Senin, 27 Jul 2026
light_mode

MANDAILING BUKAN BATAK

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 23 Okt 2014
  • print Cetak

 

Pada “Konvensyen Sejarah dan Budaya Negeri Perak Darul Ridzuan” di Dewan Jubli, Politeknik Ungku Omar, Ipoh, Perak, Malaysia, 29 September 2001 lalu, sejarawan Malaysia Mohamed Azli Bin Mohamed Azizi mengatakan bahwa Mandailing bukan Batak.

Dalam makalah bertajuk “Sejarah kedatangan orang-orang Mandailing ke semenanjung tanah Melayu”, Mohamed Azli Bin Mohamed Azizi mengatakan bahwa pendapat tersebut telah didukung oleh sarjana Belanda, Jerman dan Indonesia. Mereka adalah Prof. Dr. G.A. Wilken Hoogleeraar Van Het Rijks dari Universitas Leiden, Dr. Van Deur Tuk, dan Dr. Jughun. Pendapat mereka didukung pula oleh Abdullah Lubis, Mangaraja Ihutan, Dada Muraxa, Pangaduan Lubis, dan Arbain Lubis.

Puncak kekeliruan mengenai “Mandailing bukan Batak” telah tercetus dari satu peristiwa pada tahun 1922 di Kayu Laut, Mandailing. Dalam peristiwa tersebut seorang kepala sekolah HIS bernama Todung Gunung Mulia yang bersekongkol dengan seorang kolonial tentara Belanda dari Sibolga untuk menguatkan orang Mandailing itu sebagai satu rumpun dengan orang Batak demi kepentingan agama dan politik serta pentadbiran (mengelola pemerintahan) bagi penjajah Belanda.

Usaha Todung dan kolonial Belanda tersebut berhasil mendapatkan tanda tangan 14 orang kepala Kuria di Mandailing (yang dari mulanya dilantik sebagai kepala Kuria oleh pihak pentadbiran Belanda) diatas surat pengakuan bahwa Mandailing itu adalah sebagian dari daerah Batak.

Pengakuan tersebut telah membawa arti bahwa tanah Mandailing tergolong dalam daerah tanah Batak dan dengan kemiripan budaya antara kedua etnik itu, maka Mandailing dengan mudah dikategorikan sebagai yang berasal dari suku Batak.

Dalam peristiwa ini, orang- orang Batak yang beragama Kristen sangat disenangi oleh Belanda, sehingga tercetuslah hasrat mereka untuk menonjolkan etnik Batak sebagai ibu rumpun bagi kaum-kaum yang mempunyai persamaan dalam beberapa aspek budaya di Sumatra Utara yang meliputi daerah Tapanuli Selatan, yaitu Mandailing.

Kenyataan ini juga seakan-akan menggambarkan missionaris Kristen telah berjaya mengkristenkan daerah Tapanuli lebih dari 60% penduduknya, padahal mereka gagal di Tapanuli Selatan dan Mandailing. Jika benar Mandailing itu Batak, kenapa perlu ada satu pengakuan (1922) di Kayu Laut sebagai pengakuan Mandailing bagian dari rumpun Batak?

 

AGENDA TERSELUBUNG

Jelas sekali Todung, missionaris Kristen, dan kolonial Belanda dari Sibolga itu mempunyai agenda terselubung untuk menjadikan daerah Mandailing sebagai daerah Batak sekaligus menjadikan Mandailing sebagai rumpun Batak yang kebanyakan telah menjadi Kristen.

Peristiwa ini  (yang merupakan satu penipuan oleh kaum Batak dengan Belanda) telah ditentang habis-habisan oleh masyarakat Mandailing hingga kemuka pengadilan Mahkamah Tinggi di Folks Road, Batavia pada tahun 1922. Seorang ahli antropologi yang sangat disegani, H. Van Wageningen dari Holland, telah memberi ulasan di Mahkamah mengenai bantahan orang-orang Mandailing itu.

Peristiwa penipuan Batak/ Belanda ini juga dikenal sebagai “Batak Maninggoring” dan telah berakhir dengan keputusan pengadilan di Folks Road yang menyatakan dengan jelas bahwa Mandailing asalnya bukan Batak dan bukan pula bagian dari daerah Batak, dan tidak pernah ditaklukan oleh orang Batak.

Ada juga peristiwa yang menyangkal anggapan Mandailing itu Batak. Kisah tanah wakaf bangsa Mandailing di Sungai Mati, Medan yang memperlihatkan tuntutan Batak Islam untuk dikebumikan ditanah wakaf khusus untuk orang-orang Mandailing. Perkara ini telah dibawa ke pengadilan Mahkamah Syariah Islam dan juga Mahkamah Raad Van Justice di Medan.

Keputusan kedua mahkamah itu menyatakan, orang- orang Batak meskipun beragama Islam tidak boleh dikebumikan di tanah wakaf yang dikhususkan untuk orang- orang Mandailing karena mereka tetap bukan orang Mandailing. Orang batak yang telah Islam dan tinggal di tanah Mandailing juga tidak benar dikebumikan di tanah wakaf Sungai Mati di Medan karena meraka bukan orang Madailing. (Abdul Wahid Lubis)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merek Susu Berbakteri Beredar

    Merek Susu Berbakteri Beredar

    • calendar_month Selasa, 15 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Menkes Sebut Itu Isu Menyesatkan JAKARTA-Tak kunjung dirilisnya merek susu yang terkontaminasi bakteri enterobacter sakazakii oleh pemerintah dimanfaatkan pihak yang tak bertanggung jawab. Kini beredar email, pesan singkat, dan pesan Blackberry Messenger (BBM) yang berisi daftar sejumlah merek susu formula dan makanan bayi ternama di Indonesia. Pesan itu menyebut merek-merek susu ternama itu masuk dalam […]

  • 2012, Cetak Sawah Seluas 700 Ha

    2012, Cetak Sawah Seluas 700 Ha

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Madina kembali mendapatkan kucuran dana dari pemerintah pusat dalam program cetak sawah tahun 2012. Tahun ini, seluas 700 hektar sawah akan dibuka dan luasan ini meningkat dari tahun lalu sebanyak 100 hektar, atau dari 600 hektar jadi 700 hektare. “Karena memang Madina masih sangat membutuhkan program ini untuk keperluan peningkatan ketahanan pangan, jumlah lahan […]

  • Petani Batal Nginap di Simpang Jalan Napa

    Petani Batal Nginap di Simpang Jalan Napa

    • calendar_month Kamis, 12 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tunggu Pertemuan Dimediasi Polres TAPSEL- Ratusan warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Andalan Napa (KTAN), Angkola Selatan yang menggelar aksi demo dengan bertahan di pinggir jalan Simpang Jalan Napa, akhirnya membatalkan niatnya. Ini setelah adanya janji Polres Tapsel yang akan memediasi warga dengan pihak perusahaan dan pemerintah. Bendahara KTAN Baginda Harahap menuturkan mereka bersedia tidak […]

  • Raja Raja Mandailing Minta Ivan Batubara Calon Bupati Madina

    Raja Raja Mandailing Minta Ivan Batubara Calon Bupati Madina

    • calendar_month Rabu, 17 Mei 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ULU PUNGKUT (Mandailing Online) – Raja-raja Mandailing meminta tokoh pengusaha asal Alahankae, Ulu Pungkut,  H. Ivan Iskandar Batubara berkenan tampil sebagai bakal calon (bakal calon) Bupati Madina di Pilkada 2024. Permintaan disampaikan pada pertemuan di Bagas Godang Alahankae, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal (Madina), Sumut, Jum’at (12/5/2023). Raja Panusunan Mandailing Godang, H Hasanul Arifin Nasution […]

  • Kadis Pendidikan Madina Sambangi SDN 126 Gunung Baringin yang Viral. Kepsek Usahakan Pengadaan Buku Baru

    Kadis Pendidikan Madina Sambangi SDN 126 Gunung Baringin yang Viral. Kepsek Usahakan Pengadaan Buku Baru

    • calendar_month Jumat, 18 Jul 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ): pasca adanya orang tua siswa yang mengeluh di media sosial terkait buku pelajaran di SDN 126 Gunung Baringin, Kecamatan Panyabungan Timur, Madina. Plt Kepala Dinas Pendidikan Madina Daud Batubara mendatangi sekolah tersebut jumat 18/7/2025. Ia ingin memastikan informasi keluhan orang tua siswa itu benar atau tidak. Pertemuan yang berlangsung di […]

  • Pemda Diminta Seriusi Teror Harimau di Ranto Panjang

    Pemda Diminta Seriusi Teror Harimau di Ranto Panjang

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal (Madina) diminta lebih serius menangani teror harimau di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Batang Gadis. Tahun ini tercatat 2 penduduk jadi korban. Yakni, Karman Lubis (32) penderes karet, tewas diterkam harimau pada Maret 2013. Kemudian Torkis Lubis (30) penderes karet, diterkam harimau pada 22 Juni 2013. Keduanya merupakan […]

expand_less