Home / Seputar Madina / Membangun Pendidikan Harus Melalui Hati Tulus

Membangun Pendidikan Harus Melalui Hati Tulus


Panyabungan, Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) dan Ulang Tahun PGRI Ke-65 di Kabupaten Mandailing Natal Kadis Pendidikan Drs Musaddad Daulay MM berpesan dalam membangun pendidikan guru harus melalui hati yang tulus dan ikhlas.

“Profesi (guru-red) yang harus mempunyai kesabaran dan keuletan yang luar biasa dalam upaya mencerdaskan anak bangsa agar dapat meraih prestasi yang gemilang di masa depan juga yang akan menjadi tumpuan dan harapan para orangtua serta Kabupaten Mandailing Natal guru dengan lika-liku kehidupan mempunyai tugas yang sangat berat,” sebutnya di Lapangan Perkantoran Bupati Lama se usai melakukan upacara,” Kamis (25/11).

Dikatakannya, pahlawan tanpa tanda jasa ini mungkin sekarang hanya sebuah kalimat yang tidak ada nilainya. Walau pahlawan ini tidak di ingat siapapun dan kapanpun. Padahal jika dikenang masa lalu ketika menduduki pendidikan sekolah dasar dengan mengucapkan sebuah kata dan angka yang ditotorkan oleh guru tersebut membuat sebuah makna dan arti hidup yang luas bisa dimanfaatkan sekarang ini.

“Kita akui masih banyak kekurangan dalam memberikan pendidikan di Kabupaten Mandailing Natal ini. Namun kita juga telah membuat yang terbaik demi untuk mencerdaskan anak didik yang akan menjadi generasi pemimpin bangsa ini,” sebutnya.

Sementara Kapolres Mandailing Natal Hirbak Wajyu Setiawan SIK yang bertindak sebagai inspektur upacara yang membacakan sambutan Menteri Pendidikan Nasional menyampaikan.

Selamat hari guru kepada para guru seluruh Indonesia yang saya banggakan sekaligus selamat HUT Ke-65 Persatuan Guru Republik Indonesia yang jatuh pada 26 Nopember 2010, mudah mudahan para guru dapat memberikan yang terbaik bagi bangsa dan Negara.

“Ada tiga hal penting yang harus di petik dalam rangka memperingati hari guru nasional yakni, merupakan momentum penting yang tepat untuk merenungkan atau merefleksikan diri terhadap perjalanan dan langkah panjang yang telah di lalui, ini berkaitan dengan cita-cita awal yang mendorong lahirnya Hari Guru Nasional,” sebutnya.

Sebuah cita-cita yang saat ini dicirikan dengan semangat kesedian diri untuk memberikan lebih dari kewajiban dan menerima kurang dari hak-haknya, disertai dengan keyakinan bahwa pemberian yang lebih dan penerimaan yang kurang itu dijadikan sebagai investasi kemasyarakatan, yang insa Allah pada saatnya akan memperoleh kemamfaatan lebih.

“Kedua, bersamaan dengan upaya reflektif tersebut, adalah upaya untuk instropeksi terhadap perjalanan yang selama ini telah dilakukan demi untuk mempercepat peningkatan kualitas pendidikan,” sebutnya. (man)
Sumber : Analisa

Comments

Komentar Anda