Home / Editorial / Dubes di Kamboja Vs Dubes di Kolombia. Beda Citarasa Soal Si “Burung Nazar”

Dubes di Kamboja Vs Dubes di Kolombia. Beda Citarasa Soal Si “Burung Nazar”


Ada dua orang Dubes yang paling disoroti dalam minggu ini. Mereka disorot bukan karena “berhasil” meredam pergolakan pemberontak FARC yang terkenal ganas di pedalaman Kolombia itu, juga bukan karena berhasil membuat gencatan senjata antara Kamboja dan Thailand memperebutkan posisi strategis Kuil Preah Vihear, tapi mereka terkenal karena peranan keduanya dalam kasus “perburuan Nazaruddin” si burung Nazar yang lihai itu.

Dubes RI untuk Kamboja.

Dubes RI untuk Kamboja Soehardjono Sastromihardjo memang memiliki reputasi dan sisi positif serta terobosan dalam menciptakan perdamaian di Kamboja khususnya dengan Thailand. Akan tetapi dalam kaitannya dengan persoalan beberapa orang Koruptor yang menetap beberapa lama di sana memang jelas sekali kurang fokus posisinya. Lihatlah beberapa kasus terkini sebagai berikut :

1. Persoalan Nunun Nurbaeti yang kabur ke Kamboja sejak minggat dari Singapore, sama sekali tidak diketahui oleh KBRI di Pnompenh. Bahkan KBRI kecolongan dengan mengatakan tidak tahu adanya Nunun di Kamboja saat KPK dan Kementrian Hukum dan HAM memperoleh informasi dari Imigrasi Kamboja bahwa Nunun ada di Kamboja sejak 23 Maret 2011. tapi KBRI tidak tahu. Akibatnya pihak Kementrian Luar Negeri juga tidak tahu adanya Nunun di sana karena KBRI tidak mendeteksi atau memberi informasi tentang Nunun.

2. Menurut Patrialis Akbar, meskipun posisi Nunun telah terdeteksi berada di Kamboja tapi pihaknya tidak dapat membawa Nunun ke tanah air karena yang berkompeten terhadap itu adalah petugas keamanan dan imigrasi Kamboja, setelah mendapat perintah dari KBRI. Nyatanya tidak ada perintah atau surat izin dari KBRI kepada pihak kemanan dan imigrasi Kamboja.

3. Memang ada upaya meminta pihak berwenang Kamboja untuk mencari Nunun, yakni melalui surat kepada Kementrian Luar Negeri Kamboja. Tapi surat itu baru dikirim tanggal 9 Juni setelah Nunun terdeteksi berada di Kamboja dan menjadi berita hangat. Surat itu pun -katanaya- terlambat direspon oleh kemnlu Kamboja.

4. Persoalan Nazaruddin yang juga kabur ke Kamboja selama beberapa waktu, juga KBRI tidak tahu. Padahal ada sejumlah orang Indonesia yang menyewa pesawat untuk satu keluarga keluar Kamboja (entah kemana?). Harusnya KBRI memperoleh informasi tentang hal tersebut dari Imigrasi Kamboja. Atau sebetulnya telah memperoleh informasi tersebut akan tetapi didiamkan entah untuk keperluan yang tidak jelas.

Dubes RI untuk Kolombia

Bagaimana dengan Dubes kita di Kolombia? Namanya adalah Michael Manufandu . Ia adalah mantan Walikota Jayapura yang ke dua periode 1989 – 1993. Selama masa baktinya sebagai walikota di Jayapura berbagai kemajuan standard telah dicapai misalnya masalah infrastruktur kota Jayapura. Sebelum namanya tenar dan menjadi perbincangan nasional, pada pertengahan Mei 2011 lalu ia telah mencalonkan diri sebagai kontestan calon Gubernur Papua. Ia masuk pencalonan Pilkada Gubernur Papua atas sokongan partai Gerindra.

Kini namanya berkibar. Mengapa berkibar? Apakah Micahel yang berhasil menangkap Nazaruddin? Tentu tidak karena itu, tapi yang membuat menarik adalah kecekatannya, keterbukaannya dan ketulusannya menangani Nazar dengan tenang dan mengharukan.

Bayangkan saja, ketika Michael mendapat telepon dari KBRI pukul 21.00 waktu setempat bahwa polisi Cartagena memberitahukan ada seorang warga Indonesia dengan nama Syarifuddin dan mirip dengan orang yang paling dicari-cari di Indonesia, ia lantas yakin itu adalah buronan kelas wahid, Nazaruddin.

Untuk memastikan informasi itu Michael menghubungi polisi Kolombia dan mendapat informasi bahwa nama itu termasuk dalam daftar “Public Bribery.” Seketika Michael memutuskan terbang bersama seorang stafnya ke kota Cartagena.

Tiba di kota ini pukul 02.00 waktu setempat. Michael melihat orang itu memang mirip Nazar. Kemudian Michael dan stafnya keluar membeli nasi kotak untuk Nazar yang mengaku sudah lelah dan lapar karena sejak diinteregoasi oleh pihak kepolisian Cartagena pukul 22.00.

Kemudian setelah diinterogasi, Nazar dalam pengawalan interpol Kolombia dibawa ke kejaksaan Kolombia di Bogota dengan pesawat khusus jenis Cessna. Karena muatan terbatas Michael dan staf ke Bandara Internasional Rafael Nunez di Cartagena yang berada sejauh 900 km dari ibukota Bogota.

Di Bogota mereka bertemu kembali. Kepada Micahel sang burung Nazar banyak bercerita tentang upaya untuk meloloskan diri. Meskipun Micahel tidak memancing pembicaraan pada sisi hukum soal pelariannya tapi Michael mendapat informasi penting dari Nazar antara lain :

1. Trafik perjalanannya sejak awal “minggat” dari Singapore terus ke Malaysia, Vietnam, kamboja, Spanyol, Domonica dan akhirnya di Kolombia.

2. Diketahui juga Nazar dan rombongan sudah ada di Kolombia sudah 10 hari sebelum tertangkap.

3. Diketahui juga Nazar yang awalnya mengakau sebagai Syarifuddin ingin berbisnis membeli pesawat di Kolombia.

4. Juga diketahui siapa saja dalam rombongannya termasuk salah satu istrinya.

5. Micahel juga mendapat informasi “isi” dalam tas yang dititipkan kepadanya sebelum Nazar dibawa oleh Interpol. Selain surat-surat, isinya adalah uang (dolar Amerika) dan beberapa buah jam tangan dan Paspor palsu itu. Tas itu kini disegel dan menjadi perburuan penting KPK dan Polri. Tapi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto menegaskan tas kecil itu tidak boleh dibuka oleh siapapun. “Siapapun tidak boleh membuka sampai ada tim yang menjemput,” kata Djoko.

6. Michael juga mendapat gambaran cara pandang Nazar soal sogok menyogoknya yang masih akut, ketika ada upaya Nazar untuk menyogok polisi Kolombia. Tapi Michael menasihati Nazar bahwa masalahnya akan semakin buruk jika itu dilakukan karena polisi di Kolombia sangat profesional dan mencintai pekerjaan mereka.

Apa peranan Michael dalam tertangkapnya Nazaruddin? Apakah Michael lantas bisa disamakan dengan pahlawan? Tentu bukan itu yang diinginkan seoang Michael yang bersahaja. Ia tidak memerlukan julukan pahlawan, akan tetapi tanpa peranannya yang tulus dan ikhlas maka semua pasti akan menjadi runyam. Bayangkan saja apa jadinya jika Michael bersekongkol dengan membela Nazar d hadapan polisi Kolombia?

Atau bayangan saja jika Michael terlambat memberi informasi kepada Kementrian Luar Negeri Indonesia dan kepada KPK serta Polisi? Tapi karena Michael mengetahui bahwa persoalan Nazar adalah persoalan nasional maka Michael tidak akan mengambil resiko apa pun misalnya tidak mau peduli tentang adanya informasi orang Indonesia yang tertangkap di Cartagena.

Lebih gawat lagi adalah jika Michael menyikapi sama dengan sikap KBRI di Kamboja yang tidak tahu menahu atau tidak sigap mendapat informasi adanya orang Indonesia yang menyewa pesawat beramai-ramai keluar dari Kamboja, apa jadinya?

Atau lebih esktrim adalah Michael memberi jaminan keselamatan beberapa waktu di beberapa sudut kota Bogota atau Cartagena bagi Nazar dan keluarganya agar terhindar dari incaran berbagai pihak yang memburunya. Dan ketika keadaan sudah aman barulah Michale mengakomodir pergerakan mereka keluar dari Kolombia lantas ke Venezuela seperti dalam rencana perjalanan mereka? Akan semakin membingungkan tim pemburu dan rakyat yang menanti perkembangan berita tentang Nazar, bukan?

Tapi sekali lagi, itulah Michael. Dia bersama seorang stafnya di KBRI di Bogota telah mempersiapkan rencana dan taktik menghadapi siutasi yang paling buruk sekalipun andaikata informasi keberadaan Nazar di Kolombia misalnya.

Michael terus ikut serta memantau pergerakan dan penyerahan Nazar. Tadi sore pukul 17.00 pihak kejaksaan di Bogota telah menyerahkan Nazar kepada Polisi Kolombia, lalu meyerahkan kepada pihak Imigrasi Kolombia. Selanjutnya pihak imigrasi Kolombia menyerahkan Nazar kepada pihak imigrasi KBRI di Bogota.

Awas fenomena rebutan bang Nazar

Belum juga Nazar tiba di tanah air telah terbang satu tim penjemput Nazar ke Bogota. Tim gabungan tersebut terdiri dari KPK dan Polisi berjumlah 4 orang, dipimpin oleh Brigjen Anas Tusuf telah tiba di Bogota tanggl 8 Agustus 2011 lalu. Mereka ditugaskan oleh Kapolri untuk menerima Nazar dari Imigrasi KBRI di Bogota untuk dibawa pulang ke Indonesia dengan sewa pesawat Khusus.

Diakui oleh Kapolri bahwa Brigjen Anas Yusuf adalah kenal baik dengan Nazar. Kita tidak tahu mengapa mesti kenalan baik Nazar yang menjemput, kemungkinan besar secara psikologis adalah Nazar bersedia dibawa pulang ke tanahair daripada meminta suaka politik di Kolombia misalnya.

Kabar terkini menyebutkan banyak pihak mempertanyakan siapa yang membawa Nazar ketika tiba di tanah air. Timbul lagi pro dan kontra siapa yang lebih dahulu menginterogasi Nazar. Kalangan Partai Demokrat meminta agar Nazar diperiksa lebih dahulu oleh KPK. Kapolri sendiri telah memberi garansi bahwa Nazar akan ditahan di sel KPK lebih dahulu untuk pemeriksaan. Akan tetapi di sisi lain Kapolri mengharapkan proses penyerahan Nazar dengan cara Police to Police agar lebih cepat.

Tidak jelas apa yang dimaksud oleh Kapolri mengapa setelah memberi garansi lantas Kapolri meminta juga agar dipulangkan saja oleh Polisi supaya lebih cepat, alasannya.

Di sisi lain KPK sangat penasaran dengan isi tak kecil milik Nazar yang kini disegel oleh pihak Kepolisian Kolombia sebagai barang bukti. Menurut KPK isi tas Nazar sedikit tidaknya akan memberi signal atau tanda arah apa dan latar belakang apa selama perjalananya. Jadi tas kecil itu sangat menarik untuk segera dibuka. Kita berharap tas kecil itu benar-benar tersegel dan tidak ada upaya pihak manapun juga mencoba mengganti isi tas kecil tadi dengan tujuan dan alasan apapun sebelum dibuka oleh KPK dihadapan Polisi.

Informasi dari situs resmi Kepolsian Kolombia

Muhammad Nazaruddin benar dibekuk di Cartagena, Kolombia. Ia ditangkap pada hari Minggu (7/8/2011) sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Setelah itulah Dubes memperoleh informasi dan menjalankan tugasnya sampai bertemu Nazar sebagaimana disebutkan di atas.

Jika mengacu kepada informasi dari situs resmi kepolisian Kolombia (http://oasportal.policia.gov.co), Nazaruddin ditangkap oleh Interpol yang bekerjasama dengan Badan Investigasi Kolombia (DIJIN), di Bandara Internasional Rafael Nunez di Cartagena. Jadi kronologi yang kita peroleh dari berbagai media massa dan informasi tentang proses penangkapan Nazar tidak persis sama seperti dalam laporan situs tersebut, yakni pada umumnya menyebutkan bahwa Nazar ditangkap ketika sedang kongkow di sebuah cafe menjelang sahurnya dan ia ditangkap oleh polisi biasa yang memantau gerak-geriknya. (Sumber : http://www.tribunnews.com/2011/08/10/ini-penjelasan-polisi-kolombia-soal-nazaruddin Rabu, 10 Agustus 2011 01:17 WIB)

Menurut situs kepolisan Kolombia tersebut, ”Muhammad Nazaruddin ditangkap di Bandara Internasional Rafael Nunez di kota Cartagena. Saat itu dia dan rombongannya akan menuju Bogota. Tujuan ke Bogota adalah untuk menonton pertandingan sepakbola Kejuaraan Dunia U-20 FIFA,” seperti tertuang dalam laporan singkat polisi Kolombia dalam situs tersebut.

Penutup

Ada dua orang Dubes yang paling disoroti dalam minggu ini. Mereka disorot bukan karena “berhasil” meredam pergolakan pemberontak FARC yang terkenal ganas di pedalaman Kolombia itu, juga bukan karena berhasil membuat gencatan senjata antara Kamboja dan Thailand memperebutkan posisi strategis Kuil Preah Vihear, tapi mereka terkenal karena peranan keduanya dalam kasus “perburuan Nazaruddin” si burung Nazar yang lihai itu.

Dubes RI untuk Kamboja.

Dubes RI untuk Kamboja Soehardjono Sastromihardjo memang memiliki reputasi dan sisi positif serta terobosan dalam menciptakan perdamaian di Kamboja khususnya dengan Thailand. Akan tetapi dalam kaitannya dengan persoalan beberapa orang Koruptor yang menetap beberapa lama di sana memang jelas sekali kurang fokus posisinya. Lihatlah beberapa kasus terkini sebagai berikut :

1. Persoalan Nunun Nurbaeti yang kabur ke Kamboja sejak minggat dari Singapore, sama sekali tidak diketahui oleh KBRI di Pnompenh. Bahkan KBRI kecolongan dengan mengatakan tidak tahu adanya Nunun di Kamboja saat KPK dan Kementrian Hukum dan HAM memperoleh informasi dari Imigrasi Kamboja bahwa Nunun ada di Kamboja sejak 23 Maret 2011. tapi KBRI tidak tahu. Akibatnya pihak Kementrian Luar Negeri juga tidak tahu adanya Nunun di sana karena KBRI tidak mendeteksi atau memberi informasi tentang Nunun.

2. Menurut Patrialis Akbar, meskipun posisi Nunun telah terdeteksi berada di Kamboja tapi pihaknya tidak dapat membawa Nunun ke tanah air karena yang berkompeten terhadap itu adalah petugas keamanan dan imigrasi Kamboja, setelah mendapat perintah dari KBRI. Nyatanya tidak ada perintah atau surat izin dari KBRI kepada pihak kemanan dan imigrasi Kamboja.

3. Memang ada upaya meminta pihak berwenang Kamboja untuk mencari Nunun, yakni melalui surat kepada Kementrian Luar Negeri Kamboja. Tapi surat itu baru dikirim tanggal 9 Juni setelah Nunun terdeteksi berada di Kamboja dan menjadi berita hangat. Surat itu pun -katanaya- terlambat direspon oleh kemnlu Kamboja.

4. Persoalan Nazaruddin yang juga kabur ke Kamboja selama beberapa waktu, juga KBRI tidak tahu. Padahal ada sejumlah orang Indonesia yang menyewa pesawat untuk satu keluarga keluar Kamboja (entah kemana?). Harusnya KBRI memperoleh informasi tentang hal tersebut dari Imigrasi Kamboja. Atau sebetulnya telah memperoleh informasi tersebut akan tetapi didiamkan entah untuk keperluan yang tidak jelas.

Terlepas dari metoda dan informasi mana yang lebih benar dalam proses dan kronologi penangkapannya, kenyataannya Nazar telah diringkus dan siap diterbangkan ke tanah air. Untuk itu peranan Dubes kita di Kolombia memang patut diberi apresiasi dan acungan jempol.

Dubes di Kamboja tidak memperoleh informasi apapun tentang Nazar padahal Nazar berada di Kamboja dalam waktu yang lama. Sedangkan Dubes di Kolombia telah sigap dengan mempersiapkan segala sesuatu dengan cermat meskipun ia tidak menduga si burung akan Nazar “hinggap” di Kolombia. Tapi repon dan sikapnya yang cepat, cekatan dan tenang telah mampu membuktikan sang Syarufuddin itu memang benar Nazaruddin si burung Nazar yang menggemparkan dunia persilatan Korupsi di tanah air.

Respon presiden SBY kepada Dubes Kolombia itu adalah mengutamakan keselamatan Nazaruddin hingga tiba di tanah air. Apakah ada tanda-tanda Nazar tidak akan selamat jika sudah tiba di tanah air, atau apakah benar tidak aman jika Nazar langsung berada dalam pemeriksaan KPK?

Demikianlah pembaca budiman perbedaan kedua dutabesar kita di dua kota yang menjadi titik awal perjalan Nazar dan titik akhir perjalanan si burung camar. Mari kita lihat dan nantikan perkembangan selanjutnya.
abanggeutanyo
Sumber : kompasiana.com

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar