Home / Seputar Madina / Irigasi Sering Rusak, Belasan Petani Gagal Panen

Irigasi Sering Rusak, Belasan Petani Gagal Panen

Rumpun padi di Desa Muara Siambak sedikit menghasilkan bulir akibat kerusakan irigasi

Rumpun padi di Desa Muara Siambak sedikit menghasilkan bulir akibat kerusakan irigasi

KOTANOPAN (Mandailing Online) – Irigasi sering rusak, belasan petani di Desa Muara Siambak, Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal gagal panen.

tepatnya di desa Muara Siambak dan Muara Pungkut Kab. Mandailing Natal gagal Panen. Kondisi ini tentunya membuat petani pasrah di tengah himpitan ekonomi saat ini.

Informasi yang di himpun dari sejumlah petani, irigasi bondar Bariba Tamiang  yang berhulu di Kelurahan Tamiang sejak mulai masa tanam selalu rusak dihantam arus sungai Batang Gadis jika meluap.

“Irigasinya rusak, bayangkan saja sejak padi ini ditanam tiga bulan lalu, baru satu kali dapat air, setelah itu tidak pernah lagi,” ungkap Husin Lubis seorang oetani di Desa Muara Siambak, kemarin.

Akibatnya kondisi padi tidak dapat berkembang. Tinggi tanaman padi hanya sekitar 30 cm, sedangkan bulir padi tidak ada yang muncul. Padahal, biaya yang dikeluarkan para petani untuk membantu perbaikan irigasi dengan cara gotong royong mencapai Rp. 600 ribu per petani. Namun kerusakan hulu irigasi selalu terjadi jika Batang Gadis meluap.

“Kalau irigasi ini bagus, biasanya pendapatan kami mencapi 70 kaleng setiap panen. Namun panen kali ini pendapatannya hanya 5 kaleng (1 kaleng setara dengan sekitar 12 Kg gabah). Jadi ini murni gagal panen akibat ketiadaan air”, ujarnya.

Hasil panen 5 kaleng ini tentunya tidak mampu lagi menutupi biaya perbaikan irigasi yang telah dikeluarkan. Konon pula menutubi biaya produksi sawah, untuk kebutuhan rumah tangga pun tak terharapkan. Belum lagi untuk biaya sewa tanah areal persawahan kepada si pemilik.

“Padahal, panen ini satu-satunya harapan kita untuk stok belanja satu panen kedepan dan untuk biaya menyekolah anak-anak,”tambah Husin.

Hal yang sama juga dialami petani Asrul Sani Lubis. Diungkapkannya, hasil panennya biasanya mencapai 200 kaleng, tetapi di panen ini hanya 10 kaleng.

“Iya, dapatnya cuma 10 kaleng, berarti hilang 90 kaleng. Kami hanya bisa pasrah, habis bagai mana lagi, irigasinya rusak terus saat musim tanam tiba. Perbaikan telah dicoba beberapa kali, namun selalu rusak dihantam banjir,” ucapnya.

Sejauh ini tak diketahui secara pasti luas areal persawahan yang gagal panen. Hanya saja berdasar catatan, terjumlah sekitar 15 petani yang mengalaminya.

Peliput : Lokot Husda Lubis

Editor  : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar