Home / Seputar Madina / Lubuk Larangan Tradisi Kala Lebaran di Madina

Lubuk Larangan Tradisi Kala Lebaran di Madina

KOTANOPAN (Mandailing Online) – Tradidisi menangkap ikan di lubuk larangan masih menjadi magnit yang luar biasa dan merupakan salah satu kegiatan para pemudik lebaran di Mandailing Natal (Madina).

Ribuan orang warga dari berbagai penjuru Madina dan luar Madina mengikuti pembukaan lubuk larangan di beberapa sungai kawasan Mandailing Julu, khususnya di Kecamatan Kotanopan.

Pantauan di lapangan, pembukaan lubuk larangan ini dimulai tanggal 1 Syawal di Desa Hutapungkut Jae. Tanggal 2 Syawal di Desa Tamiang, 3 Syawal di Desa Singengu dan Hutapungkut Julu, 4 Syawal Desa Hutarimbaru, Simangambat, Pondok Pudung Kelurahan Tamiang, 5 Syawal di Desa Muara Siambak dan Desa Lumban Pasir, 6 Syawal di Desa Hutapungkut dan Desa Muara Mais.

Tiket di masing-masing desa bervariasi, mulai dari 50.000 rupiah per orang hingga 60.000.

Seperti pembukaan lubuk larangan di Desa Muara Siambak yang berlangsung 5 Syawal atau Senin (12/8/2013), ribuan warga ikut serta ambil bagian menangkap ikan di sungai yang berlabel lubuk larangan itu.

Untuk mendapatkan ikan, umumnya warga mempergunakan jala, jaring dan jenis penangkapan ikan lainnya. Sedangkan jenis ikan yang didapatkan mulai dari jenis ikan jurung, ikan mas, mujair, lele dan jenis ikan lainnya.

Efendi Lubis (30). ketua Panitia Lubuk Larangan Desa Muara Siambak yang di hubungi mengatakan, lubuk larangan di desa ini sudah setahun lamanya tidak dibuka.

Selain warga setempat, pesertanya juga di ikuti warga dari berbagai penjuru Mandailing Natal yang pulang dari perantauan. Sedangkan harga tiket yang diberlakukan panitia Rp. 60.000.

Katanya, dalam sekali membuka lubuk larangan panitia bisa mengumpulkan uang antara 20 juta hingga 30 juta rupiah. Selain diperuntukkan untuk keperluan desa, uangnya juga dipergunakan untuk pembangunan masjid, madrasah, anak yatim dan membeli alat-alat perlengkapan keperluan Naposo Nauli Bulung (muda-mudi) di desa ini.

Sementara itu Faisal Daulay (45), salah seorang penangkap ikan yang selama ini tinggal di Jakarta mengatakan, selain untuk silaturrahmi dengan keluarga, salah satu tujuannya pulang kampung adalah ikut serta pembukaan lubuk larangan.

“Saya hobi menjala, jadi salah satu tujuan saya pulang kampung untuk ikut serta pembukaan lubuk larangan”, ujarnya.

Pengakuannya, hampir semua desa yang lubuk larangannya di buka selalu diikutinya. Terkait harga tiket yang cukup mahal, baginya tidak masalah.
“Harga tiket nggak ada masalah, kita anggap saja kita ikut serta menyumbang, sebab biasanya keuntungan lubuk larangan ini diperuntukkan untuk pembangunan desa,” cetusnya.

Sedangkan Kapolsek Kotanopan, AKP Huayan Harahap yang dihubungi saat memantau pembukaan lubuk larangan ini mengatakan, sejauh ini pembukaan lubuk larangan yang dilaksanakan di beberapa desa di daerah Kotanopan berlangsung dengan aman.

“Alhamdulillah, pembukaan lubuk larangan yang di mulai 1 Syawal sampai saat ini berjalan aman, kita berharap kondisi ini tetap berlangsung sampai berlangsungnya pembukaan lubuk larangan di desa-desa lainnya,” harapnya.

Peliput : Lokot Husda Lubis
Editor : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

One comment

Silahkan Anda Beri Komentar