Home / Artikel / Mandailing Online di Era Online

Mandailing Online di Era Online

Catatan : Dahlan Batubara
Pemimpin Redaksi Mandailing Online

Dahlan Batubara

Dahlan Batubara

Perubahan itu teramat cepat, sangat cepat seperti revolusi. Hingga lima tahun lalu, orang mengikuti berita itu dengan membaca media cetak atau koran atau majalah. Tetapi sejak 3 tahun lalu, jumlah pembaca media cetak menurun drastis, sebaliknya pembaca online meningkat tajam, bahkan teramat tajam.

Mereka beralih ke online karena lebih mudah, lebih cepat, lebih simpel. Membaca berita via online bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dalam situasi apapun, yang penting ada jaringan sinyal.

Mereka membaca berita dan informasi lainnya dari heand phone (HP) atau laptop atau komputer. Dan HP menjadi alat mayoritas di perubahan pola baca itu. Tidak saja di kota besar, di kota kecil seperti Sidempuan, Gunung Tua, Sibuhuan, Panyabungan atau Kotanopan saja, mayoritas jenis ponsel yang terjual di toko-toko heand phone adalah jenis yang beraplikasi internet.

Penduduk yang tinggal di desa terpencil hingga desa yang dekat dengan ibukota kecamatan sudah memakai HP yang memiliki fitur internet. HP tak lagi hanya sebatas nelefon atau SMS-an lagi, telah berkembang pada kebutuhan informasi dan hiburan.

“Revolusi” itu ternyata tak hanya pada pola baca, tetapi juga terjadi di dunia industri digital. Nokia yang agak “lambat” telah digilas oleh Samsung, Oppo maupun Vivo. Black Berry tenang-tenang saja. Lalu ada produk-produk murah dari China membanjiri pasar yang memanjakan konsumen HP dengan fitur-fitur lengkap.

Lalu bagaiaman televisi? Televisi hanya mayoritas mengangkat berita yang  berskala nasional, forsi daerah kurang. Makanya mengikuti perkembangan daerah atau Sumatera Utara  memalui HP menjadi trend masa kini.

Media online telah menjelma sebagai media  terbanyak pembaca atau pemirsanya di seluruh penjuru dunia. Dampaknya, olplah susut, iklan susut. Tahun 2009 lalu grup surat kabar terkemuka di dunia Chicago Tribune sudah menyatakan bangkrut. The New York Times yang begitu hebat, sedang di ambang jurang yang sama. Utangnya yang hampir jatuh tempo mendekati Rp 40 triliun, sedangkan dana yang siap baru Rp 4 triliun. The New York Times kini  masih hidup karena menyewakan ruangan di gedungnya sehingga masih bisa terbit walau tertatih-tatih.

Di Indonesia, Serikat Penerbit Suratkabar Indonesia pernah mengungkapkan pandangan bahwa televisi dan internet tidak akan membunuh media cetak. Pandangan ini menjadi benang merah pada Seminar Media Industry Outlook 2010 sebagaimana diberitakan Kompas, 20 Januari 2010. Tetapi, hanya berselang lima tahun sejak pernyataan itu diungkapkan, sudah beberapa media cetak yang akhirnya gulung tikar.

Per 31 Oktober 2015, satu lagi media cetak yang harus tutup, diusia yang masih belia. Ialah Harian Bola yang khusus mengusung konsep olahraga utamanya sepakbola. Harian Bola menyusul rekan-rekannya yang lain, yang tutup lebih awal, misalnya Soccer yang tutup di 2014.

Beberapa anak usaha Kompas Gramedia juga tercatat ada yang ditutup, seperti Majalah Fortune. Lalu, Harian Jurnal Nasional juga mengalami masalah tragis. Per 1 November 2014 lalu, media ini juga harus tutup usia dan berubah seutuhnya menjadi media online.

Di Sulawesi Selatan, juga tercatat ada dua media cetak yang harus tutup di 2015. Keduanya masih berusia sangat muda, yakni Koran Celebes dan Koran Inilah Sulsel.

Perubahan cara baca dari cetak ke online itu tak dapat dibendung. Media online menyediakan platform berita dan informasi yang lebih murah, mudah, lebih cepat.

Lalu, selain menerbitkan edisi cetak, perusahaan surat kabar di Sumatera Utara yang berbasis di Medan pun mau tak mau harus juga meluncurkan media online mengiringi edisi cetaknya.

Meski media online telah “diserbu”, bukan berarti perusahaan media online berbahagia. Tetapi, justru menghadapi persoalan pula. Pembaca tidak membayar kepada perusahaan media online, tetapi kepada provider internet. Persoalan lainnya : bermunculan media online yang kurang keredibel, kurang dipercaya. Kondisi itu memunculkan penurunan kepercayaan publik kepada media online; seperti nila yang mengotori media online yang berjuang untuk kredibel.

Perusahaan media online belum menemukan cara yang memadai untuk mendapatkan penghasilan dari hasil perubahan cara baca itu. Sejumlah media mencoba cara : siapa yang mengakses koran online itu harus berlangganan. Tetapi cara ini tidak efektif karena sudah terlanjur fisikologi online itu gratis. Makanya, cara lain yang dipakai masih dari sektor iklan, walau kehadiran iklan ini relatif mengganggu karena si pembaca harus meng-“close” iklan itu terlebih dahulu.

Tetapi, perusahaan-perusahaan media online tetap berusaha selalu terbit tiap hari, meski “oplahnya” dicuri provider internet itu. Termasuk media online lokal seperti Mandailing Online.

Perusahaan media online skala nasional masih agak luamayan karena perusahaan-perusaan biro iklan di Jakarta masih banyak yang mau memasang iklan di sana. Beda dengan media online lokal yang sepi dari iklan.

Itu makanya, Mandailing Online belum mampu menyajikan banyak ragam berita karena hanya satu dua wartawan yang bersedia “tak bergaji” yang mau bekerja di Mandailing Online. Karena media ini masih terus mencari bentuk pencarian pendapatannya.***

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar