Home / Budaya / “Filosofi Bambu”

“Filosofi Bambu”

 

Catatan Pendek : Askolani Nasution

Bambu itu keajaiban buat saya. Dalam kondisi tertentu, bambu muda dapat tumbuh sampai 60 cm dalam 24 jam.

Banyak suku di Asia dan Afrika yang menjadikan bambu sebagai bahan makanan. Dan tak banyak yang tahu bahwa sayur bambu memiliki kandungan Kalium yang lebih tinggi dibanding Brokoli.

Belum lagi berbagai masakan tradisional di dalam ruas bambu. Lemang misalnya. Karena hanya dalam bambu rasanya lebih “nendang”.

Bambu juga mengandung kadar gula yang tinggi, karena itu menjadi incaran banyak hama selama getahnya masih ada. Ia juga menjadi bagian dari seni beladiri. Di kebudayaan Tamil kuno misalnya, tongkat dari bambu menjadi satu seni bela diri.

Tapi keunikan lainnya adalah lekatan kebudayaan yang ada pada bambu. Karena itu kita mengenal istilah “bona bulu”.

Bambu juga dijadikan diary oleh gadis-gadis zaman dahulu. Keluh kesahnya ditulis pada sebilah bambu yang disebut “ratapan”. Belum lagi berbagai anyaman dari bambu, sampai “rinti” tempat “mardege”.

Bambu juga menjadi alat musik, “tulila”, dan lain-lain. Bambu menjadi dinding “Sopo” selama berabad-abad lamanya.

Tapi tahukah Anda? “Bambu yang paling lurus yang pertama di tebang.” Itu menjadi idiom bahwa orang yang lurus selalu dipilih untuk dikorbankan. (Askolani Nasution adalah budayawan)

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.