Home / Seputar Tapsel / Eddy Rangkuty Minta Tambang Emas Batang Toru Dihentikan

Eddy Rangkuty Minta Tambang Emas Batang Toru Dihentikan

Tapsel. Anggota DPRD Sumut dari daerah pemilihan Sumut IV, Eddy Rangkuty meminta agar penambangan emas di BatangToru, Tapanuli Selatan (Tepsel) dihentikan. Hal itu dikatakan politisi PDIP ini usai reses ke daerah pemilihannya di Tapanuli bagian selatan (Tabagsel).
Ditemui di Kantor DPC PDIP Tapsel, Jalan Mawar, Kelurahan Ujung Padang, Padangsidimpuan, Rabu (8/2), Eddy menjelaskan, apapun alasannya, PT Agincourt sebagai investor harus mengurungkan rencananya memulai penambangan emas pada Maret mendatang.

Sebab, katanya, dalam banyak hal masih terdapat kejanggalan, keanehan, ketidakjujuran, ketidakterbukaan dan hal-hal berbahaya lainnya, terutama jika masalahnya dikaji dari sudut kepentingan masyarakat.

Saat ini, katanya telah berkembang 3 situasi psikologis di tengah-tengah masyarakat Batang Toru dan sekitarnya. Pertama, sikap segelintir masyarakat yang diliputi eforia kesenangan karena sudah lama mendapatkan keuntungan yang berlimpah dari kehadiran perusahaan tambang emas itu.

Kedua, sikap sejumlah kecil masyarakat yang tak peduli dengan kehadiran perusahaan tambang emas tersebut. Ketiga, yang paling dominan, sikap masyarakat yang mulai gelisah mendengar akan dimulainya eksploitasi penambangan emas di daerah mereka.

Rangkuty menuturkan, situasi yang terbilang kritis tersebut sudah makin berkembang sejak akhir tahun lalu. Tapi anehnya pihak perusahaan dan para pemimpin di daerah ini seperti tidak mau tahu dengan suasana psikologis yang dialami masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan pertambangan.

“Nampaknya pihak investor dan penguasa lebih suka mengkaji keuntungan yang akan didapat setelah pertambangan beroperasi daripada memikirkan kegelisahan masyarakat,” keluhnya.
Padahal, kata Rangkuti, dari hasil pantauannya selama mengadakan reses, mulai terlihat adanya gesekan kecil di tengah-tengah masyarakat, yang merupakan suara-suara ketidakpuasan, dibarengi dengan provokasi yang bersifat massif dan sistemik.

“Saya tidak mengerti mengapa seperti tidak ada yang peduli. Apakah semua pihak masih harus menunggu terjadinya situasi seperti di daerah lain seperti Bima,” sebutnya.

Karena itulah ia mendesak agar pihak perusahaan berkenan menghentikan, membatalkan atau setidak-tidaknya mengurungkan ambisinya untuk memulai tahapan eksploitasi pertambangan emas.

“Tak ada jalan lain. Pihak perusahaan harus rela menjadwal ulang rencananya untuk melakukan eksploitasi besar-besaran atas harta kekayaan yang terpendam di Tapsel,” katanya.

Selain itu, ia juga meminta pihak perusahaan dan pemerintah melakukan sosialisasi yang jujur, terbuka dan jauh dari kebohongan. Sebab sosialisasi yang dilakukan selama ini masih penuh dengan intrik-intrik manipulasi, khayalan dan hal-hal berbau kebohongan.

“Jangan sampaikan angan-angan. Itulah sebabnya mengapa harus dilakukan sosialisasi kepada masyarakat. Masyarakat jangan hanya dicekcoki dengan cerita manis dan angin sorga dan dibekali dengan iming-iming keuntungan yang belum pasti. Masyarakat juga berhak tahu hal negatif apa yang akan mereka terima nantinya jika eksploitasi dimulai,” paparnya.

Yang pasti, menurut Eddy, sampai saat ini belum ada usaha pertambangan besar yang membawa kemakmuran bagi masyarakat di sekitarnya. Karena hampir semua keuntungan dari hasil tambang ‘ditelan’ oleh perusahaan dan sebagian diberikan ke pemerintah pusat.

“Yang kita lihat dan dengar hanyalah cerita pahit, kemiskinan yang makin parah, lingkungan yang menjadi rusak akibat dari pengerukan hasil kekayaan alam dan kisah sedih lainnya,” ujar Eddy.
(ikhwan nasution.medanbisnis)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar