Home / Artikel / KEBENARAN YANG HILANG

KEBENARAN YANG HILANG

                       

(Tinjauan Kepemimpinan Dahlan Hasan Dalam Kajian Komunikasi)

Oleh : Asrul H. Nasution
Alumnus Pasca Sarjana UIN Sumatera Utara

 

Siapa yang tidak mengenal Drs.H. Dahlan Nasution atau yang lebih familiar disapa dengan pak Dahlan? Pamong senior yang sudah malang melintang dalam dunia birokrasi ini sekarang diberikan amanah menjadi Bupati Mandailing Natal.

Beliau telah menorehkan beberapa keberhasilan dalam pembangunan kendatipun memang harus diakui terdapat juga kekurangan. Pro kontra dalam penyikapan terhadap pembangunan yang terjadi belakangan ini sesungguhnya lumrah dan sangat manusiawi dikarenakan tidak semua visi misi pak Dahlan bisa dilaksanakan sepenuhnya mengingat banyak hal yang menjadi kendala utamanya keterbatasan dan ketersediaan waktu yang ada. Pak Dahlan sangat menyadari ini sepenuhnya bahwa masih banyak hal yang belum bisa dikerjakan dipenghujung jabatannya.

Dalam berbagai kesempatan, statement seperti ini kerap diungkapkannya. Dan ini pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi pembangunan yang berkelanjutan. Tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengaplikasikan semua keinginan masyarakat. Namun realitasnya, hanya dengan bekal hitungan bulan pemerintahan, beliau sudah berupaya menghadirkan pembangunan diruang-ruang masyarakat. Memang butuh proses dan tidak semudah membalik telapak tangan.  Namun dengan talenta kepemimpinan yang dimiliki, beliau bisa membangun optimisme yang dipancarkan melalui program-program pro kerakyatan yang dimilikinya.

Beliau bukanlah pemimpin dibelakang meja yang tersenyum mendengarkan laporan ABS (asal bapak senang), untuk memastikan laporan bawahannya beliau tidak sungkan-sungkan kelapangan tanpa seorangpun stafnya yang tahu. Blusukan istilah modren sekarang. Siapa yang bisa menyangka beliau hadir ditengah malam hanya untuk sekedar menyambangi warganya sambil minum kopi diwarung? Siapa yang menduga beliau mau “berlumpur ria” untuk membersihkan parit yang tersumbat di pusat pasar Panyabungan.

Sejak kapan Madina mengenal istilah Jum’at Bersih kalau bukan dimasa pemerintahannya? Siapa sajakah yang tahu bahwa beliau telah melarang  penggunaan kopi merk Mandailing dari salah satu resto yang ada di Bali? Apakah masyarakat tahu tahun 2015 ini akan dikembangkan kopi Mandailing seluas 20 Ha? Siapa juga yang bisa menyaksikan kegigihannya menjumpai stake holder dipusat agar bisa membantu program konversi lahan ganja jadi ladang holtikultura di Tor Sihite?

Lihatlah visionernya beliau dalam mewacanakan pembangunan RSU Panyabungan yang akan difungsikan sebagai pusat rujukan medis untuk tingkat regional? Bagaimana juga ide untuk merevitalisasi BUMD sehingga diharapkan kelak akan jadi menyumbang  kas daerah? Pun juga dengan pengembangan padi jenis baru yakni siganteng yang akan diproyeksikan untuk kembali merebut predikat lumbung beras Sumatera Utara? Tidak banyak juga yang tahu bahwa beliau dengan kepiawaiannya dalam berdiplomasi telah berhasil mewujudkan pembebasan sebanyak 84 dari 100 desa yang selama ini masuk didalam kawasan Hutan Lindung. Hampir tidak ada juga yang tahu bahwa renegoisasi areal kontrak karya PT. SMM dari semula 66.000 Ha akan diupayakan menjadi 20.000 Ha. 

Kelak juga Bandara Bukit Malintang akan menjadi kebangggan masyarakat Tabagsel karena dengan mudah dilandasi pesawat jenis Boing 737. Apresiasi juga pembangunan pelabuhan Batahan untuk melengkapi sejumlah pelabuhan dipesisir Barat Sumatera yang diproyeksikan sebagai pelabuhan transit dan konon akan dilengkapi dengan tangki curah. Dalam bidang pelestarian budaya, beliau juga tidak tinggal diam, beliau sudah mengadakan pertapakan Sopo Godang. Demikian juga dengan pembangunan Asrama Haji Madina yang konon sudah memasuki tahapan penghitungan anggaran guna menjawab kebutuhan masyarakat Madina yang dikenal religius.

Kenapa sedemikan banyak prestasi yang telah digoreskan pak Dahlan ini nyaris tidak pernah terpublikasi dimasyarakat? Kenapa sangat jarang ditemukan berita pembangunan Madina dimedia kecuali berita tentang ganja dan sebagainya? Kenapa masyarakat dominan tidak mengetahui kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan selama ini? Inilah pertanyaan besar hari ini dan tentu saja jawabannya pasti akan  panjang dan berliku karena membutuhkan pembedahan guna mengetahui titik kelemahan.

Sesalnya jika inipun harus dielaborasi lebih mendalam akan menelanjangi beberapa SKPD yang nyaris tidak pernah mempublikasikan kegiatannya dimedia. Ini sebenarnya persoalan serius yang bisa saja mengartikan ada  dikotomi antara pemerintah  dengan masyarakat. Pun begitu juga, mengandung makna adanya sekat pemisah antara pemerintah dengan pers padahal sesungguhnya pak Dahlan amat sangat dekat dengan kalangan kuli tinta. Ini dibuktikan dengan penghargaan yang diterima pak Dahlan sebagai Sahabat Pers.

Ketiadaan informasi ini alhasil membuat masyarakat bingung sekaligus heran dengan apa yang dikerjakan pemerintahan selama ini. Lantas siapa yang harus dipersalahkan atas kondisi ini?  Siapa yang harus bertanggung jawab ketika masyarakat salah persepsi menilai pembangunan dan celakanya menyebut pemerintahan lebih banyak berdiam diri? Kendatipun ini masih perlu untuk didialektikakan lebih lanjut, namun tentu saja berbaik sangka merupakan pilihan yang bijak.

Dipastikan ada sesuatu yang salah dan ini harus dievaluasi jika dianggap penting. Keterbukaan informasi dizaman globalisasi ini terasa sangat penting. Terlepas dari profesi manapun, yang jelas masyarakat sangat membutuhkan informasi tentang apa saja mengenai daerahnya. Dengan informasi ini akan terlihat geliat roda pembangunan, akan tersajikan peluang, tantangan sekaligus harapan kedepan. Ragam informasi ini akan semakin mencerahkan sekaligus juga mencerdaskan masyarakat secara keseluruhan. Ada ruang tempat publik berpartisipasi dalam pembangunan, ada wahana untuk mengekspresikan saran, pendapat dan tanggapan terhadap sesuatu yang dipersoalkan. Masihkah kita ingat dengan tema yang diusung dalam perayaan ulang tahun Madina ke-16 belum lama ini? Iya membangun dan melayani.

Apa saja yang telah dibangun selama ini dan bagaimana juga proses pelayanan terhadap masyarakat selama ini? Seharusnya jawaban itu bisa didapatkan dalam berbagai pemberitaan. Darimana lagi masyarakat mengetahui perkembangan jika bukan dari berita. Apakah anda yakin masyarakat dari desa Huta Tua akan datang kekantor Bupati hanya untuk menanyakan sampai sejauhmana perkembangan konversi lahan ganja yang dicanangkan Bupati? Apakah masyarakat Batahan akan datang kekomplek perkantoran Payaloting secara khusus hanya untuk menanyakan perkembangan pembangunan pelabuhan? Yakin dan percaya masyarakat akan selalu mengikuti perkembangan pemberitaan tersebut secara seksama karena inilah daerah kebanggaannya.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa pemimpin besar memiliki berbagai tipe kepribadian dasar yang beraneka ragam. Bukan artinya keras itu jahat dan lembut itu lemah. Masing-masing punya sisi positif dan negatif. Sayangnya, sisi positif itu bisa hilang bila cara pandang hanya berdasar emosi semata. Saat membaca berita mengenai realita, jangan lupa sesuaikan dengan konteksnya.

Di sisi ini terlihat keunikan kepemimpinan komunikasi Dahlan Hasan. Sebagai kepala daerah yang cekatan dia tidak terlalu ambil pusing dengan publikasi dan dokumentasi sebab apa yang dilakukannya adalah bentuk pengabdian yang tulus bagi warganya. Mencerminkan komunikasi yang didasari keikhlasan yang dibarengi dengan sikap kesederhanaan. Jika kepala daerah dizaman globalisasi dewasa ini kerap menggunakan media baik eletronik, cetak dan sosial sebagai sarana untuk mensosialisasikan keberhasilan pembangunan bahkan kesannya narsis, norak dan kebablasan dengan begitu banyaknya wajah kepala daerah yang terpampang dimana-mana. Namun fenomena kepala daerah model seperti ini tidak berlaku bagi pak Dahlan.

Di titik ini beliau berhasil menjungkirbalikkan teori komunikasi konservatif.  Pak Dahlan ini seperti air yang mengalir begitu saja. Membiarkan masyarakat menilainya tanpa rekayasa, tanpa intrik, tanpa sentuhan dan tanpa kepentingan. Berlangsung secara murni dan natural. Bisa jadi, beliau tidak pernah memaksakan agar SKPD jor-joran mengiklankan keberhasilan pembangunan. Bisa jadi juga beliau tidak akan memarahi bawahannya hanya dikarenakan tidak membuat berita tentang kegiatan yang diikutinya atau juga tidak akan mencopot para pembantunya hanya dikarenakan tidak menampilkan fotonya dispanduk kegiatan SKPD bawahannya. Beliau tidak butuh pencitraan yang berlebihan itu yang saya amati selama ini.

Beliau mengawal karir birokrasi dari nol, dan ini tentu saja diyakini komunikasi memegang peranan penting selama dalam perjalanan tersebut. Oleh karena itu, belajar dari pengalaman kedepan perlu diperbaiki pola komunikasi dan informasi supaya lebih baik agar fakta-fakta pembangunan bisa tersajikan dihadapan masyarakat. Kedua hal ini memegang peran vital dan strategis seperti ungkapan orang bijak yang menyebut siapa yang menguasai informasi maka dia akan menguasai dunia.

Informasi pembangunan dewasa ini berlangsung secara tidak sehat dan tidak objektif, bukan hanya sumir semata namun lebih dari itu  cendrung mengarah ke pembentukan opini yang sesat dan tendensius.  Hal ini sungguh tidak fair. Sekecil apapun prestasi yang dilaksanakan pak Dahlan dalam pembangunan harus tetap diakui sebagai keberhasilan pembangunan.

Artikel ini tidaklah berpretensi untuk mengkultuskan pak Dahlan, tulisan ini hanya catatan kecil masyarakat biasa yang bisa dianggap sebagai kriktikan konstruktif agar kedepan nanti masyarakat semakin tercerahkan dengan pemberitaan pembangunan Madina dari hari kehari. Pergantian waktu dari siang kemalam sebisa mungkin dimaknai secara positif bahwa segala upaya  dalam memberikan sumbangan dalam pembangunan walau sebiji zarrah-pun pasti akan mendapatkan balasan  yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa. Mari selalu berpikir positif karena tuhan tidak akan pernah tidur melihat hamba-Nya yang sedang berusaha dan bekerja demi kemaslahatan masyarakat….!!!

 

 

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar