Home / Seputar Madina / APBD 2013 Belum Merangsang Agribisnsi

APBD 2013 Belum Merangsang Agribisnsi

Wawancara dengan: Dia Ulhaq Nasution, Sekretaris HIPMI Madina

Dia Ulhaq 120213

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Mandailing Natal tahun 2013 oleh banyak pihak belum menyentuh pengembangan sektor swasta, terutama agribisnis.

Pagu-pagu dana belanja terlihat lebih menajam ke program pendidikan gratis dan kesehatan gratis, infrastruktur dan lainnya.

Lalu, bagimana sebenarnya gambaran agribisnis ini dan implikasinya terhadap pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat? Berikut ini hasil wawancara Dahlan Batubara dari surat kabar Tondinta dengan Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Madina, Dia Ulhaq Nasution, pekan lalu di Terminal Print, Panyabungan.

BAGAIMANA APBD 2013 DARI SUDUT PANDANG HIPMI?

Biacara APBD, kita melihat belum banyak bergerak ke arah kebijakan yang mendorong pertumbuhan sektor agribisnis. Di kalangan masyarakat Madina ini aktivitas cendrung lebih ke arah agribisnis. Tapi belum mampu mengangkat potensi ini ke kancah nasional. Kita cendrung menjual bahan mentahnya saja.

AGRIBISNIS YA?

Ya, pemkab harus serius mendukung dan mendorong pertumbuhan agribisnis ini, misalanya cengkeh, kulit manis dan kopi. Jangan hanya bahan mentah dikirim, pengolahannya juga harus di Madina. Keuntungan pertama, selain akan berdampak pada nilai tambah, juga akan banyak menyerap tenaga kerja. Kedua, pendapatan asli daerah akan naik dari sisi pajak dan retribusi, juga sisi kunjungan wisata juga akan meningkat.

POTENSI APA YANG PRIORITAS?

Dari sisi potensi, Madina memiliki banyak. Hanya saja kita perlu prioritaskan yang unggulnya, misalnya kopi. Secara nasional saja kopi mandailing itu diperhitungkan. Dan di dunia internasional terutama Eropa, kopi mandailing sangat populer. Dari sisi wisata tentu juga akan berdampak bagus karena keterkenalan label kopi mandailing.

APA YANG DINGINKAN HIPMI?

Yang kita inginkan, bagaimana produksi kopi ini lebih giat lagi dan ditangani secara serius di Madina. Pihak terkait harus memulainya. HIPMI juga memiliki kewajiban moral di sini dan memiliki fungsi dan tujuan serta kewenangan. Karena HIPMI memiliki jaringan secara nasional yang tentunya memiliki tanggungjawab bagi pengembangan sektor swasta di Madina.

BAGAIMANA SISI SDM?

Sumber daya manusia memang masih sangat kurang. Namun, jika kita terus memacu mengembangkannya, niscaya SDM di Madina akan makin mantap. Dalam rangka ini HIPMI bisa membantu pemerintah daerah, apalagi jaringan HIPMI memiliki ahli-ahli di bidang ini.

APA SAJA ITU?

Misalnya tehnik budidaya mulai dari penguasaan tanah, alam, pembibitan, hama, penyakit dan sifat tanaman. Hingga proses panen, industri pengolahan dan strategi pasar. Nah yang kita pertanyakan adalah mau nggk bupati menyisihkan alokasi anggaran untuk sektor agribisnis ini? dan kuat tidak political will ke arah ini.

TENTU INI PENINGKATAN LAPANGAN KERJA?

Ya. Ini akan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Pada aktivitas budidaya banyak membutuhkan tenaga kerja. Begitu juga di tingkat pengolahan biji dan kegiatan pemasaran, semuanya akan menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit.

APA SAJA YANG DIMAINKAN PEMKAB?

Pertama, lahan. Lahan di Madina cukup luas yang kosong. Pemerintah harus membuka jalan ke sentra-sentra pengembangan perkebunan. Mislanya di Panyabungan Timur, mereka itu sudah lama berbudidaya kopi. Namun, masalah infrastruktur jalan selalu menjadi kendala.

INI POTENSI TENTUNYA?

Ya, mereka memiliki potensi dari sisi jiwa tarung. Ada potensi semangat untuk maju dari bertanam kopi. Tidak bermental bantuan. Ini potensi yang sangat bagus. Harus didorong lebih jauh agar terus berkembang.

BISA LEBIH JAUH TENTANG PANYABUNGAN TIMUR?

Ya, perkebunan kopi mereka berhasil. Tapi, mereka menjualnya ke Medan dengan harga yang ditentukan pihak Medan. Dan Medan ini hanya perantara, lalu menjualnya lagi ke pihak ketiga atau pabrik sebagai pihak terakhir.

APA YANG DIHARAP DARI PEMKAB SECARA SPESIFIK?

Dari sisi APBD, bupati dan DPRD seharusnya satu persepsi betapa pentingnya pengembangan ini. Pernah saya usulkan pembentukan sebuah forum dibawah naungan HIPMI. Forum yang akan mendorong perkopian, baik dari sisi SDM, budidaya dan pengolahan serta strategi pasar.

TENTUNYA KERJASAMA DENGA PEMKAB?

Peran APBD mislanya tentang pelatihan-pelatihan budidaya, pengolahan, strategi bisnis. Selain itu pemerintah juga harus mengupayakan lahan yang memadai. Apa salahnya pemkab, seperti perusahaan lain memberikan modal kepada petani, tapi petani nantinya menjualnya kepada pemerintah juga, diwakili HIPMI bisa, Kadin juga bisa.

BUKANKAH SELAMA INI ADA KELOMPOK YANG DIBINA PEMKAB?

Ada. Cuma hanya dikasih alat dan buku panduan. Misalnya, saya kalau hanya dikasih alat dan buku panduan, tidak ada prosedur kerja dan mekanismenya, saya bakalan tak bisa, pasti gagal.

LALU APA KONSEP HIPMI?

Nah disinilah perlunya keterlibatan HIPMI. Peran pembinaan SDM, arah dan tujuan usaha. Setiap usaha, apalagi di sektor swasta ini membutuhkan jiwa bisnis, jiwa tarung. Bukan diberikan alat saja. Pemasarannya seperti apa, targetnya bagaimana, dan yang dihasilkan harus seperti apa.

SUDAH PERNAH DIKORDINASIKAN DENGAN PEMKAB?

Kita sudah beberkan kepada Disperindag. Katanya mereka siap bantu. Tapi kan tidak seperti yang kita harapkan. Berdasar penelusuran kita di lapangan, petani itu mengeluh, mereka bingung soal pasar lalu terjebak pada tengkulak.

CONTOHNYA?

Coba kita lihat di Simpang Banyak (pengolahan biji kopi). Itu bantuan pemerintah. Tapi mereka masih disitu saja.

KENAPA BISA BEGITU?

Nah, selain alat, tentu harus ada upaya penguatan ilmu bisnis. Selain itu, pemerintah daerah harus selektif memilih siapa saja yang cocok untuk dikembangkan, bukan kelompok dadakan. Tetapi petani yang memiliki jiwa tarung.

BEGITU YA?

Gini lho, di Mandailing Natal ini, untuk program tertentu begitu habis anggarannya maka putus hubungan kerjanya. Nah, ini lah harusnya pemerintah daerah mengajak HIPMI ikut terjun. HIPMI siap kok ke lapangan, HIPMI siap bercocok tanam, siap membantu.

APA YANG DITAWARKAN HIPMI?

Himpi siap mengembangkan, siap memantau. Sedikit saja fasilitas diberikan pemerintah daerah, HIPMI siap pengembangan ini.

KITA KEMBALI KE NILAI TAMBAH, BAGAIMANA GAMBARANNYA?

Jika agroibisnis ini maju, maka nilai tambahnya bagi Kabupaten Mandailing Natal sangat besar. Contoh, kita punya produk khas. Di Madina ini banyak produk khas tapi tidak dikembangkan. Sekarang ini, daerah lain mengenal daerah tertentun karena produknya, negara lain mengenal negara tertentu itu karena produk. Kita mengenal Jepang karena Honda, kita mengenal Arab Saudi karena buah kurma, kita mengenal Bukit Tinggi karena produk keripik sanjai. Madina apa yang kita kenal.

Oleh karenanya, di HIPMi ini kita ingin menggalang semacam persaingan daerah yang lebih kuat. Maknya saat ini kita coba dari sisi agribisnis, kopi. Kopi ini sangat bagus di mata internasional, kopi mandailing. Hanya butuh polesan sedikit.

KAITAN DENGAN PENDAPATAN DAERAH BAGAIMANA?

Keuntungan untuk daerah, seandainya kita memiliki produk ciri has, wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara akan masuk ke Mandailing Natal. Kita akan banyak dapat devisa dari situ. Contoh, label kopi mandailing luar biasa terkenalnya di ratusan negara. Jika kita memiliki satu kecamatan yang memiliki kebun kopi yang tertata dan didesain sedemikian rupa, maka wistawan lokal dan internasional pasti datang.

HARAPAN HIPMI?

Bupati dan SKPD harus selektif mana saja sih yang perlu dibenahi. Kita daerah agrikultur, bukan daerah industri. Subur kok tanah kita. Tiap daerah punya tanaman ciri khas masing-masing. Kita hanya butuh pengembangan.***

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar