Home / Artikel / “BULAN BUNG KARNO”

“BULAN BUNG KARNO”

 

Oleh : Moechtar Nasution

“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat dan menggelorakan samudera, agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita” (Ir. Soekarno)

Soekarno adalah nama yang melegenda, nama yang termashur dan tersohor ke penjuru dunia. Lelaki yang penuh kharismatik ini begitu terkenal karena ide dan gagasan besar yang diusungnya – yang tidak hanya brilian ketika masa itu namun sampai sekarang banyak peninggalannya yang sulit untuk ditandingi. Dan ini bukan hanya berlaku di Indonesia semata, ketokohannya sebagai pemimpin diakui banyak negara Eropa, Amerika, Asia dan Afrika bahkan mungkin satu-satunya kepala negara yang dengan lantang keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-bangsa. “Go to hell your aid” teriaknya lantang ketika itu memprotes ketidak adilan negara adidaya.

Tak terhitung berapa banyak nama jalan diluar negeri yang ditabalkan dengan nama besarnya, pun juga dengan nama-nama gedung kebanggaan, bahkan menjadi nama mesjid. Konon, penghijauan dipadang pasir tandus Mina dan Arafah, tempat umat Islam melaksanakan rangkaian ritual ibadah haji juga merupakan ide brilian dari sosok orator ini. Mereka menyebut pohon-pohon yang rindang dan hijau ini dengan nama pohon Soekarno. Dan masih sangat banyak lagi penghargaan dan penghormatan yang diberikan negara-negara lainnya kepada Presiden pertama republik ini.

Lelaki dengan penampilan parlente ini sangat punya andil besar kepada republik tercinta. Teramat besar jasanya, selain sebagai proklamator kemerdekaan, Bung Karno juga menjadi simpul pengikat kebersamaan bangsa dalam usaha merebut kemerdekaan. Dan, yang paling dirindukan dari sosok orator ini adalah pidato-pidatonya yang mampu menggetarkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Laksana singa podium , dia tampil memukau, memikat, bergelora, berkobar dan berani. “Kita mendirikan satu negara “semua buat semua”, bukan satu negara untuk satu orang, dan bukan juga negara untuk satu golongan” sebut Soekarno ketika itu.

Bung Karno, putra sang fajar diusia mudanya sudah berbicara tentang nasionalisme dan kemerdekaan. Dia mengobarkan api anti imprialisme hingga menjalar kepelosok nusantara. Karena kegigihannya maka penjarapun silih berganti menjadi langganannya dan ini bukanlah sesuatu yang membuatnya gentar malah sebaliknya semakin menempa jati diri Soekarno muda. Didepan pengadilan Landraad, Bandung, 18 Desember 1930, dengan berapi-api Bung Karno membacakan pledoi dengan judul “Indonesia Menggugat” yang berisikan penderitaan bangsa Indonesia akibat kolonialisme.

Soekarno dijatuhi hukuman penjara 4 tahun. Tidak lama kemudian, dia dipindahkan kepenjara Sukamiskin, yang dikonotasikan sebagai penjara tempat tahanan politik. Setelah menjalani hukuman dua tahun, dia dibebaskan namun pada tahun 1933 Gubernur Jendral De Jonge memerintahkan penahanan dirinya kembali karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintahan Belanda. Soekarno bukan hanya ditahan dibalik jeruji penjara, namun diasingkan dari kancah pergerakan yang sangat dicintainya. Dia dikucilkan dan dibuang ke Flores tepatnya di Ende, sementara Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir dibuang ke Boven Digul. Dipulau yang terpencil ini, Soekarno banyak memiliki waktu untuk berkontemplasi. Dihalaman rumah tempatnya ditahan, Soekarno sanggup duduk bersandar pada sebatang pohon berjam-jam lamanya. Dibawah pohon sukun yang berdiri kokoh diatas bukit menghadap lautan, Soekarno menyendiri memikirkan nasib bangsanya. Dan konon disitu pula datang inspirasi baginya tentang lima dasar falsafah hidup yang kemudian dikenal dengan nama Pancasila. “aku tidak mengatakan bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai kedasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah” sebutnya.

Soekarno hampir lima tahun berada di Ende dan setelah itu menuju tempat pembuangan berikutnya di Bengkulu pada tahun 1938. Disinilah, Bung Karno bertemu dengan Fatmawati yang kelak dikenal sebagai penjahit bendera pusaka Merah Putih.

Sejak Indonesia diproklamasikan menjadi negara yang berdaulat tanggal 17 Agustus 1945, Belanda tidak mau tinggal diam. Dengan kekuatan militernya, Belanda melancarkan agresi sehingga Kota Yogyakarta bisa direbut. Tanggal 19 Desember 1948 Presiden Soekarno yang dikenal dengan julukan “penyambung lidah rakyat” ini dan beberapa pimpinan sipil lainnya tetap tinggal dikota sementara panglima besar Soedirman memutuskan untuk memimpin perang gerilya. Belanda kemudian menangkap dan membuang Pemimpin Besar Revolusi ini ke Brastagi selanjutnya ke Prapat. Tanggal 27 Desember 1949, tidak lama setelah dipindahkan ke Bangka, Indonesia memperoleh “pengakuan” kedaulatan sebagai hasil dari pelaksanaan Konfrensi Meja Bundar yang dilaksanakan di Den Haag.

Soekarno sejak muda memang sudah ditempa dengan penderitaan akibat pilihan politiknya. Penggiat diskusi ini kerap menjadikan semua tempat perkumpulannya sebagai ajang untuk berdialektika guna mempertebal semangat nasionalismenya. Tjokroaminoto, Pemimpin Sarekat Islam merupakan mentor politik yang sangat mempengaruhi diri Soekarno. Dia menyebut rumah Tjokro sebagai “dapur revolusi Indonesia” karena dirumah inilah dirinya berkenalan dengan banyak tokoh politik dan pergerakan kemerdekaan. Dia bertemu dengan Hi Hajar Dewantara, Alimin, Karto Suwiryo dan yang lainnya. Kelak terbukti pengalaman di rumah Tjokro inilah kemudian yang banyak mengubah perjalanan hidupnya. Dia menjadi sosok yang diperhitungkan dan kemampuan berkomunikasi yang dimilikinya mampu menghantarnya sebagai singa podium Asia.

Bung Karno bisa “menyihir” rakyat Indonesia melalui pidatonya yang menggelegar bahkan mampu menggerakkan suatu sistim.    Dengan berapi-api dia berpidato dilapangan Ikada (Monas), dia mampu “memaksa” masyarakat secara sadar untuk tetap setia memilih Soekarno/ Hatta atau Muso pada saat meletusnya pemberontakan PKI di Madiun, dia juga mampu menggerakkan kesadaran para perwira menengah Angkatan Darat untuk berikrar setia dan kembali kepada pangkuan NKRI setelah perang terhadap PRRI/ PERMESTA dikumandangkan. Begitu juga semasa perang dengan gerombolan DII/ TII seperti Kahar Muzakar, Kartosuwiro dan lainnya. Kartosuwiryo sendiri adalah teman lama Soekarno yang pernah sama-sama “mondok” di rumah Tjokroaminoto di Surabaya namun jalan hidup mereka berpisah ketika Soekarno memilih jalan politik berdasarkan kebangsaan, sebaliknya Kartosurwiryo memilih jalan lain berdasarkan agama.

Lelaki yang pertama sekali memperkenalkan peci sebagai identitas nasional ini mampu mengobarkan semangat nasionalisme masyarakat untuk bersama-sama berperang dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia dan juga perang Trikora dalam rangka pembebasan Irian Barat ketika itu. “Inggiris kita linggis, Amerika kita setrika” ucapannya ini mampu menghipntotis masyarakat sehingga secara sukarela menjadi relawan perang.

Dan yang paling menakjubkan, Bung Karno tidak hanya berjuang untuk bangsanya sendiri. Dia adalah tokoh dunia yang sangat berani dalam membela bangsa-bangsa tertindas, utamanya di Asia dan Afrika. Dia sangat disegani kawan dan lawan dalam pentas diplomasi dunia internasional. Dengan gagah berani, dalam Sidang Umum PBB tahun 1960 dengan tegas dia menyampaikan pidato yang berisikan kritikan tajam dan sangat pedas tentang kinerja dan struktur PBB yang didominasi negara Barat. Dia memimpikan pembangunan dunia baru (To Build The World New).

Bung Karno mampu mengobarkan semangat bangsa-bangsa lain untuk melawan imperialisme dan kolonialisme Barat. Ditengah ancaman perang dunia ketiga yang ditandai dengan ketatnya persaingan antara Blok Barat dengan Blok Timur, Soekarno membuat gerakan penyeimbang dengan melahirkan Gerakan Non Blok (GNB) bersama dengan Presiden Gamal Abdul Nasser, Mahatma Gandhi dan lainnya. Pun hal yang sama dilakukannya untuk menggalang solidaritas antara sesama negara Asia dan Afrika, digelarlah Konferensi Asia Afrika untuk pertama sekali melahirkan kesepakatan yang diberi nama Dasa Sila Bandung. Dalam bidang olahraga, dia juga berhasil melaksanakan GANEFO (olimpiade negara Asia-Afrika).

Bukan tanpa hambatan Soekarno memimpin bangsa yang baru diproklamasikannya bersama Hatta. Setidaknya Bung Karno pernah mengalami enam kali percobaan pembunuhan mulai dari peristiwa Cikini yang ditandai dengan pelemparan granat sewaktu Soekarno hendak meninggalkan Sekolah Dasar Cikini tanggal 30 November 1957 sampai kepada tembakan ketika Soekarno sedang sholat Idul Adha dihalaman Istana ditahun 1962. Pernah juga dalam perjalanan menuju gedung olahraga Matoangin, saat berada dijalan Cenderawasih, Makassar terjadi pelemparan granat sebanyak tiga kali dan penembakan terhadap Istana Merdeka oleh Letnan Udara Daniel Maukar dengan mempergunakan peswat terbang MIG-17.

Siapa yang tidak kenal dengan tugu monas yang menjadi icon perjuangan Indonesia melawan penjajahan? Siapa juga yang tidak mengenal tugu Pancoran dan banyak lagi tugu-tugu lainnya di Jakarta yang merupakan ide beliau, pun juga dengan stadiun olahrga Gelora Bung Karno yang merupakan stadiun terbesar ketika itu

Dalam buku yang berjudul “Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams” karangan seorang wartawan berkebangsaan Amerika Serikat dia berkeinginan beristirahat diantara bukit berombak, mendambakan bernaung dibawah pohon rindang yang dikelilingi alam nan indah, dan disamping sungai dengan udara segar. Namun diusia senjanya, Soekarno yang pernah memimpin revolusi republik ini dan menjabat presiden selama 20 tahun ini justru diasingkan dari kehidupan yang digelutinya selama ini. Soekarno menjalani apa yang disebut sebagai “penjara psikologis” atau tahanan rumah di Wisma Yaso yang selalu dijaga ketat militer. Soekarno tidak boleh bepergian kemanapun dan tidak boleh tinggal dengan keluarganya bahkan tragisnya tidak diberi pengobatan yang layak ketika sakit.

Pasca penumpasan G 30 S/ PKI, Soekarno yang pernah dijebloskan selama 2 tahun dipenjara, diasingkan selama 8 tahun ditempat-tempat terpisah oleh kolonial Belanda dan pernah mengalami percobaan pembunuhan sebanyak 6 kali dikucilkan rezim yang berkuasa. Pelan namun pasti perannya mulai dipinggirkan bahkan sosok yang pernah memproklamirkan kemerdekaan dan memimpin pergerakan revolusi bangsa akhirnya malah ”dijajah” oleh negara yang dia perjuangkan dengan mati-matian. Kisah tentang Soekarno adalah kisah tentang kelebihan dan kekurangan anak bangsa. Soekarno juga adalah kisah memilukan tentang pemimpin bangsa yang penuh dengan derita diakhir sisa hidupnya. Soekarno, pemimpin besar revolusi itu tak berdaya menghadapi hegemoni penguasa dan akhirnya lemah tak berdaya sampai ajal menjemputnya. Ditengah kesunyian dia menghembuskan nafas terakhir.

Kendatipun Soekarno sudah meninggalkan dunia, namun gagasan besar Soekarno tetap selalu abadi dan tidak akan pernah bisa mati. Dia tetap dikenang, tetap dicintai dan tetap dihormati. Rezim boleh berganti namun ajaran Soekarno tetap lestari disanubari bangsa ini. Marhaen dalam pandangan Soekarno adalah manusia mandiri yang tidak pernah menggantungkan nasibnya kepada siapapun. Oleh karena itu, maka benarlah apa yang sering diucapkan Soekarno yaitu berdiri diatas kaki sendiri (berdikari). Banyak gagasan dan ide Soekarno yang perlu terus digali dalam berbagai persfektif karena dia adalah perpaduan dari banyak ilmu. Dia seorang tekhnokrat, seorang seniman, sastrawan, orator, budayawan dan politisi.

Tentu saja, pemaknaan terhadap Bulan Bung Karno ditahun 2015 yang digagas partai wong cilik (PDI-P) harus diapresiasi secara positif karena bisa menghadirkan beragam kegiatan yang kesemuanya didedikasikan untuk kepentingan masyarakat. Ditengah gonjang ganjing perpolitikan, kehadiran Bulan Bung Karno ini diyakini akan bisa mengingatkan kembali bangsa ini tentang nilai-nilai luhur milik nenek moyang kita yang dahulu kerap dijadikan inspirasi pergerakan Soekarno semisal nilai kegotong royongan yang terasa sudah mulai hilang dari aktifitas keseharian masyarakat. Nasionalisme yang selalu hadir dalam setiap pidato Bung Karno hendaknya bisa menjadi sprit dan inspirasi bagi tumbuh kembangnya semangat kebangsaan dan kerakyatan kita dizaman sekarang.

