Home / Artikel / Etnis Mandailing Di Malaysia

Etnis Mandailing Di Malaysia

lukisan dahlan 081212
Catatan: Dahlan Batubara

Dua kali saya bertemu dengan Prof. Artori Husein, dosen di Universitas Sain, Malaysia. Dia bermarga Lubis dari buyut yang merantau dari tanah Mandailing ke kawasan Rantau Parapat, lalu kakeknya lah yang merantau ke semenanjung Malaka. Kali pertama pada April 2012 dimana saya mewawancarai beliau dalam satu acara interaktif di radio Start FM, Panyabungan. Kali kedua pada November 2012 ketika beliau mengikuti rombongan muhibbah Mandailing Malaysia ke Mandailing Natal.

Di dua kesempatan itu saya mencatat banyak hal tentang keberadaan bangsa atau etnis Mandailing di Semenanjung Malaya atau sekarang disebut Malaysia. Tentunya referensi saya juga dari beragam pustaka dan jurnal-jurnal lembaga peneliti.

Meski belum ada cacah resmi, Prof. Artori menyatakan etnis Mandailing di Malaysia saat ini berjumlah sekitar 600.000 jiwa. Lebih banyak dari penduduk di tanah leluhur Mandailing Natal yang berjumlah 450.000-an jiwa. Hanya saja, etnis Mandailing tidak menumpuk, melainkan tersebar di berbagai negara bagian di Malaysia.

Menurut Artori, terdapat 9 etnis yang berpengaruh di Malaysia, yakni Melayu pesisir Sumatera, Mandailing, Minangkabau, Jawa, Bugis, Banjar, Cina dan India. Ada etnis-etnis lain, tetapi jumlahnya minoritas. Sementara etnis asli adalah suku Semang atau Sakai. Etnis asli ini senasib dengan suku Indian di daratan Amerika yang menjadi minoritas akibat kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke sana. Jika Amerika demikian, maka Semenanjung Malaya didominasi oleh etnis-etnis dari pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa.

Etnis Mandailing di Malaysia meliputi marga Lubis, Nasution, Pulungan, Rangkuti, Harahap, Siregar, Hasibuan, Daulay, Matondang, Batubara, Parinduri, Dalimunte dll. Mereka berasal dari tanah leluhur kawasan Tapanuli bagian selatan meliputi Madina, Tapanuli Selatan, Sidempuan, Sipirok, Padang Lawas, Labuhan Batu.

Etnis Asli Malaysia
Penduduk asli Semenanjung Malaya adalah etnis Semang atau disebut juga suku Sakai. Mereka adalah menduduk asli semenanjung Malaya, dan dicatat telah hidup disana sejak sebelum tahun 200-an. Suku Semang ini masuk dalam grup etnis Negrito dan dideskripsikan sebagai suku nomaden pemburu. Sama dengan etnis Sakai yang ada di Provinsi Riau, Indonesia.

Suku Semang ini juga diduga berhubungan dengan Negrito lainnya, seperti penduduk asli Kepulauan Andaman, dan suku Aeta di Filipina. Namun, bahasa mereka adalah bahasa Aslian dalam famili Mon-Khmer.

Sisa-sisa arkeologis ditemukan di Malaysia Barat, Sabah, dan Sarawak. Semang memiliki leluhur jauh di Semenanjung Malaya, merujuk pada pemukiman pertama dari Afrika, lebih dari 50.000 tahun lalu. Senoi muncul sebagai kelompok campuran, dengan hampir separo silsilah dari garis ibu moyang Semang dan separonya lagi Indocina.

Ini bersesuaian dengan dugaan bahwa mereka mewakili keturunan penutur Austronesia kuno, kaum tani, yang membawa bahasa dan teknologi mereka ke bagian selatan semenanjung kira-kira 5.000 tahun lalu dan menyatu dengan penduduk asli. Manusia Proto Melayu lebih beraneka ragam, dan meskipun mereka menunjukkan beberapa kaitan dengan Asia Tenggara kepulauan, beberapa di antaranya juga memiliki leluhur di Indocina dari zaman Last Glacial Maximum, diikuti oleh penyebaran Holosen-dini melalui Semenanjung Malaya ke Asia Tenggara kepulauan.

Kerajaan Melayu
Semenanjung Malaya berkembang sebagai pusat perdagangan utama di Asia Tenggara, karena berkembangnya perdagangan antara Cina dan India dan negara lainnya melalui Selat Malaka yang sibuk. Claudius Ptolemaeus menunjukkan Semenanjung Malaya pada peta dininya dengan label yang berarti “Golden Chersonese”, Selat Malaka ditulis sebagai “Sinus Sabaricus”. Dari pertengahan hingga akhir milenium pertama, sebagian besar semenanjung, begitu juga Nusantara berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Kerajaan Melayu yang paling awal tercatat dalam sejarah tumbuh dari kota-pelabuhan tepi pantai yang dibuat pada abad 10. Di dalamnya termasuk Langkasuka dan Lembah Bujang di Kedah, dan juga Beruas dan Gangga Negara di Perak dan Pan Pan di Kelantan. Diperkirakan semuanya adalah kerajaan Hindu atau Buddha. Islam tiba pada abad ke-14 di Terengganu.

