Home / Seputar Madina / Banyak Desakan Produksi Film “Biola Namabugang 2”

Banyak Desakan Produksi Film “Biola Namabugang 2”

Film “Senandung Willeam” Butuh Setting Asli Tahun 1800-an
Panyabungan (MO) – Sutradara film “Biola Na Mabugang”, Askolani Nasution, Jum’at (17/2) mengakui bahwa saat ini banyak desakan untuk lebih dulu meluncurkan film “Biola Namabugang II” dan membelakangkan produksi film film “Senandung Willeam”.
Desakan itu berdasar banyaknya publik yang menunggu lanjutan kisah hidup Maliki dan Hanapi. Selain itu pertimbangan pasar tentu saja. Film “Biola Namabugang I” memang diluar dugaan bisa mendominasi pasar, bahkan pihak percetakan kalah cepat dengan laju pemasaran cd film tersebut . Cetakan kedua bahkan habis 2 ribu keping dalam waktu 2 jam saja, dan itu pembelian tunai.
“Saya sebenarnya lebih ingin langsung menggarap film “Senandung Willeam”. Selain karena skenario sudah siap, tinggal bedah buku, juga saya yakin lebih menciptakan satu trend baru,” tutur Askolani.
Dikataknnya, film “Senandung Willeam” sendiri bersetting tahun 1860-an, ketika Mandailing masih amat ‘jadul’ dan melibatkan pemerintahan Netherlands Indie (mulai dari tingkat Gubernur Jenderal, Inspektur Pendidikan Boemi Poetra, Gubernur Militer Sumatera, Asisten Residen Mandailing Angkola, noni-noni Belanda yang hilir mudik berkuda dari Panyabungan – Tano Bato, karnaval, dan lain-lain).
Ada juga adegan romansa dengan setting alam Mandailing yang masih bersahaja. Sarat sejarah, adat, dan budaya. Secara umum menggunakan bahasa Indonesia. Tujuannya agar bisa ternikmati penonton yang bukan penutur bahasa Mandailing. Tentu juga bahasa Belanda.
“Bahasa Indonesia yang kita gunakan relatif menggunakan akses Melayu,” katanya seraya melanjutkan bahwa pilihan itu berdasar pertimbangan sosiolinguistik saja.
Rencana syuting “Senandung Willeam” ditaksasi membutuhkan dana besar. Pasalnya setting aktivitas di sekolah yang didirikan Willem Iskander, membutuhkan gambaran lengkap. Dibutuhkan dana untuk membangun sekolah berdinding bambu beratap rumbia 3 dimensi di daerah Desa Pangkat Kecamatan Lembah Sorik Marapi.
Lokasi Desa Pangkat memenuhi syarat untuk setting alam yang amat mendukung: luas, sabana, sawah, kerbau, danau, hutan tropis, kontur tanah yang bergelombang, beberapa species ekosistem lahan pertanian, sepi, dan dukungan sudut kamera yang lentur.
“Untuk perkampungan kita rencanakan di Sibanggor (rumah tradisional beratap ijuk, batu-batu besar, kabut, tanah berkontur, dan dukungan kuda). Ada jalan setapak di antara sawah, cocok untuk sepeda ontel yang akan digunakan tokoh utama,” ungkap Askolani.
“ Kita memang masih ragu, apakah tokoh utama akan menggunakan celana panjang, sebab celana panjang baru ditemukan tahun 1830, sepuluh tahun sebelum tokoh utama lahir. Di beberapa arsip video kolonial yang kami temukan, beberapa tokoh belanda ada yang menggunakan celana panjang, ada yang pendek selutut. Makanya kita mesti bedah skenario dulu. Tentang ini kita memohon dukungan semua teman-teman,” katanya. (dab)

Comments

Komentar Anda

5 comments

  1. Kalau tokoh Willem Iskandar menggunakan celana pendek kayaknya seperti apek apek tapi itu kesanbelakangan yang penting pesan yang disampaikan mestinya sampai daripada Willem Iskandar pakai sarung , tapi itupun sarung yang kasar mirip kain dari karung goni. asalkan jangan ada yang robek sarungnya kalau robek apa kata Dunia nanti.

  2. Filem ” Biola Na Mabugang 3 atau Tias ni Bugang parth 1 telah saya tonton , memang hebat dan ceritanya sangat menggugah , sewaktu adengan pergi ke pasar( poken ) banyaklah yang mereka lihat orang berjualan barang barang keperluan sehari hari tapi kadang kadang terdapat adengan lucu seperti dialog antara masyarakat yang sedang istirahat di pinggir pasar semacam markombur menceritakan tentang kejelekan orang lain memang seperti adanya yang timbul di masyarakat contohnya perbincangan mereka ” angkang ligi jolo baba ni anak boruan bo tongkin nai masuk mei antingano so binotoia ” dilog seperti ini biasa di masyrakat kita , tapi bagi yang jarang mendengar ucapan seperti ini mungkin terasa kasar atau terasa kurang berpendidikan, . contoh dialog lain ” Ligi jolo angkang adun bo Si Nasution na marjagal ubat Purogos i dei mungkin madung maruba jagalon nia sannari ” dan banyak lagi dialog yang lucu kalau dipikir pikir kemudian seperti Japantak membeli kue Sagu di pasar dan memberikannya kepada kedua anak asuhnya itu Maliki dan Safi’i, dalam dialog tersebut Safi’i ber ucap ” Namangolu doon uida naron di doitna muse iba ” kata safi’i sambil memperhatikan kue Sagu yang terbungkus di tangannya itu, lalu di cobanya untuk mencicipi kue tersebut seraya berkata kepada abangnya “taboan pado Tarutung ” katanya . Banyak sekali kejadian kejadian sewaktu mereka di pasar tersebut maklumlah karena baru pertama kali ini mereka berdua ikut ke pasar dan ramainya orang di pasar mata Safi’i liar dan kadang dia melihat orang orang yang di cintainya selama ini seperti si Karen yang dulu pernah bersama mereka sewaktu di Hutan begutu juga nasib Ibu mereka yang hilang seakan perasaan mereka akan ketemu lah dengan ibu mereka di pasar seramai ini, dan tidak di sangka sangka mata maliki tertuju kepada serang perempuan separuh baya walaupun masih samar samar dan mereka berdua pelan pelan ingin mendekati perempuan separu baya itu dan lama lama semakin dekat dan cepat langkah mereka itu hendak bertemu dengan perempuan muda tersebut akhirnya mereka berdua berlari sambil berteriak memanggil ibu mereka dan Japantak pun turut mengejar dari belakang tetapi apa akhirnya sampai di ujung kebun mereka tersadar bahwa yang dicari mereka hampa belaka. mugkin secra fsycologis hal semacam itu dapat saja terjadi karena menanggung beban kerinduan yang sangat terhadap ibu mereka yang sampai saat ini belum bertemu. kira kira demikianlah secuil kisah dari filem Biola Na Mabugang 2 Tias Ni Bugang parth 1. Memang asyik juga menonton filem ini dan yang tak kalah serunya adalah dialog dalam bahasa Mandailing yang kalau di terjemahkan ke dalam bahasa yang lain tidak seru lagi mungkin hilang rasa dari cerita yang akan di sampaikan tersebut seperti dialog dalam berjual beli di pasar penjual Aronduk ngomong singkat mengenai harga arondul tersebut ketika Mary Janet membeli sebuah tas atau Aronduk di jawab si penjual ” tolu ratus tip tip ” katanya dan mary janet pun mengasih uangnya berlebih seraya ber ucap ” ini uangnya kembaliannya ambillah sama bapak saja ” kata singkat , dan sipejual pun geleng geleng kepala dan ngomong sendiri enak kali kalau kayak dia pembelinya katanya ” Boru Lubis dei ning rohangku anak borui ” katanya kepada pembeli yang lain.

  3. dalam filem Biola Na Mabugang ini baik dialog dari masyarakat tidak terlepas dari 3 kajian :
    1 . Orang Mandailing yang biasa disebut orang Na incak .
    2. Orang Mandailing biasa disebut orang Na gut-gut.
    3. Orang Mandailing biasa disebut orang na Jais ( Jutek ).
    dari ke-3 kajian ini di timpakan ke suku kita Mandailing tempo dulu tetapi dengan bangkitnya perfileman yang di dengungkan oleh saudara Askolani dan teman -teman nanti baru bisa kita jawab ketiga idiom ( ungkapan ) tersebut lewat filem tentunya karena tempo dulu generasi orang tua kita tidak bisa meng counter tuduhan semacam itu, dan ketika Willem Iskander masih hidup ungkapan yang menyatakan orang mandailing yang gut-gut pun hampir tak kedengaran, maka mari kita buktikan nanti bahwa hypotesa itu tidak berdasar.

  4. Sorry saya silap :
    Idiomatik yang selalu di tuduhkan ke suku kita andailing ada 3 macam ;
    1. Gut-gut di mandailing , 2 Incak ( mencaci ) di mandailing, 3 Kikit ( pelit ) di mandailing, zaman dulu sekitar tahun 1960 an kalau ada orang mandailing yang agak maju sedikit maka dari suku lain di luar mandailing selalu ber ucap : ah Manipol do huida i, katanya. atau ada Kepala Sekolahnya bermarga Misalnya marga Nasution dikota besar pula punya suatu gagasan disebut pula lah itu gagasan dari Mandailing polit. atau gagasan dari group Gut-gut Mandailing.

  5. Filem Biola Na Mabugang2 atau Tias ni Bugang par 1 , menurut saya pesan yang di kemukakan kadang terlalu berlebihan saya khawatir nanti setelah filem Mandailing ini tersebar luas tinggal menerima umpan baliknya Mandailing , seperti kita lihat dalam Tias Ni Bugang part 1 ini dimana tokoh utama Maliki dan Syafi’i kertika mau mandi di pancuran terlihat mereka mencoba memakan sabun, dan di jelaskan oleh anak kecil itu sabun untuk pembersih daki di tubuh , yang membingungkan penulis adalah jangan sampai Etnik lain berpikir bahwa orang mandailing segitu parahnya baca kolot tentang informasi sabun pun tidak tahu. sedangkan sabun sudah lama sekali populer baik di tanah air maupun di Dunia.

Silahkan Anda Beri Komentar