Home / Dakwah / Kisah Puasa Perdana Mualaf AS yang Penuh Tantangan

Kisah Puasa Perdana Mualaf AS yang Penuh Tantangan

 

MILWAUKEE (Mandailing Online) – Sudah dua pekan terakhir, mahasiswi University of Wisconsin-Milwaukee Samantha Kessenich (23 tahun) terbangun setiap pukul 03.00 untuk melaksanakan sahur di ibadah puasa pertamanya sebagai seorang muslimah.

Kali ini, dia tidak menyiapkan kopi seperti ritual paginya. Ia memilih yogurt atau roti panggang dengan mentega almond dan telur goreng. Lalu, mulai berniat puasa sebelum menyanp sajian sahurnya dan diakhiri dengan membaca Alquran.

“Saya sangat menikmati semua ritual ini,” ujar Kessenich yang menjadi muslimah musim panas tahun lalu dilansir dari ibtimes.com, Kamis (2/7).

Antusiasmenya menjalani segala ritual Ramadhan, menurutnya, karena timbul perasaan dekat dengan Allah SWT. Apalagi, sebelumnya ia tidak memeluk suatu agama apapun.

Meski terasa menantang karena harus menhan haus dan lapar selama 16 jam, Kessenich tetap memantapkan hatinya melampaui segala godaan duniawi hingga 17 Juli 2015 mendatang.

Tunangan Kessenich, Achraf Issam turut mendukung keyakinan muslimah tersebut. Issam yang menjadi pembimbing para mualaf di Ahmadiyya Muslim Community USA ini bertemu tunangannya itu empat bulan sebelum menjadi muslimah. Issam selalu melihat keseriusan Kessenich saat menjalani segala ajaran Islam.

“Dia sangat membantuku melewati perjalanan keyakinanku,” tegas Kessenich yang akan menikah akhir tahun ini.

Issam pun tak segan berbagi pengalaman dengan para mualaf melalui kelompok chat Telegram Messenger. Setiap anggotanya mendiskusikan semua pengalamannya menjalani ibadah puasa.

“Bagi para mualaf, mempunyai komunitas sangatlah penting karena banyak perubahan yang harus dihadapi dan butuh dukungan dari lingkunganmu. Terutama saat ramadhan, jangn sampai mereka merasa terisolasi karena melakukan hal yang berbeda dengan sekitarnya,” cetus Issam.

Perasaan terisolasi itu juga pernah dirasakan oleh mualaf dari Albany, New York Chris Duffy (21 tahun). Baginya, menahan makan dan minum relatif mudah dilakukan, namun tekanan sosial dari teman-teman dan kerabatnya yang non-Muslim dirasakan cukup berat.

Duffy yang menjadi Muslim pada tahun 2014 ini masih tinggal dengan keluarganya yang menganut agama Kristen. Bahkan saat berpuasa pertama kali, keluarganya memandang Duffy membatasi diri.

“Sangat susah buatku untuk membatasi diri dari keluarga. Mislanya, saat mereka merayakan Hari Ayah dengan banyak makanan, mereka menawari, tapi aku enggan menjelaskan kenapa aku tak boleh makan. Disitulah godaan dan tantangannya,” cetus Duffy.

Muslimah mualaf dari Houston Alondra Cadena (19 tahun) juga menjalani  Ramadhan pertamanya dengan tantangan lain.

“Saya mencoba berpuasa sehari penuh, tapi badan saya tidak kuat di tengah cuaca panas, maka saya berpuasa setengah hari,” kata perempuan yang masih bersekolah dan harus bekerja menjadi kasir swalayan ini.

 

Sumber : Republika Online

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar