Home / Budaya / Itak Poul-poul Tradisi “Pamijur Danak”

Itak Poul-poul Tradisi “Pamijur Danak”

KOTANOPAN (Mandailing Online) – Warga Mandailing memproduksi itak poul-poul biasanya ketika hajatan “pamijur danak” (harfiahnya menurunkan bayi-suatu tradisi di Mandailing membawa bayi pertama kali keluar rumah).

Sang bayi belum boleh digendong ke luar rumah sebelum usia seminggu. Acara “pamijur danak” dipestakan dengan memproduksi itak poul-poul oleh para gadis dan dibagikan kepada tetangga keluarga si bayi. Itak poul-poul itu juga sebagian disematkan di tali ayunan bayi sebelum digendong ke luar rumah.

Kelezatan itak poul-poul ini dulunya tidak saja diproduksi untuk hajatan “paijur danak”, tetapi juga menyebabkan banyak orang Mandailing memproduksinya untuk dijual.

“Makanan itak poul-poul belakangan ini memang mulai hilang, sangat jarang orang membuatnya sekarang, apalagi menjualnya,” ungkap salah seorang warga Kotanopan, Duski Lubis, Jum’at (16/8/2013).

“Saya masih teringat dulu sekitar tahun 70 hingga 80-an, asal datang tamu ke rumah, makanan yang disediakan adalah itak poul-poul. Bukan itu saja, kalau dulu makanan ini juga digunakan saat pesta perkawinan. Oleh-oleh yang dibawa keluarga penganten laki-laki biasanya itak poul-poul dan kalau daerah lain masih bisa dijumpai itu ketika anak lahir dalam keluarga biasanya dibuatlah itak pooul-poul,” jelasnya.

Namun, menurutnya, sekarang hal itu tidak dijumpai lagi, padahal cara membuatnya tidak begitu susah. Masalahnya mungkin orang sekarang tidak mau repot-repot membuatnya. Akhirnya, jenis makanan ini seperti hilang begitu saja.

“Bukan itu saja, saya yakin generasi belakangan ini banyak yang sudah tidak pandai membuat itak poul-poul,” ujarnya.

Jika dilihat dari namannya, itak poul-poul terdiri dari dua kata, itak (tepung beras), sedangkan poul-poul (dikepal-kepal). Jadi itak poul-poul adalah makanan yang terbuat dari tepung beras dan campuran lainnya yang kemudian cara pembuatannya dikepal-kepal sehingga menimbulkan bekas jari tangan di kue tersebut.

Peliput : Lokot Husda Lubis
Editor : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

One comment

Silahkan Anda Beri Komentar