Home / Seputar Madina / Direktur RSU Panyabungan Perang Mulut Dengan Ibu Kandung Korban

Direktur RSU Panyabungan Perang Mulut Dengan Ibu Kandung Korban

Komisi IV Masih Gagal Mediasi Kasus Mal Praktek

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mediasi yang dilakukan Komisi IV DPRD Mandailing Natal (Madina) terhadap kasus dugaan mal praktek di RSU Panyabungan, masih gagal mendamaikan keluarga korban dengan pihak rumah sakit.

Pertemuan antara Komisi IV, pihak keluarga korban dan pihak RSU Panyabungan di ruang komisi IV, Selasa (7/1/2014) itu tidak saja gagal mencapai titik temu, malah terjadi perang mulut antara Direktur RSU Panyabungan Drg. Bidasari dengan ibu kandung korban menyebabkan situasi pertemuan menjadi panas.

Acara mediasi ini dipimpin Ketua Komisi IV, Martua Nasution,Lc dihadiri anggota komisi Fakhri Batubara, Sofyan Edi Saputra dan Aisah Nafsa. Sementara pihak keluarga koraban dihadiri ibu kandung korban, Hj. Isniar lubis didampingi sejumlah keluarga. Pihak RSU Panyabungan dihadiri Direktur RSU Panyabungan Drg. Bidasari dan dokter pelaku dugaan mal praktik Dr. Ely Juli Suryani Nasution,Sp.P serta tiga petugas RSU Panyabungan.

Pantauan Mandailing Online, perang mulut itu dipicu ucapan Drg.Bidasari dengan tekanan emosi dan keras “pasien miskin, kan pasien miskin do homu i, tai oji do ho (pasien miskin, kan pasien miskin nya kalian, tapi haji nya kamu)” kata Drg.Bidasari ke arah ibu kandung korban.

Kalimat Drg. Bidasari kontan menyulut emosi pihak keluarga. “ulang ungkit-ungkit oji di masalah on. So bisa au oji baen na marjulo-julo do au na jolo, marbengkel ami (jangan ungkit-ungkit haji dalam masalah ini. Saya bisa ber haji berkat arisan nya saya dulunya, usaha kami bengkel,” seru ibu kandung korban.

Perang mulut sempat lama berlangsung. Bahkan Drg. Bidasari sempat menantang keluarga korban membawa kasus dugaan mal praktek itu ke mana pun termasuk jalur hukum, dan RSU Panyabungan siap menghadapinya.

Alhasil, pertemuan itu tak memiliki keputusan dalam menyelesaikan sangketa medis tersebut. Kerena situasi saling emosi, pihak keluarga korban akhirnya menyerahkan kasus ini kepada Komisi IV untuk memediasi kedua pihak pada hari-hari mendatang.

Emosi keluarga korban terhadap Drg.Bidasari terlihat begitu tinggi, dibuktiknan enggannya ibu kandung korban menyalami Drg.Bidasari pada saat acara bersalaman. “Nangkon tu au ho mangido mohop, tu tuhan ma ho mangido mohop (jangan sama saya kamu minta maaf, kepada tuhan saja kamu minta maaf),” ujar ibu kandung korban.

Tetapi, pada akhirnya ib kandung korban masih mau menjabat tangan Drg.Bidasari seraya berkata “ulang songoni be pangkuling mu da (jangan seperti itu lagi bahasa kamu ya)”.

Sikap berbeda terjadi pada Dr. Ely Juli Suryani Nasution. Ibu kandung korban malah memeluk dokter itu seraya berkata “sabotulna ngana ra ami mangaduon ho inang, bahat do manyuru ami mangadu, tai inda ra ami (sebenarnya kami tak mau mengadukan kamu, nak. Banyak pihak yang menyuruh kami mengadu, tetapi kami tak mau),” ucap ibu kandung korban ketika berpelukan dengan dokter itu.

Sementara itu, Ketua Komis IV, Martua Nasution, Lc usai pertemuan kepada wartawan menyatakan bahwa pihaknya akan terus memediasi kedua pihak hingga selesai. Dia melihat bahwa sangketa medis ini masih kuat peluang menyelesaiakannya secara kekeluargaan.

Sekedar mengingatkan, korban bernama Gongga Sari, warga Kelurahan Muara Sipongi, Kecamatan Muara Sipongi, Madina. Almarhumah seorang mahasiswi S2 Universitas Negeri Medan, tutup usia 23 tahun.

Dugaan mal praktek terjadi ketika korban berobat di RSU Panyabungan, dimana setelah mengkonsumsi obat-obatan yang diresep dokter, korban mengalami gejala gatal-gatal serta bintik-bintik merah di sekujur tubuh sebelum akhirnya meninggal dunia di RSU Adam Malik, Medan pada pertengahan Desember 2013.

Peliput /Editor: Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

One comment

  1. mudah2an dpt jalan keluar yg terbaik.

Silahkan Anda Beri Komentar