Home / Seputar Madina / Dua Korban Masih Jalani Perawatan Intensif di RSU

Dua Korban Masih Jalani Perawatan Intensif di RSU

Korban Kerusuhan Base Camp Sorikmas Mining

foto korban base camp naga juangPanyabungan (MO) – Hingga Senin (9/7) belum ada laporan resmi tentang jumlah korban pada kerusuhan pembakaran base camp PT. Sorikmas Mining.

Namun, berdasar laporan yang belum resmi dari Camat Naga Juang, jumlah korban sebanyak 5 orang. Hanya saja jenis luka para korban tidak dicantumkan.

Nama-nama korban masing-masing adalah Kelter, warga Desa Tarutung Panjang, Kecamatan Naga Juang; Khoirun Siregar, warga Desa Banua Simanosor, Kecamatan Naga Juang; Simanungkalit, warga Desa Janji Matogu, Kecamatan Bukit Malintang, Longser Pardede, warga Aek Garut, Desa Huta Godang Muda, Kecamatan Siabu dan Mashuri, warga Kelurahan Simangambat, Kecamatan Siabu.

Nama Rohner Pardede yang masih dalam kondisi kritis di RSU Panyabungan belum masuk dalam laporan tersebut. Rohner mengalami luka bacok di kepala.

Kerusuhan tersebut terjadi Sabtu siang (7/7), Ratusan warga membakar base camp PT Sorikmas Mining di Bukit Sambung, seluruh peralatan dan benda yang ada di dalamnya hangus tanpa sisa.

Bentrokan tak terhindari antara warga dengan pihak keamanan perusahaan. Sementara aparat kepolisian mencoba mengamankan situasi dan meredakan kerusuhan.

Sementara itu, dua orang korban luka tembak dan bacok dalam kerusuhan itu hingga Minggu sore (8/7) masih menjalani perawatan di RSU Panyabungan.

Kelter Daulay, korban penembakan, kondisinya mulai membaik, namun belum diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Dia masih dalam pemulihan akibat luka tembak di bagian paha kanan. Penembakan terjadi saat terjadi bentrok antara warga dengan aparat keamanan.

Rohner Pardede masih dalam kondisi kritis. Dia menderita luka bacok dan luka lemparan batu di kepala. Pihak medis masih merawatnya secara intensif.

Berdasar keterangan Kelter, pemicu bentrokan akibat sikap petugas keamanan base camp PT. Soriikmas Mining yang berlaku kasar terhadap warga yang melakukan penambangan secara liar di sekitar base camp Sorikmas Mining.

Puncak kekesalan warga mereka sasarkan kepada para petugas keamanan perusahaan tambang tersebut yang umumnya berasal dari Ambon, Maluku.(dab/dede)

Comments

Komentar Anda

One comment

  1. Pihak keamanan perusahaan salah kaprah dan gak tau aturan kalau gitu! Yang berwenang menertibkan PETI itu bukan perusahaan tapi pemerintah! Paul willis harus bertanggung jawab atas sikap aparat keamanannya! bertanggung jawab karena kelalaiannya! Penegak hukumpun harus jeli dan objektif menyikapi persoalan ini!

Tinggalkan Balasan ke Sentot Batalkan balasan