Pada permulaan abad ke-15, Kesultanan Melaka didirikan di bawah sebuah dinasti yang didirikan oleh Parameswara, pangeran dari Palembang ( Indonesia), di dalam kekaisaran Sriwijaya. Penaklukan memaksa dia dan pendukungnya melarikan diri dari Palembang. Parameswara berlayar ke Temasek untuk menghindari penganiayaan dan tiba di bawah perlindungan Temagi, seorang penghulu Melayu dari Pattani yang ditunjuk oleh Raja Siam sebagai bupati Temasek. Beberapa hari kemudian, Parameswara membunuh Temagi dan mengangkat dirinya sendiri sebagai bupati. Kira-kira lima tahun kemudian, dia meninggalkan Temasek karena ancaman dari Siam. Selama periode ini, Temasek juga diserang oleh serombongan armada Jawa dari Majapahit. Dia kemudian memimpin ke utara untuk mendirikan permukiman baru.

Di Muar, Parameswara berkehendak mendirikan kerajaan barunya di Biawak Busuk atau di Kota Buruk. Mengetahui lokasi Muar tidaklah cocok, dia meneruskan perjalanannya ke utara. Di sepanjang jalan, dia dilaporkan telah mengunjungi Sening Ujong (nama lampau untuk Sungai Ujong modern) sebelum sampai di sebuah perkampungan nelayan di bibir Sungai Bertam (nama lampau untuk Sungai Melaka modern).

Tempat itu lambat laun berkembang menjadi lokasi Melaka masa kini. Menurut Sejarah Melayu, di situlah dia menyaksikan kancil mengecoh anjing ketika berteduh di bawah pohon Melaka. Dia mengambil apa yang dia lihat sebagai pertanda yang baik dan kemudian dia mendirikan sebuah kerajaan yang disebut Melaka, kemudian dia membangun dan memperbaiki fasilitas untuk tujuan perdagangan.

Peralihan agama Parameswara ke Islam tidaklah jelas. Menurut sebuah teori oleh Sabri Zain, Parameswara menjadi seorang Muslim ketika dia menikahi seorang Puteri Samudera Pasai dan dia menyertakan gelar bergaya Persia “Syah”, dengan menyebut dirinya Iskandar Syah.

Era Portugis
Pada 1511, Melaka ditaklukkan oleh Portugal, yang mendirikan sebuah koloni di sana; maka berakhirlah Kesultanan Melaka. Tetapi, Sultan terakhir melarikan diri ke Kampar, Riau, Sumatera dan meninggal di sana. Putera-putera Sultan Melaka terakhir mendirikan dua kesultanan di tempat lain di semenanjung, yakni Kesultanan Perak di utara dan Kesultanan Johor (mulanya kelanjutan kesultanan Melaka kuno) di selatan. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kesultanan Malaka tua, tapi sekarang dikenal dengan nama Kesultanan Johor, yang masih ada sampai sekarang. Setelah jatuhnya Melaka, tiga negara berebut untuk mengambil kontrol Selat Malaka: Portugis (di Malaka), Kesultanan Johor, dan Kesultanan Aceh; dan peperangan berakhir pada 1641, ketika Belanda (bersekutu dengan Kesultanan Johor) merebut Malaka.

Era Kolonial Inggris
Britania Raya mendirikan koloni pertamanya di Semenanjung Malaya pada 1786, dengan penyewaan pulau Penang kepada Perusahaan Hindia Timur Britania oleh Sultan Kedah. Pada 1824, Britania Raya menguasai Melaka setelah ditandatanganinya Traktat London atau Perjanjian Britania-Belanda 1824 yang membagi kepemilikan Nusantara kepada Britania dan Belanda, Malaya untuk Britania, dan Indonesia untuk Belanda.

Migrasi Mandailing
Migrasi etnis Mandailing ke Semenanjung Malaya diperkirakan berlangsung pada abad XIX. Alasan migrasi antara lain akibat prahara perang Paderi, penindasan kolonial Belanda berupa kerja paksa dan pajak, tirani perbudakan oleh raja-raja Mandailing, perang antar kampung, pertikaian keluarga hingga faktor mencari penghidupan ekonomi.

Pengukuhan kekuasaan kolonial Belanda di Mandailing menimbulkan guncangann budaya yang kedua setelah ekspansi Paderi. Guncangan yang paling menonjol ialah menurunnya marwah raja-raja di Mandailing. Pengadilan sebagai lembaga wujud sahala harajaon telah diambilalih oleh penguasa kolonial. Diperparah pudarnya kharisma raja-raja akibat ditugaskan oleh kolonial sebagai pemungut balasting atau pajak kepada rakyatnya sendiri.

Akibatnya banyak raja yang meninggalkan negerinya dan berimigrasi ke tanah Deli dan ada yang ke Semenanjung Malaya. Yang menarik perhatian adalah migrasi ke Semenanjung Malaya yang dipimpin oleh raja-raja dan tokoh-tokoh masyarakat, namora natoras. Mereka meninggalkan tanah leluhur yang rusuh terus. Para tokoh itu adalah Raja Asal, Raja Bilah, Sutan Naposo (Sutan Puasa), Raja Barayun, Raja Barnang, Raja Othman, Raja Ira, Samaripun, Imam Perang Raja Barungun, Imam Peri Handalan, Panglima Raja, Panglima Muda Segara, Imam Perang Sebahgdad, Panglima Muda dan Panglima Perang Malim. Orang Mandailing yang ada di Malaysia sekarang ini adalah keturunan migran awal itu.(Lubis,2001:61/Madina Madani,2004:260)

Selain Kedah dan Selanggor, Perak merupakan tujuan migrasi orang Mandailing. Chemor di Perak merupakan kawasan orang Mandailing. Di dalam situs Proto Malayan diesbutkan “Tentera Paderi telah masuk ke Mandailing melalui Muara Sipongi dan menakluki Penyambungan pada awal 1816. Kemudiannya Belanda pula memasuki Mandailing sekitar 1835, ini telah mengakibatkan banyak dari raja-raja Mandailing yang menentang dan terpaksa mundur dan menyeberangi Selat Melaka dan terus menetap di Semenanjung Malaya.”

Etnis Mandailing memiliki karakter tersendiri, yakni karakter harajaon, kepemimpinan yang kharismatik, tidak rela takluk, memiiliki daya juang tinggi, daya tarung dan etos kerja yang bagus. Nilai-nilai dalam karakter itu sebagai daya dorong migran Mandailing membuka kampung-kampung baru di tanah Semenanjung agar tidak menjadi anak buah.

Jika tak ada peluang membuka kampung, maka orang Mandailing biasanya tampil sebagai pemuka masyarakat di tengah penduduk yang heterogen. Salah satu pemuka yang terkenal adalah Sutan Puasa yang tercatat sebagai tokoh pendiri Kuala Lumpur bersama kapten dari Cina, Yap Ah Loy. Sutan Puasa bermarga Lubis berasal dari Mandailing Julu, Tombang Bustak.

Di era kolonial, etnis Mandailing banyak yang tidak menyebutkan marga di belakang nama, mereka harus melebur dalam komunitas Melayu menghindari tekanan dari kolonial Inggris, sebab kebanyakan orang Mandailing yang tampil menentang kekuasaan kolonial Inggris di tanah Semenanjung. Pasca kolonial, mereka kembali menunjukkan jati diri sebagai Mandailing.

Di era kemerdekaan, tokoh-tokoh Mandailing yang tampil di kancah politik dan pemerintahan Malaysia meliputi Tun Mohammad Haniff bin Omar Nasution (mantan Ketua Polis Diraja Malaysia), Laksamana Dato’ Mohammad Zain Salleh Nasution (mantan Panglima Angkatan Laut Diraja Malaysia), Tan Sri Dato’ Senu Abdurrahman Siregar (mantan Dubes Malaysia Untuk Indonesia dan Menteri Penerangan Kerajaan Malaysia), Datuk Harun Idris Harahap (mantan Menteri Besar Selanggor Darul Ehsan), Tan Sri Dato’ Mohammad bin Haji Mohammad Taib Nasution ( mantan Menteri Besar Selanggor Darul Ehsan dan Naib Presiden UMNO), Tan Sri Dato’ Haji Mohammed Azmi bin Haji Kamaruddin Harahap (Hakim Agung), Dato’ Kamaruddin bin Idris Harahap (mantan Ketua Polis Diraja Malaysia) dan lain-lain yang tak sempat disebut di tulisan ini.

Organisasi yang menghimpun etnis Mandailing di Malaysia termasuk IMMAN (Ikatan Kebajikan Mandailing Malaysia) didirikan pada 1979. Saat ini organisasi yang paling aktif dan terbesar adalah Persatuan Halak Mandailing Malaysia (PHMM) yang dipimpin Ramli Abdul Karim Hasibuan.

PHMM saat ini berupaya menguatkan kembali jati diri Mandailing di Malaysia dengan berbagai program yang diusung. Antara lain pengembangan kesenian gordang sambilan, tortor Mandailing, adat sitiadat Mandailing, penguasaan bahasa Mandailing, merekatkan hubungan emosional etnis Mandailing di Malaysia dengan etnis Mandailing di tanah leluhur.

Kunjungan muhibbah rombongan Mandailing Malaysia ke tanah leluhur pada 22 hingga 27 November 2012 lalu merupakan salah satu poin program PHMM penyatuan persaudaraan Mandailing yang selama ini terpisahkan oleh dua negara. Padomu Na Marotak, Palagut Na Marserak. (dahlan batubara adalah pemimpin redaksi Mandailing Pos/Mandailing Online)

Comments

Komentar Anda

3 comments

  1. Ramli Hasibuan

    Good articles, good writing and good approach in term of telling the Mandailing clan in “leluhur land” to understand our history in Malaysia. Thank you my brother, Dahlan Batubara. We really appreciate it. Padomu na marotak, palagut na marserak.

  2. Hebat . Tarimo kasih info

Silahkan Anda Beri Komentar