Kita butuh sosok Soekarno dizaman sekarang ditengah krisis keteladanan yang melanda para pemimpin nasional hingga daerah. Kita butuh Soekarno dizaman milinium ini supaya bisa mempersatukan bangsa dari seluruh perbedaan yang ada dan yang bisa merekatkan kembali simpul simpul kebanggaan kita sebagai bangsa yang besar. Kita merindukan Soekarno diabad ini yang bisa memberikan contoh bahwa kepentingan nasional harus didahulukan daripada kepentingan pribadi dan golongan. Kita berharap Soekarno bisa menjelma kembali agar bisa mengajari para pemimpin tentang pentingnya persatuan dan kesatuan sebagai modal dasar pembangunan.

Kita memimpikan Soekarno hadir kembali untuk menegaskan bahwa republik ini diperjuangkan dan berdiri utuh karena kita bukan bangsa yang lembek, dan bukan bangsa tempe tapi bangsa yang bisa berdiri diatas kaki sendiri. Kita membutuhkannya sebagai perekat nasionalisme yang sudah mulai pudar dan luntur. Kita mendamba Soekarno menjelma dalam denyut nadi republik ini supaya kita mengetahui bahwa republik ini dibangun diatas doa, air mata dan regangan nyawa. Kita butuh pemimpin seperti Soekarno yang berani mengatakan hitam adalah hitam dan putih akan tetap putih.Tidak pernah berada diarea yang abu-abu dan samar. Kita merindukan pidato-pidatonya yang menggemuruh, menggelegar, menggelora dan berapi-api karena kita memang bangsa yang ditakdirkan untuk berani menyatakan pendapat kendatipun ditujukan kepada negara adidaya sekalipun.

Berbicara tentang Soekarno berarti berbicara tentang sejarah panjang republik yang kini mendekati usia ke 68. Soekarno berarti cita-cita yang tidak pernah padam. Soekarno berarti semangat yang menyala. Soekarno berarti ekonomi kerakyatan. Soekarno berarti patriotisme pantang menyerah. Soekarno juga berarti revolusi Indonesia. Soekarno berarti anti imprealisme dan kolonialisme. Soekarno berarti Pancasila. Soekarno berarti perjuangan. Soekarno adalah hamparan ide dan gagasan. Soekarno berarti api yang tidak pernah mati. Soekarno adalah lautan ilmu yang tidak bertepi. Soekarno juga adalah inspirasi.

Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan yang mengklaim sebagai penerus ajaran Soekarno tentu harus melihat ini dalam kepentingan nasional dan bukan hanya untuk kepentingan partai semata karena Soekarno sesungguhnya adalah milik bangsa dan milik rakyat. Tidak berlebihan jika Bulan Bung Karno yang digagas partai penguasa ini diyakini akan melahirkan kembali semangat nasionalisme dan patriotisme serta menumbuhkan kembali budaya kesetiakawanan dan kegotong royongan dikalangan masyarakat.

Sepak terjang PDI-P Mandailing Natal dibawah pimpinan Bung Kandar Hasibuan sangat tepat untuk menjadi contoh dalam pelaksanaan Bulan Bung Karno ini. Salah satu kegiatan kecil namun mencerminkan nilai kegotong royongan warisan leluhur bangsa, adalah membantu rakyat kecil yang sedang membutuhkan semisal memberikan bantuan bagi korban kebakaran di kecamatan Kotanopan belum lama ini dan masih banyak lagi kegiatan kerakyatan lainnya seperti safari politik kesegmen masyarakat dalam rangka menjaring aspirasi dan keinginan masyarakat. Dan satu hal lagi yang harus disyukuri bahwa bulan Bung Karno yang tahun ini dilaksanakan bersamaan waktunya dengan bulan Ramadhan 1436 H. Tentunya sangat diharapkan bisa menjadi momentum peningkatan nilai spritual bagi institusi, kader, begitu juga dengan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan bernuansakan religi Islami. Hal seperti ini bukan hanya bisa mencerahkan masyarakat akan tetapi berdampak juga secara positif bagi bangsa sekaligus.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Soekarno, putra terbaik yang pernah dilahirkan rahim bumi pertiwi ini terlepas dari berbagai hal kontroversi yang mengelilingi perjalanan kehidupannya adalah sosok negarawan yang harus ditempatkan secara terhormat karena Soekarno adalah Bapak Bangsa. Ingatlah Soekarno pernah berujar “Jangan sekali kali meninggalkan Sejarah”.***

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar