Home / Seputar Madina / Di Madina, Minyak Tanah Langka dan Mahal

Di Madina, Minyak Tanah Langka dan Mahal

Minyak tanah di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) langka. Kalau pun ada harganya melambung hingga mencapai Rp8 ribu per liter. Kondisi ini memaksa warga yang memasak menggunakan kompor minyak beralih memakai kayu bakar.

Salah seorang ibu rumah tangga (IRT) di Desa Lumban Dolok, Kecamatan Siabu, Suryani (24), mengaku, pihaknya kesulitan memeroleh minyak tanah. Padahal, minyak tanah merupakan salah satu kebutuhan pokok sehari-hari.

“Sekitar 200 rumah tangga di desa ini masih menggunakan kompor biasa untuk memasak dan tidak ada yang memakai kompor gas,” kata Suryani, kepada METRO, Selasa (7/9).

Suryani menambahkan, sejak sebulan terakhir seluruh warga terutama IRT kesulitan mencari minyak tanah. Padahal, sebelumnya minyak tanah mudah diperoleh tetapi yang terjadi sekarang warga kehilangan jejak untuk mendapatkan bahan bakar tersebut. Sebenarnya, sambung Suryani, minyak tanah datang ke pangkalan di Desa Lumban Dolok sekali dalam 2 minggu. Namun, banyak warga yang tak kebagian. Oleh sebab itu, warga yang tidak kebagian terpaksa beli di pengecer minyak tanah. Tapi, ironinya harga di pengecer mencekik leher.

“Bahkan pengecer menjualnya Rp8 ribu per liter. Padahal, harga minyak tanah normalnya hanya Rp5 ribu hingga Rp6 ribu per liter,” tuturnya.

Hal senada juga dikatakan Fatimah, IRT Kelurahan Sigalapang, Kecamatan Panyabungan. Menurutnya, untuk memeroleh 5 liter minyak tanah, ia harus menunggu beberapa jam antrean. “Apakah ini memang disengaja oleh orang-orang tertentu yang ingin meraup keuntungan yang lebih banyak, kami tak tahu tapi kami yakin seperti itu,” ujar Fatimah.

Diceritakannya, terakhir kali mendapatkan minyak tanah di Panyabungan sejak 2 pekan lalu dan saat itu juga mereka hanya memperoleh 5 liter. “Saat ini saja kami harus pasrah untuk menukar bahan bakar kami dengan kayu bakar dengan mencarinya keliling ke desa-desa dekat Panyabungan,” terang Fatimah mengakhiri.

Sementara salah satu pengecer minyak tanah di Desa Lumban Dolok, Munawati (42), menambahkan, harga jual minyak tanah naik sebesar itu karena mereka sebagai pengecer pun membeli minyak tanah dengan harga yang cukup mahal. Dan itu didapat berasal dari luar kecamatan, karena dari pangkalan di Kecamatan Siabu tidak ada diperoleh dua hingga tiga pekan terakhir ini. (wan)
Sumber: Metrotabagsel

Comments

Komentar Anda