidupnya selama menjalani perkuliahan guna mengejar gelar master. Di sana, ia bertemu dengan beberapa Muslim, dan akhirnya menjadi pembimbingnya mencari kebenaran. “Aku tidak pernah benar-benar menerima ajaran Kristen sebagai cara berkomunikasi dengan Allah. Entah mengapa, ketika saya meminta paparan konsep tentang trinitas, tak ada jawaban yang memuaskan,” kata dia.

Selama itu, ia banyak alokasikan waktu untuk berpikir dan merenung. Ini dilakukannya dengan harapan dapat menemukan jawaban yang dicarinya. Lalu muncullah Islam. Aisha tak banyak mengetahui informasi tentang agama ini. Satu hal yang dialami banyak masyarakat Amerika. “Satu hal yang berkesan tentang Islam dan Muslim adalah toleransi. Ini yang mendorongku mempelajari Islam,” kata dia.

Setiap Muslim, kata dia, begitu tanpa beban ketika menjalani rutinitasnya. Mereka dapat melaksanakan shalat di mana pun, termasuk di udara. Mereka membawa dirinya dengan baik.

Setahun berlalu, ia semakin tertarik dengan Islam. Sebuah selebaran tentang ajaran Kristen yang membahas masalah Islam memperkuat ketertarikannya itu. Disebutkan dalam selebarannya itu, populasi Muslim di seluruh dunia mencapai satu miliar. “Yang membuatku terkejut, satu miliar itu bukan orang Arab saja,” kata dia.

Selanjutnya, ia kaji Alquran terjemahan dalam bahasa Inggris selama tiga hari. Kesan yang didapatnya, Islam merupakan cara hidup yang merujuk pada kesimbangan antara keadilan dan rahmat. “Aku memutuskan mencari tahu tentang agama ini,” kata dia.

Niatannya itu membawanya pada pertemuan dengan anggota Asosiasi Mahasiswa Muslim (MSA). Di sana, ia mendapat banyak informasi, baik dari diskusi maupun literatur Islam. “Mereka tidak pernah memaksaku memeluk Islam. Mereka begitu terbuka, hingga aku merasa nyaman,” ucapnya

Tak lama, Aisha pun mengucapkan syahadat. Ia begitu bersemangat melaksanakan shalat dan mengenakan hijab. Ia sadar tak mudah bagi orang lain menerima keputusannya itu. Begitu pula dengan keluarganya. “Tapi Alhamdulillah, Allah SWT mempertemukanku dengan teman-teman yang baik. Kini, hari burukku sebagai Muslim lebih baik ketimbang hari-hari terbaik ketika aku masih non-Muslim,” ucapnya.(rmol)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar