Home / Seputar Madina / Dahlan Hasan, Mendengar dan Berbuat Bagi Perubahan (bagian 2-selesai)

Dahlan Hasan, Mendengar dan Berbuat Bagi Perubahan (bagian 2-selesai)

Seorang pemimpin dapat disebut sebagai “Community Worker” jika pemimpin tersebut selalu bekerja di tengah-tengah masyarakat, dan bukanlah yang menampakkan sifat elite yang berlebihan, apalagi lupa pada kampung halamannya. Kesan pemimpin yang begitu elite, mutlak harus ditinggalkan. Karena ke depan masyarakat butuh pelayan yang selalu mengabdi untuk kepentingan masyarakat. Yang memimpin proses rekonstruksi dan program kesejahteraan masyarakat. Yang diharapkan di sini adalah dengan selalu berada di tengah-tengah masyarakat, memudahkan bagi elite-elite politik untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.

Bapak Dahlan Hasan Nasution menyadari betul bahwa dengan bekerja di balik meja sambil menunggu laporan dari bawahannya bukanlah sesuatu hal yang efisien untuk mendengarkan aspirasi dari masyarakat. Pola kepemimpinan model ini dalam rentang sejarah peradaban bangsa kerap tidak bersinergi dengan aspirasi masyarakat. Kematangannya terbukti di titik ini. Bahkan tak jarang beliau terjun ke masyarakat tanpa pengawalan SKPD yang terkait, agar bisa lebih mudah untuk berbaur dengan masyarakat tanpa ada rasa sungkan dan segan. Sehingga masyarakat pun lebih leluasa untuk menyampaikan apa yang ada di dalam benak mereka selama ini.

Sejarah adalah pengalaman. Jika kita buka lembaran sejarah kejayaan Islam dibawah pimpinan Umar Ibn Al-Khattab, ra akan kita temukan sifat mengayomi masyarakat yang luar biasa. Umar tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari jika belum melakukan ronda dan mengunjungi rakyatnya untuk memastikan apakah mereka sudah tidur atau masih memikirkan makanan untuk anaknya. Di sinilah terlihat betapa pentingnya mendengar dan berbaur dengan masyarakat agar persoalan yang dihadapi bisa dilihat dan dicarikan solusi secara tepat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau tahu kondisi dan keadaan masyarakatnya. Mereka mau “blusukan” (istilah yang popular sekarang) untuk memastikan dan melihat apa yang rakyat butuhkan. Sehingga rakyatnya tidak takut menyampaikan aspirasinya kepada mereka. Rakyat akan sungkan, malu dan takut apabila pemimpinnya hanya duduk, tanda tangan dan berpidato di depan atau di dalam gedung.

“Blusukan” adalah salah satu cara ampuh untuk lebih dekat dengan rakyatnya dan mendengarkan keluh kesah rakyatnya. Banyak kisah “blusukan” dizaman Umar Ibn Al-Khattab, ra di antaranya :

“Suatu hari Khalifah Umar sedang “blusukan” di salah satu perkampungan, tak diduga beliau mendengar tangisan anak-anak kecil yang sedang kelaparan dari salah satu rumah. Dengan bergegas beliau menghampiri rumah tersebut dan menanyakan kepada ibu mereka, “Wahai ibu, kenapa anak-anakmu menangis seperti ini?” tanya Umar. Sang ibu menjawab, “Kami selama beberapa hari belum makan”. Umar bertanya lagi, “Apa yang engkau masak itu” sambil menunjuk sesuatu di dalam penanak makanan, “Saya hanya memasak air sebagai pelipur kelaparan mereka, apabila mereka sudah capai menangis, mereka akan tertidur dengan sendirinya” jawab ibu tadi. Ibu tadi melanjutkan bicaranya, “Saya heran kepada pemimpin negeri ini, kami yang miskin ini tidak pernah dikunjungi dan tidak pernah diberi kesejahteraan” gumam ibu tersebut. Khalifah Umar pun hanya terdiam dan langsung bergegas pergi ke Baitul Mal (gudang makanan). Khalifah Umar lalu mengambil sekarung gandum dengan digendong sendiri olehnya, salah satu pengawalnya bertanya, “Ya Amirul Mukminin, ijinkan saya membantumu membawakan karung tersebut?”. “Apakah engkau kuat menanggung dosa-dosaku kelak di hari Kiamat sebagai pemimpin umat” jawab Umar, pengawalnya pun terdiam. Setelah sampai di rumah tersebut, si ibu sangat senang bukan kepalang sambil berucap, “Engkau lebih peduli daripada pemimpin negeri ini, siapakah engkau wahai pemuda?”, Khalifah Umar pun menjawab, “Saya adalah Umar yang kurang peduli pada rakyatnya dan barusan engkau terangkan sikapnya tadi”. Si ibu itu pun kaget dan langsung meminta maaf kepada Khalifah Umar bin Khattab.”

Pemimpin yang merakyat bukanlah pemimpin yang bermegah dengan bergelimangnya harta dan dikelilingi para hamba yang selalu menyatakan iya. Pemimpin seperti ini tidak akan bisa bertahan lama disinggasana. Dia akan dihancurkan oleh sikapnya dan orang-orang yang meninabobokkannya. Pemimpin yang dibutuhkan masyarakat adalah pemimpin yang hidup penuh kesederhanaan dan memiliki dedikasi dan pengabdian yang tinggi kepada rakyatnya seperti cerita diatas tadi. Suatu ketika, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya ditemani Anas Bin Malik. Dibarisan belakang mereka, turut hadir pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota keluarganya, Hurmuzan memasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Perhiasan yang bertatah permata melekat di dahi. Sementara mantel sutra yang mewah menutupi pundaknya.Sementara itu sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung disabuknya. Ia bertanya-tanya dimana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. Ia membayangkan bahwa Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar keseluruh dunia pasti tinggal di Istana yang sangat megah. Benaknya mengatakan itu karena nama Umar bin Khattab sedemikian terkenalnya.

Sesampai di Madinah mereka langsung menuju tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahu bahwa Umar sudah pergi ke Masjid sedang menerima delegasi dari Kufah. Mereka pun bergegas ke Masjid. Tetapi tidak juga bertemu Umar. Melihat rombongan itu, anak-anak di Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukan bahwa Amirul Mu’minin sedang tidur di beranda kanan masjid dengan menggunakan mantelnya sebagai bantal seorang diri. Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukan bahwa Umar adalah lelaki yang berpakaian seadanya yang tidur di Masjid itu. Hurmuzan beserta rombongannya nyaris tak percaya, tetapi memang itulah kenyataannya. Sambil berdecak kagum Hurmuzan mengatakan, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan adil, lalu engkau aman dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman”.

Berbicara tentang pemimpin yang merakyat, tentu mesti ada alat yang diposisikan sebagai parameter. Penting bagi rakyat memiliki timbangan untuk menarik kesimpulan apakah pemimpinnya benar-benar merakyat atau pura-pura belaka. Pemaknaan bias terhadap kata merakyat berpotensi menimbulkan pembohongan dan penipuan publik. Pada akhirnya, secara subyektif, sang pemimpin boleh jadi mengklaim bahwa dirinya merakyat. Tapi secara obyektif dan kolektif, rakyat tak sama sekali merasakan bahwa sang pemimpin yang memimpinnya adalah pemimpin yang merakyat.

Satu hal pertama yang penting untuk digarisbawahi, pemimpin merakyat bukanlah pemimpin yang sering sekali mengklaim dirinya sebagai pemimpin merakyat. Mengatakan “Aku cinta rakyat”, “Aku berkawan dengan rakyat”, atau “Aku membela kepentingan rakyat”. Klaim semacam itu tak bisa sama sekali menjadi standar yang dapat menunjukan seorang pemimpin benar-benar merakyat. Pemimpin yang baik pemimpin yang selalu berbuat dan melayani rakyat meskipun tanpa publikasi, kendatipun tidak banyak yang mengetahui dan biarpun tak dikenang. Berbuat karena menyadari itu semua adalah amanah yang harus diemban dan ditanggungjawabi di dunia maupun di akhirat, dan tidak perlu penilaian dari manusia karena sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui segalanya. Umar Ibn Al-Khattab adalah merupakan salah satu cermin pemimpin yang tahu betul bagaimana seharusnya seorang pemimpin. Pemimpin hebat bukan karena fisik, orasi dan namanya hebat. Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mau melihat penderitaan rakyat dan mendengarkan keluh kesah rakyat. Rakyat tidak menginginkan pemimpin yang hanya “ngomong” dan berorasi di luar maupun dalam gedung. Rakyat ingin pemimpin yang mau dekat dengan mereka dan mau mendengarkan rintihan mereka.

Harapan kita tentunya Dahlan Hasan-Ja’far Suheri akan menjadikan kematangan, kedewasaan dan kearifan dari kepemimpinan Umar ibn Al-Khattab tersebut sebagai pembelajaran dan pencerahan kepemimpinan bagi kelanjutan pembangunan Mandailing Natal ke depan. Saatnya kita eliminir pemikiran kerdil yang sering menukik tajam dalam sikap, tingkah laku, perbuatan dan perkataan karena lahirnya pemikiran seperti ini biasanya diembrio dari persoalan-persoalan yang sesungguhnya hanya bersifat subjektif bahkan tidak jarang hanya rekayasa. Maka, berpikir positif mutlak adanya untuk menilai kepemimpinan dalam persefektif apapun dan jenis kepemimpinan seperti apapun. Kita semua adalah pemimpin paling minimal menjadi ayah bagi keluarga yang berperadaban.

Mari kita menilai dengan hati yang bersih dan suci karena penilaian yang lahir dari nurani biasanya akan jernih dan terbebaskan dari kepentingan yang mengitari perjalanan kehidupan manusia. Semoga saja ke depan nanti kita akan selalu bersama membangun negeri yang berkemajuan dan berpradaban ditanah kelahiran ini. “Tiada gading yang tak retak namun retaknya harus bisa menjadi hiasan dan bukan seperti kaca retak yang bisa menimbulkan luka dan perbedaan”. Wallohu aqlam bis shawab.

Perampung     : Tim

Editor              : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar