Home / Artikel / Mencari Realitas Budaya Adiluhung Madina: “Buruk Muka Cermin Dibelah?”

Mencari Realitas Budaya Adiluhung Madina: “Buruk Muka Cermin Dibelah?”

 

Oleh : Bayo Nasution

Setiap daerah terbentuk dan berkembang dengan sejarahnya sendiri. Seperti yang lain, Madina menyimpan begitu banyak bukti-bukti historis. Pertanyannya: Apakah Madina memiliki sejarahnya sendiri, sehingga sejarah itu bisa diperlakukan sebagai satu modal tersendiri untuk menjadi kabupaten yang maju dan makmur? Jawabannya, sudah barang tentu. Sejumlah artepak yang masih ditemukan merujuk pada masa-masa gemilang.

Bahkan, sejumlah simpul-budaya tetap menjadi masyarakat adat dan mempertahankan keberlangsungan sistem dan nilai-nilai budayanya. Sebut saja tatanan sosial berupa adat dalian natolu yang terdiri dari unsur: mora, kahanggi dan anak boru. Dalam dinamika sosial, mora berperan sebagai born protector (pengayom sejati) bagi pihak yang berberan sebagai anak boru.

Di konteks sosial yang berbeda, keluarga pihak mora justru berganti peran menjadi anak boru. Karena itulah, masyarakat Mandailing memiliki kemandirian yang kokoh. Penerapan nilai-nilai budaya patrinelineal itu bahkan melingkupi hingga ke luar daerah administratif Madina. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata, menggambarkan, "Peta budaya orang mandailing sesungguhnya jauh lebih luas jika dibandingkan dengan dengan peta administrasi Madina." Begitu juga hirarki kelembagaan namora natoras, harajaon, haguruan dan hatobangan masih hidup dalam masyarakat Madina.

Manajemen kepemimpinan dan metode-metode pengambilan keputusan kolektif, seperti musyawarah atau marpokat, markotan dan lain-lain yang lebih teknis masih eksis dengan beberapa variannya. Pranata-pranata tradisional itu memang tetap eksis di tengah-tengah masyarakat Madina. Akan tetapi, belum dimanfaatkan secara formal dalam kegiatan pembangunan daerah. Potensi ini justeru digerakkan dalam kegiatan politik praktis, seperti Pemilu Legislatif dan Pilkada.

Fakta-fakta baru juga masih terus bermunculan sebagai bukti bahwa sejarah budaya Mandailing Natal tidak hanya berkembang merambat secara perlahan dari titik kekuasaan utama di Panyabunga Tonga, Hutasiantar, Pidoli dan Gunung Tua, tapi juga secara sporadis melompat (ekspansif) ke daerah pesisir Batang Natal, Air Bangis di Kabupaten Pasaman (Sumbar), Sidaludalu di Kota Pinang, Labuhan Batu, Langkat, Kisaran, Medan dan juga hingga Semenanjung Malaysia.

Munculnya sejumlah kepala daerah bermarga Mandailing di luar Madina pasca-otonomi daerah, seperti Kabupaten Pasaman merupakan pertanda bahwa nilai-nilai budaya masyarakat Mandailing telah berkembang sejak lama di luar Madina. Begitu juga kemudian mengemuka frame adat "Mandailing Malaysia dan Indonesia" dalam beberapa akronim seperti LAMA, MMI dan IMAMI, seiring dengan pengakuan pemerintah Malaysia atas seni budaya Gordang Sambilan dan tarian tortor.

Di senjakala sejarah itu, Mandailing sempat menjalin kontak dengan Kerajaan Mataram dan Sriwijaya. Bahkan, Mpu Prapanca menuliskan dalam buku "Negarakertagama" pada 1365 bahwa Mandailing merupakan bagian penting dari Nusantara. Tak terbantahkan, sejarah telah mencatat cikal-bakal Madina merupakan suatu guratan budaya yang adiluhung.

Karena itu, jika nilai-nilai historik dari sisi budaya itu dapat dihadirkan kembali dalam frame kehidupan modern, tentu Madina memiliki modal pembangunan yang lebih dari cukup. Inilah Madina yang juga menggeliat kuat untuk berprogres gesit secara signifikan bagi peningkatan taraf hidup dan kualitas kesejahteraannya senapas dengan visi: "Terwujudnya Masyarakat Mandailing Natal yang Religius, Cerdas, Sehat, Maju dan Sejahtera."

Saat ini, menjelang HUT ke-16, tak perlu dulu menjawab: sejauh mana capaian Pemkab Madina. Jika tak becus menciptakan progres seirama dengan modal sejarah sehebat itu, Pemkab dan DPRD Madina memang perlu berkaca. Jika tampak wajah buruk di kaca, janganlah kaca dibelah.***

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar