Home / Seputar Madina / Dahlan Sukhairi : Salam Dua Jari

Dahlan Sukhairi : Salam Dua Jari


Nomor dua telah menjadi angka yang prestisius dalam perhelatan politik dibangsa ini. Ini tentunya menarik untuk dianalisa karena nomor dua telah menjadi icon keberhasilan dan kemenangan jika mengacu pada fakta sejarah pesta demokrasi yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir belakangan ini.

Pasalnya nomor urut dua ini selalu saja berhasil memenangkan pemilu. Mulai dari pasangan SBY-Budiono yang menggunakan nomor urut dua, memenangkan Pilpres tahun 2009 lalu. Bahkan Jokowi-JK, juga menggunakan nomor urut dua.

Diharapkan nomor urut dua ini akan membawa keberuntungan bagi pasangan calon ini. Bagi pasangan Drs.H.Dahlan Hasan Nasution nomor urut dua tersebut mengisyaratkan kelanjutan pemerintahan untuk yang kedua kalinya sehingga program serta visi-misi akan bisa diwujudkan.

“Palalu Na Galang” tagline ini mengartikan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan itu membutuhkan kelanjutan kepemimpinan ditangan orang yang sama, orang yang telah meletakkan dasar dan dia juga yang akan menyempurnakannya. Meskipun tidak boleh menjadikan kondisi politik nasional sebagai acuan, namun sepertinya nomor urut dua menggambarkan kemenangan karena berbekal kepemimpinan yang dilandasi niat untuk menyempurnakan pekerjaan.

Nomor urut dua sebagaimana nomor urut Jokowi saat maju pada Pemilihan Presiden lalu diharapkan bisa menjadi stimulus, pemberi dorongan, dan sugesti politik dalam pemilihan kepala daerah kali ini. Diharapkan jejak kemenangan Jokowi bisa menjadi simbol kemenangan pula bagi pasangan calon ini. Jokowi telah membuktikan itu dan saatnya sekarang kita juga akan membuktikannya dibumi gordang sambilan ini. Semoga jejak Pak Jokowi bisa menjadi titik perjuangan untuk memenangkan pula Pilkada Madina nanti dengan salam dua jari.”

Kalau dilihat kilas balik asal mula adanya “salam dua jari” adalah bermula dari dua jari yang menunjukkan lambang V, yaitu gerakan tangan dimana jari telunjuk dan jari tengah diangkat dan terpisah, sedangkan jari-jari lainnya mengepal. Adapun lambang V ini memiliki berbagai arti, tergantung dari konteks budaya dan bagaimana isyarat tangan itu dipresentasikan. Lambang V ini juga telah digunakan untuk mempresentasikan huruf V di dalam “Victory” atau kemenangan, terutama digunakan oleh tentara di saat Perang Dunia II.

Lambang ini juga digunakan oleh masyarakat Inggris Raya dan ada kaitannya dengan kebudayaan sebagai gerakan ofensif ketika kepalan tangannya menjadi di balik ke dalam dan digunakan juga oleh masyarakat luas untuk melambangkan angka 2 (Dua). Sejak tahun 1960-an, ketika “Lambang V” diadopsi secara luas oleh gerakan counter-culture, hal ini menjadi simbol perdamaian.

Di dalam novel grafis Crecy (2007), seorang penulis Inggris bernama Warren Ellis berkata bahwa “The Longbowman Salute” telah digunakan dari tahun 1346 oleh pemanah Inggris terhadap ksatria Prancis yang mundur setelah the Battle of Crecy. Di dalam cerita ini, kelas bawah Longbowman di tentara Inggris menggunakan tanda tersebut sebagai symbol kemarahan mereka dan pembangkangan mereka terhadap kalangan kelas atas Prancis, yang sejak Norman menaklukkan masyarakat Inggris.

Pada 14 Januari 1941, Victor de Lavaleye, mantan menteri keadilan Belgia dan sutradara Belgian French-speaking broadcast di BBC (1940-1944), menyarankan di salah satu siaran untuk masyarakat Belgia menggunakan V untuk Victoire (victory atau kemenangan) dan vrijheid (kebebasan) sebagai lambang teriakan selama Perang Dunia II.

Di dalam siaran BBC, de Laveleye mengatakan bahwa “para okupan, ketika mereka melihat lambang ini yang dilakukan berkali-kali dan selalu sama akan membuatnya sadar bahwa ia dikelilingi dengan kerumunan masyarakat yang besar yang sabar menunggu saat-saat ia lemah, melihat kegagalan pertamanya.” Tidak lama setelah itu lambang V mulai bermunculan di tembok-tembok sepanjang Belgia, Belanda dan Prancis Utara. Melihat keberhasilan ini, BBC mulai mengkampanyekan “V for Victory” atau dengan kata lain “Salam dua jari untuk kemenangan”.

Di Amerika Serikat, simbol kemenangan diungkapkan dengan menaikan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V dan menekukkan jari kelingking dan jari manis menyentuh ibu jari. Simbol ini  dipopulerkan oleh Richard Nixon. Dua jari berbentuk V juga dapat bermakna “damai”. Arti jari V diartikan dengan damai juga ada di Amerika sejak tahun 1960. Yaitu ketika para demonstran Anti-Vietnam menggunakan simbol ini sebagai tanda perdamaian dan cinta.

Oleh karena itu, nomor urut dua ini, diharapkan akan melanjutkan trend positif dari pendahulunya, sesuai dengan makna yang ditunjukkan “salam dua jari” yaitu perdamaian dan cinta, hal ini mengisyaratkan bahwa dalam pilkada di Kab. Mandailing Natal ini, harus mengutamakan semangat perdamaian tanpa perlu saling mendeskriditkan satu sama lain sehingga tercipta rasa kasih sayang dan cinta, tanpa ada pihak-pihak yang didiskriminasikan. Sehingga dengan etika politik yang santun semangat dari “salam dua jari” yaitu salam untuk kemenangan bisa terwujud.

Akan tetapi untuk mewujudkannya harus penuh dengan perjuangan. Ibarat kata bijak mengatakan bahwa “Hidup adalah perjuangan,” karena dalam hidup akan penuh dengan perjuangan. Terutama bagi mereka yang memiliki cita-cita besar, baik cita-cita pribadi maupun cita-cita dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat seperti yang diperjuangkan oleh pasagan calon nomor urut dua ini. Bagi mereka yang tidak memiliki cita-cita besar, tidak akan mampu melihat bahwa hidup penuh dengan perjuangan. Yang ada di depan mereka hanyalah bagaimana mencari kesenangan belaka. Dan untuk mendapatkan kesenangan itu mereka akan menggunakan segala cara.

Jika kita merasa bahwa hidup penuh tantangan, halangan, rintangan, dan ujian, artinya hidup kita memang penuh perjuangan. kita termasuk orang yang memiliki cita-cita yang tinggi, baik meraih pencapaian yang besar maupun melepaskan diri dari masalah besar yang menghimpit.

Satu hal yang diperlukan dalam perjuangan adalah kesabaran. Pertanyaan yang timbul, bagaimanakah kesabaran dalam perjuangan? Secara singkat, sabar bisa didefinisikan sebagai ridha, tenang, teguh, dan yakin. Sabar bukan berarti diam dan menyerah. Justru orang yang diam dan menyerah bertolak belakang dengan definisi sabar. Rasulullah SAW adalah orang yang paling sabar dan selalu sabar, tetapi beliau tetap berperang, tenang saat menghadapi tekanan, dan yakin bahwa kemenangan akan dicapai.

Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).”

Hal inilah yang selalu diupayakan secara optimal oleh pasangan calon nomor urut dua (Bapak Dahlan Hasan Nasution-Ja’far Suheri), berjuang dengan kesungguhan hati untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat Mandailing Natal meskipun di bawah tekanan dan cibiran. Tetapi mereka selalu sabar untuk mencapai kemenangan karena kemenangan yang diperjuangkan merupakan kemenangan rakyat bukanlah kemenangan individu atau kelompok.

Kita tidak akan pernah mencapai 1.000 langkah jika kita kehilangan kesabaran di tengah jalan. Perjuangan akan memberikan hasil, dan pasti akan memberikan hasil, jika diiringi dengan kesabaran. Namun, pada kenyataanya, kesabaran sering kali melemah. Saat 100 langkah sudah berlalu, rasa letih mulai menghinggapi diri, maka kesabaran bisa saja berangsur turun. Sampai-sampai, orang yang lemah kesabarannya mengatakan bahwa sabar ada batasnya. Sabar terasa begitu sulit. Memang benar, sabar itu berat. Bagi kebanyakan orang, sabar itu memang berat, kecuali bagi mereka yang mempunyai komitmen yang tulus.

Selalu ada do’a di dalam sebuah perjuangan, karena itulah, selain sabar, kita pun diperintahkan meminta pertolongan melalui shalat. Shalat adalah penolong yang tidak akan hilang dan bekal yang tidak ada habisnya. Sabar adalah masalah hati, sementara shalat adalah cara agar kita terus memperbaharui hati kita. Dengan shalat, kita yang lemah ini, akan terhubungan dengan Allah Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa.

Allah bersama-sama orang yang sabar, menguatkan, memantapkan, meneguhkan, mengawasi, dan menghibur mereka. Allah sebagai tempat bergantung, sehingga kita akan terlepas dari keputus-asaan saat menjalani perjuangan. Hidup memang penuh dengan perjuangan, tetapi selama kita bersabar kita tidak perlu takut karena Allah bersama orang-orang yang sabar. “Salam dua jari” “salam kemenangan”

Perangkum      : Tim

Editor              : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar