Home / Artikel / KAIN SARUNG DI PEMKAB MADINA

KAIN SARUNG DI PEMKAB MADINA

Warga Miyanmar yang mayoritas Budha juga memakai kain sarung

 

Catatan : Dahlan Batubara

Di India yang mayoritas Hindu. Kain sarung disebut lungi, phanek, mundu, kaili, saaram, vetti. Perbedaan penggunaan istilah ini tergantung pada daerah-daerah di India.

Selain pakaian sehari-hari, juga untuk acara perayaan keagamaan.

Di Sri Langka, juga mayoritas Hindu. Penggunaan kain sarung lebih didominasi pria. Sebenarnya ada juga perempuan. Kain sarung yang dipakai perempuan disebut Redda.

Bahkan, digunakan oleh pejabat negara. Sebagai pakaian yang menunjukkan nilai kerendahan hati. Sekaligus nasionalisme mereka. Karena kain sarung dianggap sebagai pakaian nasional Sri Lanka.

Di Miyanmar, mayoritas Budha, juga berbudaya kain sarung. Sehari-hari. Lelaki, pun perempuan. Di negara yang “mengusir” muslim Rohingya ini, kain sarung dikenal dengan istilah Longji atau Longyi.

Pria Miyanmar menyimpan dompet di kaos dalam. Rokok dan mancis juga di kaos dalam. HP diselipkan di Longyi bagian belakang. Dekat pinggul.

Orang Somalia di Afrika menjadikan kain sarung pakaian sehari-hari. Di manapun Anda di Somalia, pasti melihat orang-orang banyak memakai kain sarung.

Di Afrika Timur, disebut Kanga. Digunakan perempuan Afrika. Kikoy digunakan pria Afrika.

Di Madagascar, disebut Lamba.

Di area Arabian Peninsula, kain sarung dikenal dengan istilah futah, izaar, wizar, ma’waz. Sarung sering digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Sebagai bawahan. Atau pakaian tidur. Atau kaftan.

Di Malaysia, Kain Pelikat. Sabok jika yang dipakai perempuan. Tapeh untuk yang dipakai pria.

Di Indonesia. Penduduk di desa-desa masih banyak yang memakai kain sarung. Tetapi kaum milenial-nya sehari-hari sudah celana panjang. Hanya pakai sarung kalau ke masjid.

Santri di banyak pesantren juga pakai sarung. Sehari-hari.

Di Pemkab Madina. Pegawai pria diharuskan memakai kain sarung. Tiap hari Jum’at. Berdasar peraturan daerah tentang Busana Muslim. Dimulai sejak Jum’at (15/3/2019).

Di Al-Qur’an, seingat saya, tak disebutkan kain sarung sebagai busana muslim.

Apakah kain sarung menyebabkan meningkatnya taqwa? Apakah meningkatkan pelayanan birokrasi?

Apakah menurunkan korupsi?

Apakah. Apakah. Apakah.

Di desa-desa terisolir di Madina. Yang jumlahnya puluhan desa itu. Jalannya masih jenis tanah. Menanjak. Becek kalau hujan. Sulit dilalui kenderaan. Membawa hasil pertanian setengah mati. Membawa sembako ke sana setengah mati. Sampai-sampai masuk ke dalam prioritas di visi misi pemerintah daerah.

Sampai kini. Sampai kini. Sampai kini.

Sampai kini belum juga ada kabar datangnya beko dan buldozer. Kabarnya belum juga diaspal. Walau masa priode sudah nyaris berakhir. Warga masih belum “merdeka”.

Walau warganya sejak dulu tetap konsisten memakai kain sarung.***

 

Sumber tambahan : sarungatlas.co.id

 

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: