Home / Berita Sumut / Batak Hasil Konstruksi Kolonial

Batak Hasil Konstruksi Kolonial

Para peserta Focus Group Discussion di VIP Restoran Hotel Madani, Senin (23/10/2017) bertajuk Mandailing bukan Batak

Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Mandailing bukan Batak yang berlangsung di VIP Restoran Hotel Madani, Senin (23/10/2017) diselenggarakan oleh Yayasan Madina Centre mencuatkan kajian-kajian akademik antropologis tentang fakta-fakta tidak adanya etnis Batak di Sumatera Utara.

Dari sisi pendekatan antropologis menyimpulkan tidak ditemukannya konsep ‘Batak’ pada manuskrip-manuskrip kuno kepunyaan enam etnis Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing dan Toba.

Bahkan, konsep ‘Batak’ tidak dikenal di setiap masyarakat keenam etnis itu sejak prakolonial. Dan justru “batak” dinilai sebagai hasil konstruksi kolonial Belanda dalam memperkuat kepentingan eksistensi kolonisasi. Sehingga “Batak” adalah ahistori.

Hadir dalam FGD peneliti dan sejarawan Dr Phil Ichwan Azhari, antropolog Prof Usman Pelly, dan juga peneliti Pussis Universitas Negeri Medan (UNIMED) Erron Damanik serta puluhan peserta dari berbagai kalangan serta kalangan wartawan.

Di dalam diskusi itu, sumber ilmiah dicuatkan dalam membedah “Batak” itu, mulai dari catatan-catatan Tiongkok era prakolonial, catatan-catatan Eropa era prakolinial serta hasil-hasil penelitian para sejarahwan dan pakar-pakar antropologi.

Kesimpulan Focus Group Discussion itu juga sejalan dengan artikel Edward Simanungkalit, pamerhati sejarah yang meramu berbagai hasil penelitian antropolog dan dimuat di sopopanisioan.blogspot.com.

Disebutkan, di tahun 2013, Balai Arkeologi Medan mengadakan survey dan ekskavasi di seluruh Kabupaten Samosir dan mereka menemukan bahwa corak budaya yang dominan di sana adalah peninggalan budaya Dongson dan mereka memperkirakan usianya sekitar 600 – 1.000 tahun atau tidak lebih dari 1.000 tahun.

Temuan ini membantahkan Sianjur Mulamula dan Si Raja Batak versi Belanda yang tidak lebih dari 1.000 tahun.

Ini menjadi permasalahan, karena situs-situs arkeologi di dekat tanah Karo, Simalungun dan Mandailing sudah lebih dari 1.000 tahun.

Pembuktian antroplogis ini menegaskan bahwa Mandailing/Karo/Simalungun jauh lebih tua dibanding umur Si Raja Batak.

Kecerobohan konstruksi kolonial Belanda yang menciptakan sosok Si Raja Batak dan Sianjur Mulamula itu dapat dipahami karena pada masa itu kecanggihan ilmu pengetahuan belum tinggi sehingga memaksakan mitos masih mudah diterima kaum yang berada di pegunungan.

Dalam penelitiannya di arsip misionaris Jerman di Wuppertal sejak bulan September 2010, Dr. Ichwan Azhari, sejarawan dari Unimed, dalam tulisan hasil penelitiannya berjudul: ”Konstruksi Batak dan Tapanuli di Dalam Ruang Administratif di Sumatera Utara Sejak Abad 19” (2011) menuliskan tentang keraguan para missionaris Kristen menggunakan kata “Batak” untuk kawasan pedalaman Toba.

Keraguan para misionaris itu dikarenakan kata “Batak” itu tidak dikenal oleh orang “Toba” ketika para misionaris datang dan melakukan penelitian awal.

Tetapi, pada tahun 1878 lembaga kantor pusat missionaris Jerman di Barmen mengeluarkan peta resmi misionaris yang dicetak dan disebarluaskan berbentuk buku berjudul Mission Atlas (1878). Dalam buku ini terdapat delapan peta yang di antaranya berjudul “Die Sudlichen Batta-lander auf Sumatra” (Tanah Batak Selatan di Sumatra). Judul-judul peta “Der Nordlichen Battalander Die Sudlichen Batta-lander” ini merupakan titik awal konstruksi “Batak Utara” dan “Batak Selatan”  yang dilakukan para misionaris Jerman yang dipakai pemerintah kolonial Belanda dan konstruksi itu berpengaruh sampai saat ini.

Fakta ini menunjukkan, konstruksi muslihat “penciptaan Batak” itu melibatkan para missionaris dari Jerman yang diterapkan oleh kolonial Belanda.

Sementara itu, raja-raja Panusunan dari Mandailing Godang dan Mandailing Julu telah pula menerbitkan petisi Mandailing Bukan Batak. Petisi itu ditandatangani di Sopo  Godang Kotasiantar, Panyabungan, Mandailing Natal, Sabtu (21/10/2017).

Petisi itu akan dikirim kepada pemerintah pusat dan lembaga-lembaga negara. Para Raja-raja Panusunan melahirkan petisi itu sebagai upaya mempertegas jatidiri dan eksistensi bangsa Mandailing yang telah lama memiliki peradaban jauh berabad-abad sebelum kolonial Belanda mengkonstruksi Batak.

Editor : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar