Home / Artikel / DEGRADASI KUALITAS PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

DEGRADASI KUALITAS PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

 

Oleh : Ennawaty Sari
Mahasiswa STAIM

 

“Engkau Patriot Pahlawan bangsa…. Tanpa tanda jasa…”

Sepenggal lirik tersebut selalu dinyanyikan pada saat  ulang tahun hari guru atau PGRI untuk mengenang pahlawan yang mengemban tugas negara dalam pencerdasan kehidupan bangsa. Begitu besar jasa mereka memang karena dengan merekalah kita bisa menjadi seperti yang sekarang. Karna dengan adanya tenaga pendidik yang berkwalitas tentu akan menghasilkan bibit-bibit unggul yang berkualitas pula. Tapi terkadang ada yang menyelewengkan tugas yang di embannya. Sehingga banyak guru yang tidak tahu apa porsi tugas masing-masing sebagai  seorang guru.

Peran guru sangat penting, dan yang lebih substansial  lagi adalah roh dan jiwa guru karena dia menjadi pusat pembelajaran manusia. Profesi guru sangat mulia dalam kehidupan manusia. Tidak semua mampu menjiwai profesi ini walaupun beberapa tahun terakhir ini produk guru sudah teramat banyak yang dihasilkan lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan.

Isu paling mutakhir dewasa ini tentang pendidikan yang jamak diperbincangkan dalam kajian ilmiah patut untuk disikapi para guru karena menyangkut tentang profesionalisme dan sebenarnya ini sudah sangat lama digenjot pemerintah guna menciptakan mutu dan kualitas pendidikan. Peningkatan kinerja guru jadi diskurs berkepanjangan dikarenakan evaluasi yang dilakukan oleh lembaga penjamin mutu pendidikan banyak guru yang terindikasi memiliki kinerja kurang baik terlebih lebih lagi negara sudah memberikan tunjangan tambahan yang diberi nama serifikasi. Ada beberapa penilaian tentang kinerja guru yaitu professional yakni pedagonik, kepribadian, sosial, spiritual dan leadhership. Ini bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai kinerja guru di negeri ini disamping tentu saja masih dibutuhkan indikator lainnya.

Rendahnya kompetensi guru tentu saja memprihatinkan kita semua. Padahal sebagai profesi yang keberadaanya sudah cukup lama, masyarakat selalu menuntut nilai lebih pada guru. “ Citra guru masa kini adalah potret bangsa masa depan”. Pernyataan tersebut, walaupun ekstrim namun tidaklah terlalu keliru. Guru menentukan masa depan bangsa kita. Ditangan gurulah masa depan bangsa dipertaruhkan. Guru menjadi komponen yang paling penting dalam system pendidikan bahkan menjadi jantung dan simbol pendidikan itu sendiri.

Guru merupakan komponen diterminan dalam penyelenggaraan pengembangan sumber daya manusia (human resources) dan menempati posisi kunci dalam sistem pendidikan nasional. Dampak kualitas kemampuan professional dan kinerja guru bukan hanya akan berkontribusi terhadap kualitas lulusan yang dihasilkan (output) melainkan juga akan berlanjut pada kualitas kinerja dan jasa pada lulusan tersebut (outcome) dalam pembangunan. Dan ini semua bermuara pada kualitas peradaban dan martabat hidup masyarakat, bangsa serta umat manusia pada umumnya.

Namun terkadang tugas mulia ini dicederai dengan banyaknya kasus guru yang terhidang dipublik. Tindakan asusila, kekerasan, pelanggaran hukum adalah sebahagian kecil persoalan dekadensi tugas dan tanggungjawab guru.  Kasus-kasus seperti ini marak terjadi di berbagai daerah. Bagaimana nasib anak bangsa  kedepan kalau cerminan dan citra seorang guru kian memprihatinkan. Tidak hanya di daerah pelosok saja bahkan disekolah yang bertaraf internasional pun masih ada tenaga pendidik yang seperti itu. Pernahkan kita mendengar kasus yang menimpa sekolah berlabel internasional di Jakarta?  Miris memang kalau dikaji lebih dalam tapi lagi-lagi ini fakta yang tidak terbantahkan.

Dunia pendidikan nasional memang sedang  mengalami masalah yang  sedemikian kompleks. Begitu kompleksnya masalah ini, tidak jarang guru merupakan pihak yang paling sering dituding sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan padahal sebenarnya  asumsi demikian tidak semuamya benar, mengingat teramat banyak komponen mikrosistem pendidikan yang ikut menentukan kualitas pendidikan. Namun begitu, guru merupakan salah satu komponen mikrosistem pendidikan  yang sangat strategis dan banyak mengambil peran didalam proses pendidikan secara luas, khususnya dalam pendidikan persekolahan.

Banyak faktor yang menyebabkan mengapa kompetensi guru demikian rendah termasuk didalamnya komitmen pemerintah yang rendah, regulasi terhadap guru yang belum maksimal, tingkat kesejahteraan yang minim, pembinaan dan perlindungan profesi yang belum memadai dan persoalan lainnya. Permasalahan ini langsung maupun tidak langsung akan berkaitan dengan masalah mutu profesionaslisme guru yang belum memadai. Padahal sudah sangat jelas hal tersebut ikut menentukan mutu pendidikan nasional. Mutu pendidikan nasional yang rendah salah satu penyebabnya adalah mutu guru yang rendah.

Selain itu juga ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya profesionalisme guru disebabkan  karena masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh. Hal ini disebabkan oleh banyak guru yang bekerja diluar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga waktu untuk membaca dan menulis guna meningkatkan kompetensi diri tidak memadai. Hal lain juga karena belum adanya standar professional guru sebagaimana tuntutan dinegara-negara maju belum lagi jika kita berbicara tentang banyaknya guru yang setiap tahun dicetak lembaga pendidikan termasuk perguruan tinggi kependidikan.

 Pendidikan nasional kita sudah terlalu lama dikelola dengan konsep non pendidikan. Seperti istilah Winarno Surakhmad “Pendidikan kita dikelola hanya dengan logika pragmatis, logika bisnis, pertimbangan politik praktis, pendekatan otoriter, pengelolaan reaktif, trial-and-eroor dan instan.”. Permasalahan dalam dunia pendidikan tidak akan ada habisnya jika kita memang benar-benar menginginkan terciptanya mutu dan kualitas pendidikan yang semakin meningkat dari tahun ketahun.

Menjadi guru adalah amanah karena hanya diberikan kepada seseorang yang dinilai memiliki kemampuan untuk mengembannya. Amanah untuk mendidik, membingbing, membina, dan mengayomi anak-anak bangsa dengan harapan kelak peradaban bangsa akan semakin maju mengikuti perkembangan dunia global. Untuk itulah kita membutuhkan guru yang amanah terhadap profesinya. Anas bin Malik, sebagaimana dikutip Ahmad dalam Al-Musnad-nya, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Tidak ada iman bagi seseorang yang tidak mempunyai sifat amanah pada dirinya dan tidak ada agama bagi orang yang tidak punya komitment pada dirinya”.

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar