Home / Artikel / KEPEMIMPINAN DAN KETELADANAN

KEPEMIMPINAN DAN KETELADANAN

 

Oleh : Pambudi
Mahasiswa STAIM

 

Kata pemimpin selalu jadi bahan diskursus yang sering mengandung polemik berkepanjangan menjelang perhelatan demokrasi terutama suksesi kepemimpinan didaerah. Tentu saja ini sangat beralasan mengingat ekspektasi yang teramat tinggi dari masyarakat terhadap pemimpin masa depan. Pemimpin yang diharapkan kelak mampu membawa perubahan signifikan dalam seluruh lini kehidupan.

Jauh sebelum sosiologi modern berkembang dewasa ini sudah ramai diperbincangkan soal kepemimpinan. Sebelum Mahatma Gandhi berbicara tentang gagasan keteladanan dalam kepemimpinan, Plato telah mengenalkan konsep ”Philosopher Kings” dengan tesis bahwa “pemimpin harus siap menjadi teladan bagi anggotanya”. Kosa kata yang sering didengar untuk mendefinisikan ini dizaman sekarang adalah negarawan.

Seorang negarawan diharuskan memiliki watak yang baik dan senantiasa menjaga citra dirinya dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara (what the statesman is most anxious to produce is a certain moral character in this fellow citizens, namely a disposition to virtue and the performance of virtuous actions). Moechtar Nasution, dalam artikel “Mencari Sosok Negarawan Untuk Masa Depan Madina” menyebut seorang negarawan tersebut memang dituntut untuk bisa menjadi contoh tauladan yang “uswatun khasanah” dan “berahlaqul karimah” sehingga bisa mentransformasikan kebiasan-kebiasan baik  kepada masyarakat.  Negarawan ini juga selalu ditiru, digugu dan diperhatikan masyarakat sepak terjangnya termasuk kehidupan pribadinya. Namun sesungguhnya, ini sangat sulit diwujudkan karena semua sifat, sikap, tingkah laku, perbuatan, ucapan, tindakan seorang pemimpin pasti akan dipantau dan dilihat masyarakat.

Jauh sebelum biografi tokoh pemimpin modern abad ini dikenal, dunia telah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW sukses memberikan keteladanan sebagai seorang pemimpin umat yang memerangi jahiliyah dan kemudian membangun masyarakat madani. Beliau mengajarkan definisi kepemimpinan yang sarat dengan pesan moral yakni siddiq, amanah, tabliq dan fathonah. Teori kepemimpinan ini hingga dekade sekarang masih diakui sebagai yang terbaik.

 Usai menjalani ”kehidupan baru” selepas dari penjara, Bung Karno pernah menyatakan “seorang pemimpin tidak akan berubah karena hukuman, Saya masuk penjara demi untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dan saya meninggalkan penjara juga untuk tujuan yang sama yaitu demi  memperjuangkan kemerdekaan,”. Dikatakannya, ketetapan hati dan keteguhan iman adalah salah satu syarat yang pokok untuk menjadi seorang pemimpin. Bung Hatta juga mengatakan hal yang sama jika pemimpin tidak memiliki moral yang kuat dan setegar baja, maka dipastikan pemimpin tersebut tidak akan dapat memenuhi kewajibannya.

Seorang pemimpin memang diharuskan memiliki kelebihan diatas rata-rata. Harus lebih cerdas, lebih percaya diri, dan lebih bermoral. Singkatnya lebih baik dibanding warga masyarakatnya. Namun bagi sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Imam Prasojo justru sangat mengkhawatirkan dimasa mendatang bangsa Indonesia lebih banyak memiliki kepemimpinan “kerumunan” daripada kepemimpinan berbasis moral. Pemimpin kelas ini jelas Prasojo muncul dari ”kerumunan” tanpa memiliki rekam jejak yang jelas. Guru bangsa Nurcholis Madjid atau akrab dipanggil Cak Nur juga tak henti untuk selalu mengingatkan tentang pentingnya   menegakkan standar moral suatu bangsa. Dalam analisa Cak Nur, lemahnya standar moral inilah yang menyebabkan bangsa  Indonesia menjadi salah satu pengisi halaman belakang Asia Timur. Ditinggalkan oleh negara-negara tetangga yang sudah berkembang menjadi negara maju. Dan penyebabnya lanjut Cak Nur adalah etos kerja pemimpin yang lembek dan sarat korupsi yang menggurita.

 Sumber malapetaka ini terjadi karena kelemahan pemimpin dalam pengelolaan ekonomi serta urusan pemerintahan dan kekuasaan. Bung Hatta sungguh sangat tidak suka, bila rakyat dikondisikan membeo pemimpin konon lagi menjadi obyek tipu daya penguasa. Jika rakyat dalam kondisi menyedihkan semacam ini, Bung Hatta meramalkan walaupun Indonesia sudah merdeka, rakyat tetap tertindas oleh yang berkuasa.

            Seorang pemimpin yang baik sebagaimana yang dicita-citakan Bung Hatta adalah pemimpin yang mendidik rakyatnya menjadi cerdas, ingin mensejahterakan hidup rakyatnya lewat perbaikan ekonomi, dia tidak ingin melihat kondisi masyarakatnya terpuruk karena kemiskinan dan kebodohan, dan dia ingin masyarakatnya bukan hanya cerdas otaknya, tetapi juga cerdas hidupnya, tahu akan harkat dan martabatnya, tidak rendah serta berkarakter yang kuat.

Pemimpin yang mampu memberikan pesona hidup dan mencurahkan amanah yang diembannya untuk membahagiakan rakyat. Seorang pemimpin yang tahu penderitaan rakyat serta mampu memberikan kesejahteraan dan pencerdasan. Mampu mewarisi aroma harum sepanjang masa bagi generasi mendatang.

Oleh karena itu, tugas pemimpin yang utama dan pertama adalah memperbaiki dirinya sendiri. Jika ia sudah menjadi orang yang amanah, adil, jujur,cerdas, dan sanggup mencintai semua, artinya sudah berhasil memperbaiki dirinya sendiri, maka pemimpin itu telah  berhasil menjadi tauladan, dan akhirnya kepemimpinannya akan berhasil pula. Ibn Umar. R.A berkata  “saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang pemimpin akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (HR. Bukhari Muslim)”

Beban memimpin itu memang berat, akan tetapi jika sifat siddiq, amanah, tabliq dan fathonah berhasil diaplikasikan dalam kepemimpinan maka kesuksesan memimpin insha Allah akan bisa terealisasi. Dan ini mengartikan bahwa kemungkinan besar impian masyarakat akan semaksimal mungkin diperjuangkan sekaligus diwujudkan. Semoga.

 

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar