Jumat, 2 Okt 2026
light_mode

Marsialapari Tradisi Gotong Royong Masyarakat Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 13 Mei 2014
  • print Cetak

Oleh: Harvina, S.Sos

Tradisi gotong royong telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia. Tradisi ini dapat terlihat dari kebiasaan masyarakat kita yang saling membantu dalam melakukan setiap kegiatan, misalnya dalam prosesi pernikahan, kematian, menjaga lingkungan dan bercocok tanam. Namun, beberapa tahun terakhir, tradisi gotong royong tanpa disadari mulai terkikis keberadaannya, terutama pada masyarakat yang hidup di daerah perkotaan, yang lebih mementingkan kepentingan individu daripada kelompok.

Pada masa sekarang tradisi gotong royong mulai digalakkan kembali oleh pemerintah, dan masyarakat juga mulai menyadari betapa pentingnya gotong royong yang merupakan budaya lokal bangsa Indonesia. Masyarakat Mandailing yang berada di Sumatera Utara juga memiliki budaya atau tradisi-tradisi yang didalamnya mengandung aspek tolong-menolong. Mereka berusaha tetap mempertahankan tolong-menolong yang didalamnya mengandung nilai-nilai luhur yang diteruskan dari generasi ke generasi. Hal ini dapat terlihat pada tradisi-tradisi pengelolaan lingkungan alam. Salah satunya masyarakat Mandailing masih melakukan tradisi marsialapari.

Dalam tradisi marsialapari tersebut ada tradisi untuk saling bantu-membantu, bekerjasama dan bergotong-royong dalam mengerjakan sawah. Sehingga pekerjaan yang berat akan terasa ringan apabila dikerjakan bersama-sama.

APA ITU MARSIALAPARI?
Marsialapari merupakan salah satu tradisi yang ada di masyarakat Mandailing. Mandailing adalah salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara. Dulu Mandailing merupakan daerah Kabupaten Tapanuli Selatan, akan tetapi setelah mengalami pemekaran menjadi beberapa kabupaten/kota yaitu menjadi Kab. Mandailing Natal (Madina), Kota Padangsidimpuan, Kab. Tapanuli Selatan, Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta). Kelima daerah ini disebut Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

Di wilayah Mandailing inilah masih hidup tradisi marsialapari. Marsialapari merupakan budaya lokal yang dimiliki oleh masyarakat Mandailing dalam pengelolaan sawah mereka. Marsialapari berasal dari dua suku kata yaitu alap (panggil) dan ari (hari), kemudian ditambah kata awalan mar yang berarti saling, sementara si adalah kata sambung yang kemudian menjadi kata marsialapari, yang dapat diartikan sebagai saling menjemput hari.

Marsialapari oleh masyarakat Mandailing dikenal sebagai suatu kegiatan tolong menolong dan gotong royong. Dimana pada saat itu masyarakat Mandailing secara sukarela dengan rasa gembira saling tolong menolong/ membantu saudara mereka yang membutuhkan bantuan, yang biasanya dilakukan di sawah atau kebun. Jadi, dapat disimpulkan bahwa marsialapari adalah suatu kegiatan menolong orang lain secara bersama-sama dengan rasa gembira dan dengan harapan orang lain dapat menolong kita di waktu lain ketika kita membutuhkan. Jumlah harinya juga dihitung berapa hari, misalnya kita pergi ke sawah si A selama 7 hari, maka si A juga akan datang ke sawah kita dengan jumlah hari yang sama.

PROSESI MARSIALAPARI
Marsialapari dilakukan pada prosesi manyabii (memanen padi) ataupun prosesi marsuaneme (menanam padi), Pada saat marsuaneme (menanam padi), dibantu oleh enam hingga sepuluh orang yang berasal dari teman atau sanak saudara, baik yang muda ataupun yang tua untuk marsialapari ke sawah kita. Dalam satu hari bisa selesai marsuaneme (menanam padi), hal ini dikarenakan ada saling tolong menolong (marsialapari).

Meskipun marsialapari merupakan kerja sukarela tetapi ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki mendapat bagian pekerjaan yang tergolong lebih berat dari perempuan. Pekerjaan laki-laki berkaitan dengan perbaikan atau penyiapan saluran air, tanggul atau jalan. Sementara perempuan cenderung mengerjakan bagian-bagian yang berkaitan dengan penanaman dan pemanenan.

Puncaknya dari kegiatan marsialapari adalah manyabi (panen). Manyabi (panen) itu bagaikan pesta yang dilakukan di sawah. Saat manyabi (panen) adalah saat paling ditunggu-tunggu baik oleh peserta marsialapari maupun anak-anak. Manyabi (panen) penuh kenangan dan sangat membahagiakan mereka karena semua dikerjakan secara bersama-sama.

Dari kegiatan marsialapari ini terlihat bahwa pekerjaan yang sulit akan terasa lebih ringan apabila dikerjakan secara bersama-sama, Sehingga mengerjakan sawah yang luas tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak, cukup dengan marsialapari. Kegiatan marsialapari ini dapat bertahan karena masyarakat Mandailing masih memegang teguh nilai-nilai budaya yang ada dalam tradisi ini.

TRADISI MARSIALAPARI PERLU DIPERTAHANKAN
Dalam tradisi marsialapari terdapat kegiatan saling bantu-membantu, bekerjasama, bergotong-royong dalam menyelesaikan sesuatu perkara yang dihadapi bersama dalam lingkup kehidupan bersama. Oleh karena itu, hendaknya tradisi ini tetap dipertahankan, sebab tradisi ini merupakan cerminan budaya lokal dari masyarakat Mandailing itu sendiri.

Selain itu, dalam tradisi marsialapari tercermin nilai-nilai budaya masyarakat Mandailing Hal ini dikarenakan adanya esensi “kasih sayang (holong)” dan “persatuan (domu)” yang hidup dalam khazanah budaya masyarakat Mandailing. Dimana rasa kasih sayang (holong) dan persatuan (domu) telah tertanam dalam diri masyarakat Mandailing.

Kasih sayang dan persatuan (holong dan domu), pada masyarakat Mandailing merupakan implementasi dari adat Dalian Na Tolu, yang menjelma dalam jejaring tiga dimensi Kahanggi, Mora dan Anak Boru.

Sistem sosial dari Dalian Na Tolu tersebut yang menggiring masyarakat Mandailing untuk senantiasa memiliki rasa saling membantu dan bekerjasama dalam menyelesaikan suatu persoalan yang menyangkut kehidupan bersama. Pelaksanaan dari prinsip adat terlihat dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Mandailing yang masih menjalankan aturan adat sebagaimana yang telah ditradisikan oleh leluhur mereka.

PENUTUP
Marsialapari yang merupakan budaya lokal masyarakat Mandailing harus bisa dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan tradisi marsialapari ini tersirat kegiatan saling bekerjasama dan bergotong-royong yang merupakan cerminan masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Mandailing pada dasarnya telah mempraktekkan kegiatan gotong royong sejak dahulu dan hendaknya tetap kita jaga kelestariannya.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Paket Bahan Pangan dari Pemprovsu Disalurkan di Madina

    Paket Bahan Pangan dari Pemprovsu Disalurkan di Madina

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BUKIT MALINTANG (Mandailing Online) – Sebanyak 1000 paket dari total 54.225 paket bahan pangan untuk rakyat Madina dari Pemprov Sumut mulai disalurkan sejak Kamis (4/6/2020). Penyaluran perdana berlangsung di Kecamatan Bukit Malintang, Mandailing Natal (Madina). Penyerahan dilakukan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sumut, Ashar Harahap disaksikan Anggota DPRD Sumut dari Komisi B, H. Fahrizal Efendi Nasution, […]

  • Berkah Cinta: Model Lingerie Putuskan Berjilbab Dan Masuk Islam Setelah Menemukan Jodohnya

    Berkah Cinta: Model Lingerie Putuskan Berjilbab Dan Masuk Islam Setelah Menemukan Jodohnya

    • calendar_month Rabu, 28 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Satu pertemuan dengan seseorang biasanya bisa menjadi warna tersendiri bagi kita. Apalagi kalau orang tersebut adalah orang yang sangat berarti dalam hidup. Pasangan kita misalnya, bisa menjadi inspirasi untuk memahami apa kebahagiaan sesungguhnya. Carley Watts adalah model cantik dan seksi dengan rambut blonde. Selama ini ia berprofesi sebagai seorang model untuk brand pakaian dalam. Otomatis […]

  • MenPAN-RB : Jangan Pernah Ubah Hasil TKD CPNS

    MenPAN-RB : Jangan Pernah Ubah Hasil TKD CPNS

    • calendar_month Senin, 6 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Hasil tes kompetensi dasar (TKD) CPNS 2013 tak bisa diubah oleh siapapun. Kalau putera daerah tidak lulus, ke depan pemda dapat meningkatkan kapasitas para calon peserta tes, antara lain melalui bimbingan belajar sejak jauh-jauh hari sebelum seleksi CPNS. Penegasan ini disampaikan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Azwar Abubakar menanggapi aksi […]

  • Gubsu terima penghargaan pelopor inovasi daerah

    Gubsu terima penghargaan pelopor inovasi daerah

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    MEDAN, – Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho, menerima penghargaan pelopor Sistem Inovasi Daerah (Sida) dari Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta. Penghargaan ini diserahkan dalam acara Puncak Hari Teknologi Nasional di Taman Mini Indonesia Indah hari ini. Penghargaan Pelopor Sida merupakan apresiasi sekaligus pengakuan pemerintah pusat kepada kepala daerah yang dinilai berkomitmen memperkuat […]

  • Saipullah-Atika Jenguk dan Bantu Korban Keracunan Asal Linggabayu

    Saipullah-Atika Jenguk dan Bantu Korban Keracunan Asal Linggabayu

    • calendar_month Selasa, 12 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi (SAHATA) peduli korban keracunan makanan asal Kecamatan Linggabayu yang dirawat di Rumah Sakit Umum Permata Madina. Kedua paslon membuktikan kepedulian mereka terhadap warga yang tertimpa musibah itu. Saipullah dan Atika kompak […]

  • Kasus Cikeusik, bukti intelejen lemah

    Kasus Cikeusik, bukti intelejen lemah

    • calendar_month Selasa, 8 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Minggu (6/2) kemarin bentrokan warga masyarakat dengan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang menjadi peristiwa berdarah. Pasalnya, peristiwa itu menewaskan 3 orang, merusak sejumlah mobil dan rumah. Kejadian itu menjadi perhatian. Menkopolhukam, Kapolri, Menteri Agama dan Kejaksaan Agung menggelar rapat mendadak menyikapi kondisi yang terjadi. Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanudin, menilai kasus […]

expand_less