Home / Artikel / MENAGIH KUALITAS GURU BERSERTIFIKASI (2-selesai)

MENAGIH KUALITAS GURU BERSERTIFIKASI (2-selesai)

 

(tinjauan kritis jelang hari pendidikan nasional)

Oleh : Moechtar Nasution

 

CERTIFICATE ORIENTED

Untuk mengejar sertifikasi tidak jarang kejujuran dinomor sekiankan padahal penguatan terhadap karakter ini begitu mendominasi kurikulum 2013. Begitu pentingnya penguatan karakter ini sehingga kurikulum 2013 didesain sedemikian rupa untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai ini kembali hadir didunia pendidikan. Namun nyatanya pergeseran pradigma  terjadi  dalam konteks sertifikasi ini menjadi “Certificate Oriented” dengan melampirkan piagam penghargaan dari organisasi yang melaksanakan ragam kegiatan dan sebagainya padahal tidak diikuti.

Dewasa ini terkesan sekali terjadi banyak guru jadi pengumpul sertifikat/ piagam penghargaan dan lain sebagainya mulai dari acara kecamatan hingga nasional apalagi sertifikatnya memiliki nilai/ bobot  perjam kegiatan. Ini menjadi incaran dan untuk mendapatkan ini secara instans merogoh kocekpun tidak dipersoalkan. Indikasi kecurangan ini memang sering mengemuka dalam penyusunan berkas portofolio .Ternyata biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan sertifikasi ini sedemikian mahal, bukan hanya mahal dalam artian ekonomi namun lebih dari itu ada juga biaya sosial yang harus dikeluarkan termasuk menggadaikan kejujuran.

Dan yang tidak pernah terpikirkan, kebiasaan  ini diyakini dampaknya pasti panjang, bukan hanya sekedar menyandera diri sendiri namun juga berpengaruh kepada anak didik. Mengutip kalimat filosofi Yunani “kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang. Mengasahnya, hingga bukan lagi suatu tindakan, tapi kebiasaan”.

Hal senada juga dikatakan Confusius, filosof China yang menyebut  “seseorang yang melakukan kesalahan dan tidak membetulkannya berarti telah melakukan satu kesalahan lagi”, padahal jika disimak pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan pada peringatan HUT Guru tahun 2014 disebutkan secara jelas menjadi guru itu bukanlah pengorbanan, melainkan sebuah kehormatan karena telah memilih hadir bersama anak-anak para pemilik masa depan Indonesia.

Guru adalah ujung tombak pendidikan dalam masyarakat yang seharusnya bisa menjaga integritas supaya jangan ternoda dari hal tercela. Jika guru sebagai pendidik, pengayom, pembimbing, dan pembina anak didik sudah menghilangkan nilai karakter dari dirinya sama saja artinya seperti mencabut pohon berikut akarnya.

Pertanyaannya mudah dan sederhana akan seperti apakah generasi bangsa 10 tahun dan 20 tahun kedepan jika hari ini mereka dididik oleh guru yang sudah menghilangkan nilai karakter dari dirinya? Karakter moral yang kuat justru dapat membantu peserta didik memahami kebaikan, mencintai kebaikan dan menjalankan kebaikan (know the good, love the good, and do the good).

Mengutip pidato Anis Baswedan disebutkan “potret Indonesia hari ini adalah potrer hasil pendidikan dimasa lalu. Potret pendidikan hari ini adalah potret Indonesia masa depan. Jadikan rumah dan sekolah menjadi zona berkarakter mulia. Izinkan anak-anak merasakan rumah yang membawa nilai kejujuran. Izinkan anak-anak merasakan sekolah yang guru-gurunya teladan. Biarkan anak-anak mengingat kepala sekolahnya dan seluruh tenaga kependidikan disekolahnya sebagai figur-figur bersih dan terpuji karakternya”.

Pernahkah kita berpikir berapa banyak dana yang digelontorkan pemerintah untuk menanggulangi biaya ratusan bahkan ribuan guru yang sudah bersertifikasi ini? Jika pernah terlintas dipemikiran maka sudah saatnya semua pihak mulai sekarang  memperbaiki diri. Anggaran pendidikan tahun ini meningkat signifikan dari anggaran pendidikan tahun-tahun sebelumnya.

Tentunya kenaikan anggaran ini dimaksudkan untuk peningkatan kualitas pendidikan seperti kualitas guru termasuk di dalamnya untuk tunjangan sertifikasi guru walaupun disisi lain sang menteri juga mengakui bahwa pekerjaan rumah pemerintah disemua level masih banyak mulai dari status kepegawaian, kesejahteraan serta hal lainnya yang berhubungan dengan guru masih banyak yang harus dituntaskan semisal masih banyak ruang kelas yang tidak memadai dan fasilitas belajar yang ala kadarnya.

Kedepan tentu saja harapan kita semua kiranya jangan ada lagi guru bersertifikasi yang memberikan jam mengajarnya kepada guru  honorer dengan alasan yang diada-adakan, jangan ada lagi guru yang tidak mengerti membuat  RPP dan Silabus, jangan ada lagi guru bersertifikasi yang tidak memenuhi ketentuan jam mengajar 24 jam perminggu, dan yang terpenting sekali jangan ada lagi “uang ini uang itu” ketika guru menyiapkan dokumen sertifikasinya, dan satu lagi jangan terjadi “salam setoran sertifikasi” seperti yang diungkapkan Abdul Hakim Siregar, MSi  Guru MSN 2 & SMASNI Padangsidimpuan dalam opini di harian nasional Waspada pada tahun 2014 dan sebagainya.

Semakin berkualitas guru dari segi kompetensi dan didukung dengan tingkat kesejahteraan yang semakin memadai maka dipastikan proses belajar mengajar juga akan berjalan dengan baik. Ini memiliki korelasi dan saling mengisi. Jika proses belajar mengajar berjalan dengan baik maka peserta didikpun akan bisa mengerti pelajaran dengan baik juga. Hasilnya akan menjadikan pendidikan semakin bermutu dan berkualitas karena sejatinya diruang-ruang kelas inilah anak didik bersiap bukan saja untuk menyongsong tetapi juga memenangkan masa depan.

 

FILOSOFI DAN HISTORY

Negara berkeinginan agar masyarakat Indonesia mendapatkan pendidikan berkualitas dan bermutu. Ditangan  para pendidik inilah harapan bangsa dan masyarakat diletakkan. Persiapan masa depan bangsa dan negara Indonesia dititipkan pada mereka. Maknanya sangat sarat dengan kekuatan filosofis dan kesejarahan, karena dibalik tunjangan sertifikasi ini tersimpan pengharapan mulia dan luhur dari anak-anak bangsa yang ingin kelak nanti bisa mengubah dunia mereka lebih cerah dan cemerlang.

Makna filosofisnya tunjangan sertifikasi ini sebenarnya bukanlah hak mutlak milik guru seutuhnya, namun juga ada hak peserta didik yang melekat erat didalamnya yakni hak mendapatkan pendidikan bermutu, untuk itu maka sudah sewajibnya tunjangan sertifikasi dipergunakan untuk pengembangan kemampuan, peningkatkan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya sehingga memiliki efek rembesan yang signifikan bagi anak didik.

Makna kesejarahannya terletak pada upaya bangsa untuk bisa menghadirkan pendidikan yang merdeka. Panjang dan berliku nian episode perjalanan sejarah pendidikan bangsa hingga hari ini, namun pelan tapi pasti tingkat kesejahteraan guru sudah bisa dikategorikan “mampu” dewasa ini. Penggalan sejarah menjadi bukti tentang susahnya mendapatkan  akses pendidikan karena kendala politik, ekonomi, status, gender dan sebagainya.

Inilah yang mengilhami Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia mendirikan Taman Siswa. Upaya ini harus dihargai, dicontoh dan dijadikan panutan bagi kita dizaman sekarang. Dahulu mereka-mereka yang mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan tidak pernah mendapatkan apa-apa sepanjang hidupnya kecuali nama baik. Negara hanya mampu memberikan gaji yang tidak seberapa ditambah beras “catu”.  Masih ingatkah kita dengan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ingan Mada Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani?

Dengarlah cerita para orangtua tentang nasib guru dizaman dahulu. Mereka hidup bersahaja dan penuh keuletan, bahkan selesai mengajar dibangku formal biasanya bagi guru laki-laki setiap sore atau malam akan memanfatkan waktu menjadi guru mengaji anak-anak kampung yang uang lelahnya bisa dibayar dengan beras atau sayuran. Bagi guru perempuan selain menunaikan tugas sebagai ibu rumah tangga mereka kerap juga menjadi sumber peningkatan pengetahuan bagi kaum hawa didesanya terutama membina pengajian bagi inang-inang dan nauli bulung.

Tugas tidak berhenti disini saja, mereka masih sering menerima keluhan masyarakat yang ingin mengadukan permasalahannya. Kenapa mereka bisa melakukan semua itu padahal saat itu belum ada angka kredit? Bukankah yang mereka kerjakan ini merupakan bagian dari penilaian yang disebut sertifikasi dizaman sekarang ini? Kenapa guru dahulu amat sangat dihormati dan dimuliakan masyarakat?

Begitu tinggi nilai dan penghargaan masyarakat terhadap guru dimasyarakat. Sebutlah di desa Pagur  salah satu desa dikaki pegunungan Bukit Barisan wilayah Mandailing Natal, masyarakat selalu meletakkan nama profesi guru ini terlebih dahulu didepan nama orangnya misalnya guru Sampe, guru Nasrun, guru Nukman dan sebagainya bahkan ketika sudah purnabakti sekalipun panggilan masyarakat tetap tidak akan berubah – tetap akan memanggil mereka dengan sebutan guru. Mereka-mereka ini yang  disebut dengan Umar Bakri  sosok pahlawan tanpa tanda jasa.

 

HARAPAN KEDEPAN

Kita tidak pungkiri kenyataan bahwa banyak juga guru yang bisa memahami makna sertifikasi ini. Mereka menjelma jadi sosok guru profesional yang bukan hanya mengejar dana sertifikasi semata namun lebih kepada panggilan nurani untuk  melakukan pengabdian. Uang sertifikasi dikelola dan dimanfaatkan untuk kegiatan yang mendukung dan menunjang kinerja yang berkualitas. Mereka jadi guru berdedikasi dan guru berprestasi. Merakalah guru sejati, dan merekalah guru anak bangsa. Mereka jadi tokoh dan panutan  bukan hanya diruang-ruang kelas, namun juga dimasyarakat. Mereka hadir membawa senyum dan berbekal kerahiman menyongsong anak bangsa dengan kasih sayang yang sepenuh hati. Mereka terlibat dalam kegiatan keilmuwanan, membuka ruang diskusi keintelektualan, aktif dalam keorganisasian dan kemasyarakatan serta lainnya.

Sertifikasi dengan tujuan peningkatan kesejahteraan guru hendaknya jangan hanya dipandang sebagai suatu kegiatan formal belaka untuk mendapatkan tunjangan tambahan. Namun lebih dari itu didalam sertifikasi ini juga terkandung suatu tanggung jawab dari guru untuk selalu meningkatkan profesionalismenya dengan dinamis. Harus disadari bahwa sertifikasi tidak akan pernah bisa menjadikan guru jadi sosok yang paling berkompeten, paling tahu, paling benar, dan tidak pernah salah.

Kedinamisannya terletak pada tuntutan untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, sains, teknologi, komunikasi dan informasi lebih-lebih lagi dihadapkan pada cepatnya dinamika zaman yang menuntut kesigapan menerima perubahan. Bukan kebanggaan lagi menerangkan pelajaran didepan kelas  dengan mengandalkan buku paket semata tapi sekarang sudah menjadi hal yang biasa seorang guru menerangkan materi pelajaran dengan mempergunakan LCD Proyektor dan peralatan tekhnologi lainnya seperti internet.

Mari bertandang sejenak Ke Purawakarta, Jawa Barat dimana Bupatinya, Dedi Mulyadi pernah membuat peraturan melarang guru membawa buku saat menerangkan pelajaran didepan kelas. Kebijakan ini diambil daerah sebagai salah satu cara untuk memastikan bahwa pendidikan semakin berkembang. Kenapa dikatakan berkembang? Jawabannya sederhana. Dengan tidak membawa buku, maka dipastikan guru akan belajar terlebih dahulu sebelum tampil.

Ada upaya memperbaiki diri untuk lebih menguasai bahan ajar, memperkaya penguasaan materi, memperbanyak media pembelajaran, lebih memahami RPP dan Silabus, dan lain sebagainya sehingga dengan demikian diharapkan berdampak positif pada majunya tingkat pengetahuan anak didik. Larangan membawa buku, menurut Dedi, akan memaksa guru melakukan kreativitas dan pengayaan yang memungkinkan dirinya mengekspresikan dan mengelaborasi seluruh kemampuan yang dimilikinya.

Terlepas dari kontroversi, larangan ini jika dinilai positif akan memberikan ruang dan waktu bagi guru untuk mengembangkan kompetensi yang dimiliki terutama penyesuaian dengan transformasi zaman. Katakanlah berkontemplasi terlebih dahulu. Anak didik sekarang sudah sangat akrab dengan facebook, twitter dan media sosial lainnya. Buku sekarang sudah semakin fleksibel dan banyak pilihan, begitu juga dengan media pembelajaran yang semakin variatif, media online mewabah, buku digital juga sudah merambah dan mulai menggeser posisi buku manual yang mulai terpinggirkan bahkan internet juga sudah masuk desa. Sudah sewajibnya kondisi ini dicermati karena biar bagaimanapun tantangan zaman harus terjawab dan tertuntaskan semisal tekhnologi kependidikan yang sangat cepat perkembangannya.

Sebagai pendidik profesional, guru semestinya belajar seumur hidup (long life education). Bukan hanya peserta didik yang perlu belajar, guru juga harus terus belajar dan belajar bahkan guru dituntut untuk lebih banyak belajar lagi walaupun usia semakin menua. Socrates, seorang filosof juga belajar musik setelah berusia tua. Orang kemudian bertanya padanya “apakah engkau tidak malu belajar diusia tua?”. Sederhana dia menjawabnya “aku merasa lebih malu lagi menjadi orang bodoh diusia tua”.

Sejatinya peningkatan mutu dan kualitas diri  guru semakin naik “tensinya” dengan tunjangan sertifikasi. Sekarang pilihannya terletak ditangan guru dan guru juga yang akan menjawabnya apakah masuk kategori profesional atau tidak. Tentu saja jawabannya ada dihati, sikap, perbuatan dan tingkah laku disaat menjalankan tugas dan pengabdian. Dari tangan merekalah lahir pemimpin-pemimpin yang bisa membawa bangsa ini semakin maju dan baik dimasa depan.

 

PENUTUP

 Anis Baswedan menyebut suatu saat kelak nanti pasti Ibu dan Bapak Guru dapat melakukan refleksi atas apa yang sudah dijalani sambil bersyukur bahwa disaat Indonesia sedang mengubah wajahnya menjadi lebih baik, lebih bersih, lebih jujur, lebih cerdas, lebih kreatif dan lebih cerah, Ibu dan Bapak Guru memegang peran penting. Kelak Ibu dan Bapak dapat berkata “saya disana, saya terlibat. Sekecil apapun saya ikut mendidik generasi lebih baik. Saya ikut melahirkan generasi baru dan ikut berkonstribusi membuat wajah Indonesia yang lebih cemerlang dan membanggakan”.

Saatnya sekarang pembuktian kualitas guru sesuai dengan sertifikasi yang diterima, demi masa depan bangsa, demi harapan bersama dan demi generasi emas Madina. Saatnya juga sekarang kita menempatkan posisi guru kedalam barisan terhormat, tempat orang-orang yang semestinya diberikan penghargaan sepenuh hati.

Mereka telah mendidik kita sampai akhirnya menjadi Bupati, Ketua partai politik, Ketua Panwas, Akademisi, Uztad, Dokter, Pilot dan sebagainya. Ingatkah anda cerita Kaisar Hirohito sesaat setelah bala tentera sekutu membombardir Jepang pada perang dunia kedua. Dia tidak menanya jumlah prajurit yang meregang nyawa namun dia bertanya berapa lagi guru yang tersisa karena dengan hadirnya guru maka makna kehidupan pasti akan tetap terjaga.

Terimakasih Bapak dan Ibu Guru…namamu akan selalu hidup didalam sanubariku… Engkau adalah pelita dalam kegelapan. Wallahu a’lam bi ash- shawab.***

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar