Home / Editorial / ATAS NAMA GALUNDUNG

ATAS NAMA GALUNDUNG


Ada banyak kata ternyata yang mati, zaman melupakannya. Tapi ada juga banyak kata yang kembali terpilih, karena zaman tak melupakannya. Sebutlah “galundung” sebuah idiom yang tiba-tiba meneror pola perhatian kita. Ia bukan sekedar alat pemecah batu. Kalau hanya itu, ia tidak akan lebih hebat dari palu, martil, “indalu” atau “batu panggilingan”, meskipun dalam konteks fungsi yang sama. “Galundung” berwibawa karena konteks sosialnya. Ia adalah kata bagi pertanda “harapan” atau lebih tepat “impian.” Impian bahwa dengan galundung nasib kita akan berubah hari ini. Dan kita suka mimpi itu, karena dalam mimpi gairah kita dibangunkan. Sama dengan judi, kita suka bukan karena permainnya, tetapi pada impian selama proses judi, bahwa dalam beberapa detik kita akan bermetamorfosa menjadi “Sutan” atau selamanya “Setan.”
Begitulah semua impian! Tentu saja! Siapa yang tak suka keajaiban! Tuhan memang pemilik segala nasib, tetapi impian kita yakini dapat membuat nasib berubah (dengan atau tanpa restu pemiliknya, siapa yang masih peduli).
Aha, besok kita bangun langsung menjadi orang kaya. Hari ini adalah akhir dari kekumalan, akhir dari kemiskinan, keterpurukan, akhir dari seseorang yang tak dianggap, seseorang yang selalu menelan air liur dan menahan emosi setiap kali kita sebagai rakyat dicorengi.
Galundung dan logam mulia yang diberinya adalah awal dari kehidupan kita sebagai rakyat akan diakhiri. Kita lahir menjadi seseorang: suaranya bukan hanya pelengkap pilkada. Ucapan kita bisa menjadi hukum, karena kita lah pemilik baru ruang keadilan. Bukan hanya suara hakim yang bisa kita beli, bahkan juga suara keadilan.
Betapa enak menjadi pemilik nilai. Betapa enak menjadi sumber inspirasi bagi orang miskin, karena setelah ini, orang miskin akan ingin menjadi seperti saya juga! Karena itu, dalam lobang yang berpuluh-puluh meter, dalam keyakinan bahwa semakin dalam semakin dekat ke ajal dan semakin bergantung kita kepada keajaiban Tuhan, dalam keyakinan akan ada karunia bergumpal-gumpal emas, dalam keyakinan bahwa tak mungkin Tuhan tidak memberi kita limpahan rezeki seperti yang diberikannya kepada penggali lain (bukankah Tuhan tak mungkin dendam kepada kita?), dan dalam berbagai impian lain, sekalipun dengan mempertaruhkan nyawa kita! Nyawa, ah siapa yang peduli. Enak mati muda, begitu kata Soe Hok Gie, tokoh muda yang senantiasa mengilhami para penggagas perubahan. Kita tak ingin mati sia-sia, karena itu kita pertaruhkan segalanya untuk satu dua lubang yang kita impikan akan segera mengubah hidup kita!
Oleh : Askolani Humas DPRD Kabupaten Mandailing Natal

Comments

Komentar Anda

One comment

  1. Mimpi di celah lobang dan galundung, ku pasrahkan ajal demi meraih asa.. Tapi terkadang, keringat yg membanjiri ubun sampai kaki mengalirkan imaginasi kelapangan rizki akhirnya terhambat di simpang jalan oleh preman berseragam polisi dan TNI.. ^_^ teganya..!!!!

Silahkan Anda Beri Komentar