Home / Seputar Tapsel / Kaget Siswanya Pelaku Sodomi

Kaget Siswanya Pelaku Sodomi


Keenam Bocah Sudah Kembali Bermain
PINTU PADANG

Kepala SMK Negeri 1 Pintu Padang dan sejumlah guru mengaku kaget atas perbuatan MS (17), siswa kelas satu yang menyodomi 6 bocah dan memerkosa seorang murid SD. Alasannya, MS bukan lah siswa yang terkenal nakal, bahkan cenderung pendiam.
Pengakuan kaget ini dilontarkan kepala sekolah (kasek), Adanan Harahap SPd, didampingi guru bidang kesiswaan, Abdul Hamid Harahap, dan guru BP, Ridwan Saleh Pohan, kepada wartawan, Senin (28/3).
Dalam kesehariannya, kata Adanan, MS termasuk kategori siswa biasa. Artinya, tidak menonjol dalam prestasi, ekstrakulikuler, dan olahraga. MS juga bukan siswa yang nakal dan suka mengganggu teman-temannya yang lain.
“Namun untuk melakukan penilaian lebih jauh masih sangat sulit. Sebab, siswa kelas 1 masih baru belajar sekitar 6 bulan lama,” kata Adanan.
Menurut Adanan, sejauh ini MS juga tidak pernah mendapatkan hukuman karena tindakan indisipliner di sekolah. Ia termasuk siswa yang rajin datang ke sekolah. “Dari data yang dimiliki sekolah dia (MS) berasal dari kalangan yang dinilai mampu. Jadi, dia samasekali tidak menerima bantuan untuk siswa miskin,” tambah Adanan.
Adanan menambahkan, MS terakhir masuk sekolah Jumat (18/3) lalu. Lalu, keesokan harinya MS juga tidak masuk lagi tanpa alasan. Sedangkan Senin (21/3) hingga Jumat (25/3) siswa kelas 1 dan 2 memang libur karena kelas 3 sedang mengikuti ujian akhir sekolah. Namun Sabtu (26/3) sampai Senin (28/3), MS tetap tidak masuk tanpa alasan.
Disinggung apa tindakan yang dilakukan sekolah kepada MS, pihaknya akan memastikan terlebih dahulu status MS apakah menjadi tersangka atau tidak. “Kita pastikan dulu, baru kita ambil tindakan, yakni pemecatan,” sebut Adanan.
Namun meskipun status MS belum ditetapkan sebagai tersangka, jika MS tidak juga masuk tanpa alasan alias alpa selama 1 hingga 2 bulan berturut-turut, maka MS akan tetap dipecat atau diberhentikan dari sekolah.
Sementara itu sejumlah teman sekelas MS mengaku, MS merupakan siswa yang bergaul dengan sesama teman sekelas dan tidak nakal. “Biasa aja bang, sama juga seperti kita, namanya berteman,” kata mereka.
Kapolres Tapsel, AKBP Subandriya SH MH, melalui Kasubbag Humas, AKP AR Siregar kepada METRO, Senin (28/3), mengatakan status MS sudah DPO. Sejauh ini pihaknya masih belum mengetahui keberadaan tersangka.
AR menambahkan, pihaknya masih mencari MS di wilayah Tapsel, Kota Psp dan Madina, mengingat ketiga daerah ini berdekatan. “Kita tidak tahu MS berada di mana, tapi daerah yang berdekatan dengan Tapsel pasti kita susuri untuk melacak keberadaan MS,” tegasnya.
Kembali Bermain
Sementara itu, keseluruhan bocah yang menjadi korban pelecehan seksual sudah kembali bermain seperti anak-anak biasanya. Mereka juga sudah bersekolah.
Menurut pengakuan masing-masing, memang pada awal kejadian mereka trauma dan takut dimarahi orangtua. “Sekarang kami sudah bermain dan bersekolah,” sebut salahsatu bocah.
Warga sekitar yang ditemui METRO mengaku prihatin dengan kejadian yang menimpa masing-masing korban. Sebagai bentuk prihatin, warga sepakat untuk tidak membicarakan atau menyinggung tentang kejadian itu di hadapan anak-anak yang menjadi korban.
Sebelumnya, dijanjikan uang jajan, enam bocah laki-laki di Padang Kahombu, Kecamatan Batang Angkola, Tapsel, mengaku disodomi seorang pelajar SMK berinisial MS (17). Tersangka juga dilaporkan memerkosa seorang murid sekolah dasar.
Orangtua ketujuh korban sudah membuat pengaduan ke Mapolres Tapsel, Jumat (18/3) lalu. Adapun keenam bocah yang mengaku menjadi korban sodomi itu adalah MSK (13) kelas 6 SD, AR (6) belum sekolah, MR (6) belum sekolah, FA (8) kelas 3 SD, R (7) kelas 1 SD, dan AU (7) belum sekolah. Sementara bocah perempuan yang diperkosa berinisial AR (8) kelas 1 SD.
Ketujuh korban merupakan satu kampung dengan MS. Jarak Desa Padang Kahombu, Kabupaten Tapanuli Selatan dengan Kota Padangsidimpuan sekitar 10 kilometer. (phn/ann)
Komnas Anak: Ubah Pola Asuh!
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan, bentuk kekerasan seksual yang dialami para pelajar umumnya sodomi. Pelakunya, orang-orang dekat, mulai dari guru, masyarakat hingga temannya sendiri.
“Agar kasus itu tidak semakin bertambah, para orangtua diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan serta diminta mengubah pola didiknya dari pola otoriter lebih kepada pendekatan komunikatif,” ujar Arist Merdeka Sirait, Senin (28/3).
Menyikapi masalah itu, diungkapkan Arist, pihaknya selama ini melakukan dua jenis penanganan yakni, melakukan pendampingan proses hukum sejak pemeriksaan di kantor polisi hingga berlangsungnya proses pengadilan. Yang kedua, melakukan terapi terhadap para korban, karena biasanya mereka akan mengalami trauma hebat setelah menjadi korban kekerasan seksual.
“Kami juga melakukan terapi secara psikologi guna memberikan rasa aman dan nyaman pada korban kekerasan seks,” tambah Arist.
Arist melihat, terjadinya kasus kekerasan seks terhadap anak-anak atau pelajar lebih disebabkan adanya degradasi moral. Hal itu terjadi bisa disebabkan oleh perilaku korbannya yang mengundang atau memicu terjadinya kekerasan seks. Selain itu, rendahnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama juga menjadi pemicunya.
“Di sisi lain, juga telah terjadi sebuah degradasi tanggung jawab sebagai orangtua dan guru. Namun, memang itu semua terjadi didorong faktor kemiskinan,” katanya.
Ke depan, kata Arist, agar hal itu tidak terjadi lagi, para orangtua harus memberikan perhatian yang lebih terhadap anak-anaknya. Kemudian, melakukan pengawasan dan evaluasi perkembangan anak. Sebab tugas dan tanggung jawab orangtua yakni, harus melindungi anak-anaknya. Orangtua juga harus mengubah paradigma pola asuhnya, yakni dari pola otoriter ke arah komunikatif, edukatif dan partisipasipatif.
Dengan maraknya kasus pelecehan atau kekerasan seks terhadap anak, kata Arist, masyarakat juga diminta melakukan gerakan bersama untuk melawan kekejaman anak melalui pembuatan tata tertib di RT/RW. Sehingga masyarakat luas dapat mengawasi dan melakukan penekanan serta intervensi jika terjadi kekerasan yang terjadi.
Beri Kepercayaan
Tutur bahasa yang menyejukkan telinga, sikap santun yang enak dipandang mata, barangkali pujian itu banyak dilontarkan kepada muda-mudi zaman dahulu. Pujian itu tidak lagi didapat remaja sekarang karena etika yang sudah terkikis.
Faktanya, mulai dari kalangan anak-anak dan remaja banyak bertingkah jauh dari norma yang berlaku dengan tidak menjunjung nilai norma agama dan adat ketimuran. Begitulah pendapat Anggota DPRD Sumut, Rahmianna Delima Pulungan, SE.
“Sekarang ini, masyarakat tengah bergerak ke arah yang semakin maju dan modern. Namanya era globalisasi. Setiap perubahan masyarakat melahirkan konsekuensi tertentu yang berkaitan dengan nilai dan moral,” ujar Wakil Ketua Komisi E dari Partai PPRN ini.
Misalnya, kata Rahmianna, kemajuan teknologi IT melahirkan pergeseran budaya belajar anak-anak dan benturan antara tradisi Barat yang bebas dengan tradisi Timur yang penuh keterbatasan norma. Begitu juga dampaknya pada nilai-nilai budaya termasuk tata cara dan kesantunan berbahasa di kalangan generasi muda.
“Pada umumnya, usia remaja merupakan usia kritis di mana apa yang ia lihat menyenangkan pasti akan ditiru. Budaya-budaya tersebut dapat masuk dengan mudah melalui apa saja. Misalnya televisi dengan bentuk film, video klip, internet, dan macam-macam alat tekhnologi lainnya,” ujar ibu dari tiga anak ini.
Menurutnya, internet banyak disalahgunakan remaja untuk hal-hal negatif seperti mengakses video porno. Paling banyak mereka mengaksesnya dari warung internet (Warnet) secara bebas tanpa pengawasan. “Makanya saya menyambut baik kebijakan Menkoinfo yang memblokir situs porno. Seharusnya blokirnya juga sampai ke warnet-warnet,” ujar wanita peringan ini.
Minat remaja terhadap teknologi informasi terutama teknologi internet mendorong mereka menghabiskan banyak waktu di dunia maya. “Sangat disayangkan, tidak banyak orangtua yang peduli dengan kondisi ini. Padahal orangtua adalah pemimpin bagi anak-anaknya, dan setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap pengikutnya. Sistem kontrol yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjamin anak-anak tidak terlibat dalam kancah gejala sosial,” kata wanita kelahiran 2 Mei 1967 ini.
Rahmianna mengakui anak remaja sekarang kurang bisa bersosialisasi dengan santun, hilang etika dan adat ketimurannya. Ini juga tak terlepas dari kesalahan orang tua dalam mendidik anaknya. “Ada beberapa adat ketimuran yang kadang dianggap sepele. Misalnya, orang tua tidak mengingatkan anaknya untuk menyalami tamu yang datang ke rumah. Anak malah dibiarkan berada di dalam kamar. Nah, anak jadinya kurang tahu bersopan santun dan acuh dengan sekelilingnya,” ujarnya.
Rahmianna menyadari, disiplin yang keras dalam mendidik anak di jaman dulu tak mungkin bisa diterapkan di jaman sekarang. Jika di era dulu, anak sangat segan dan menurut apa kata orang tua karena didikan keras orang tua. “Tapi kalau didikan keras diterapkan di era sekarang, anak bukannya menjadi baik, malah menjadi pembangkang,” kata dia.
Karenanya, dalam mendidik anak, Rahmianna memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada anak-anaknya untuk menjadi dewasa. “Artinya, jangan menganggap anak kita masih kecil kalau berusia remaja. Tapi anggaplah anak sudah dewasa yang bisa diberi tanggung jawab. Lalu orang tua berperan memberikan pelajaran etika dan agama kepada anak sambil tak lupa tetap mengontrol perkembangan anak,” papar Rahmianna.
Seorang anak yang dibekali dengan budi pekerti, lanjutnya, kelak dia akan pandai untuk berempati. Namun bila seorang anak dibekali dengan banyak kekerasan fisik dan ancaman, tidak mustahil dia hanya akan menjadi seorang remaja anti sosial. Seorang anak remaja pendobrak norma.
“Atau bahkan sebaliknya, anak akan menjadi orang yang tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya dan hanya sibuk dengan kepentingan-kepentingan pribadinya. Etikanya pun ikut terkikis juga,” pungkasnya. (kdc/smg/int)
Sumber : Metrotabagsel

Comments

Komentar Anda