Home / Pendidikan / Aksi Pengarakan Bendera Merah oleh PAM Unair

Aksi Pengarakan Bendera Merah oleh PAM Unair


Aksi Pengarakan Bendera Merah Sepanjang Putih 54 Meter dan Penutupan jalan Airlangga depan pintu masuk kampus B Unair selama 54 Menit 54 detik. Aksi yang di pimpin koordinator aksi Dani Samuel ini mengambil Angka 54 yang merupakan simbol nasionalisasi Unair tahun 1954.
*
Kawan-kawan sekalian, beberapa waktu ini telah dilangsungkan
proses verifikasi data maba Unair yang diterima lewat jalur SNMPTN. Bagi
sebagian mahasiswa yang tidak lolos SNMPTN banyak yang memilih seleksi jalur
mandiri agar bisa masuk Unair, tentunya dengan resiko biaya masuk yang lebih
“sensasional” daripada jalur SNMPTN. Walaupun sampai saat ini tidak ada
transparansi mengenai kebenaran defisit anggaran Unair, skema baru kenaikan
biaya dengan sistem proporsional yang tetap sangat memberatkan para
mahasiswa baru, masih tetap di jalankan.

Hal tersebut terbukti ketika para mahasiswa baru melakukan
verifikasi data (bukan pendaftaran ulang) yang menentukan besaran nominal
yang di harus di bayar mahasiswa baru dengan sistem proporsional tersebut.
Banyak orang tua mahasiswa baru yang mengeluh dengan sistem tersebut yang
tetap saja membebankan biaya SP3 (Uang Gedung) yang sangat mahal kepada
mahasiswa. Apalagi pembayaran SP3 ini harus tunai dan tidak boleh dicicil,
sehingga beberapa orang tua mahasiswa merasa keberatan untuk melunasinya.
Bilamana orang tua mahasiswa tidak mempunyai uang, pihak birokrasi Unair
hanya memberikan tawaran agar para orang tua meminjam uang dari bank untuk
melunasi biaya masuk tersebut. Inilah wajah kampus Unair yang katannya *Pro
Poor * (Pro keluarga miskin), sangat arogan memaksa calon mahasiswa untuk
membayar di luar kemampuannya.

Berdasarkan kondisi diatas, kami kemudian membuat aksi simbolis
Pengarakan Bendera Merah Putih 54 Meter. Bendera sepanjang 54 meter ini
adalah untuk melambangkan tahun diresmikannya Unair oleh Presiden pertama
Indonesia Bung Karno, yang sejarahnya berasal dari dua lembaga pendidikan
kolonial Belanda bernama NIAS dan STOVIT yang dinasionalisasi oleh para
pejuang kemerdekaan untuk kepentingan rakyat di sektor pendidikan.

Aksi simbolis ini bertujuan untuk mengingatkan kembali bahwa
nasionalisasi Unair tahun 1954 bukanlah ingin menjadikan kampus Unair ini
sebagai kampus yang mahal, namun menjadikannya kampus yang terjangkau oleh
semua kalangan rakyat. Namun sayangnya, amnesia sejarah ternyata masih tetap
terjadi. Terjadi permufakatan jahat antara Rezim Neoliberal SBY-Boediono,
Menteri Pendidikan Nasional dan Pejabat struktural Unair, untuk menggadaikan
kampus Unair kepada kaum pemodal dan tiga setan dunia (IMF, World Bank,
WTO). Rasa kebangsaan yang digembor-gemborkan dalam Kongres Pancasila di
Unair beberapa waktu lalu, ternyata tak lebih hanyalah pepesan kosong, tak
terwujud di lapangan.

Oleh karena itulah, dalam aksi damai ini kami dari Forum
Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga menyatakan sikap :

1. Menuntut kepada Pejabat Unair, Menteri Pendidikan Nasional dan
Pemerintahan SBY-Boediono untuk segera membatalkan kenaikan biaya pendidikan
di Unair karena kebijakan tersebut adalah simbol pelupaan dan pengkhianatan
sejarah perjuangan nasionalisasi Unair dari tangan Kolonial Belanda.

2. Kasus kenaikan Biaya SP3 di Unair semakin menunjukkan tentang
bahaya neoliberalisme Pendidikan yang pasti akan di ikuti dengan kenaikan
biaya kuliah, Pemadatan Kurikulum, pungutan liar dalam dunia pendidikan.

3. Hancurkan Neoliberalisme yang terbukti hanya akan membawa
keuntungan bagi segelintir orang dan sebaliknya akan menyengsarakan banyak
orang.

Kawan di Tanah Unair ini tertulis sebuah cerita tentang perjuangan
gigih anak bangsa untuk menasionalisasi aset Kolonial Belanda menjadi milik
rakyat Indonesia. Di tanah Surabaya ini ! tertulis cerita, dulu tahun 1945
arek-arek Surabaya dan Rakyat Jawa Timur tidak pernah takut serta mundur
menghadapi gempuran kaum kolonial Sekutu. Di tanah air Indonesia ini ! tentu
masih sangat terasa bagi kita semua bau anyir ceceran darah dari para
pejuang kemerdekaan. Jadi sekali lagi kami serukan kepada kawan-kawan
sekalian, *“Jangan pernah takut dan mundur dalam melawan penjajahan gaya
baru di Universitas Airlangga maupun di Indonesia umumnya”*.
*Juru Bicara FAM Unair*

* *

*Angela Sima Nariswari Mahasiswa Kedokteran Unair
08385566400*

*Albertus Beny Mahasiswa Farmasi Unair
085732584042 ***

* *

*NB : FAM UNAIR juga membuka “Posko Gerakan Merah Putih 1954” bagi
kawan-kawan yang ingin bersolidaritas mengumpulkan bendera dan pengaduan
kasus bagi kawan-kawan mahasiswa baru terkait kenailkan SP3. Bertempat di
depan perpustakaan kampus B Unair dan Depan Auditorium Kampus C Unair. *

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar