Home / Seputar Madina / Hidup Sulit Akibat Harga Karet Murah, Anak-Anak Ikut Mendulang Emas

Hidup Sulit Akibat Harga Karet Murah, Anak-Anak Ikut Mendulang Emas

 

KOTANOPAN (Mandailing Online) – Kesulitan hidup ditengah rendahnya harga karet, menyebabkan akan-anak harus ikut mengais rezeki menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Ini di Desa Tombang Bustak, Kotanopan, Mandailing Natal Madina). Kalangan anak-anak, remaja, wanita dan para kepala keluarga, berbaur di antara bongkahan batu dan pasir untuk mencari biji emas di Sungai Batang Gadis.

Selama ini penduduk setempat dan mayoritas warga Madina menggantungkan pendapatan keluarga dari komoditi karet, tetapi akibat harga karet yang jatuh dalam beberapa tahun terkahir menyebabkan mayoritas warga Madina kalang kabut akibat pendapatan dari penjualan karet alam tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Warga Tombang Bustak memperoleh peluang mendapatkan bijih emas dengan cara mendulang pasir di badan Sungai Batang Gadis yang dikeruk alat berat milik PT. Tamiang Karya guna keperluan material bangunan.

Pantuan Mandailing Online, Kamis (21/10), sejak pagi hari saat alat berat mulai beraksi untuk memuat material batu dan pasir ke dalam dump truk, puluhan warga sudah menunggu di sekitar lokasi. Masing-masing di antara mereka  membawa ember, goni plastik tempat manampung pasir. Usai alat berat memuat bahan material ke atas dump truk, sang operator pun mengumpulkan pasir untuk warga.

Tidak berselang lama, wargapun  berebut  mengambil pasir. Pasir itu didulang  untuk memilah biji emas dari biji pasir.

Pendapatan warga bervariasi. Mulai dari 10.000 hingga 300.000 rupiah per hari. Tergantung nasib baik.

Semakin siang, warga yang ikutpun semakin banyak, sebab usai pulang sekolah anak-anak di wilayah ini pun akan ikut mendulang biji emas.

Rusli, salah seorang warga yang ikut mendulang, mengatakan, dirinya sudah hampir dua bulan ikut serta mencari emas di sungai itu.

“Hasil yang didapatkan pun bervariasi, terkadang hanya 50 ribu, bisa 100. Ribu, bahkan pernah 300 ribu, tapi kadang tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Diakuinya, dirinya ikut mencari emas  karena rendahnya harga karet. “Harga karet lagi murah, tidak mencukupi kebutuhan, kita terpaksa mencari pekerjaan alternatif. Keberadaan alat berat ini sangat membantu bagi warga di daerah ini, usai memuat material pasir dan batu ke atas dump truk, si operator mengumpulkan  material pasir dan batu untuk warga,” ucapnya.

Sementara itu, Habibi (12) seorang anak yang ikut mendulang mengatakan ikut mencari emas untuk menambah uang saku dan uang sekolah.

“Untuk menambah uang saku dan uang sekolah, lumayan sehari bisa mencapai  20.000 sampai 50.000.  Setiap pulang sekolah kami datang kemari. Kalau hasilnya banyak, terkadang ditabungkan. Sedangkan orangtua tidak melarang sama sekali,” ujarnya.

Dia harus ikut dengan teman sebayanya mendulang emas, karena orang tua sudah tak mampu memberi uang untuk transportasi dan keperluan sekolah akibat rendahnya pendapatan orang tuanya dari pekerjaan menderes pohon karet.

Peliput    : Lokot Husda Lubis
Editor     : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar