Home / Artikel / Menyikapi Perubahan Musim yang Tak Menentu

Menyikapi Perubahan Musim yang Tak Menentu

Rahmat Ami Putra

Catatan : Rahmat Ami Putra, S.T

 

Indonesia merupakan suatu negara sub-tropis yang memiliki dua musim, yaitu penghujan dan kemarau. Belakangan ini pergantian antara musim kemarau dengan musim penghujan sudah mulai susah ditebak, beda dengan waktu sebelum tahun 2010-an. Musim kemarau terkadang sangat panjang, begitu juga dengan musim penghujan, sehingga sering terasa terik yang berkepanjangan saat kemarau melanda dan genangan yang tanpa berkesudahan ketika di guyur hujan tak berkesudahan. Begitulah gambaran pergantian musim yang mulai berubah-rubah.

Begitu juga dengan Kab. Mandailing Natal (Madina), salah satu kabupaten yang terdapat di pulau Sumatera, tentunya juga memiliki musim yang sama. Musim yang susah diperkirakan ini menjadi suatu masalah besar bagi rakyat Madina, mengingat sebagian besar rakyatnya yang memiliki mata pencaharian sebagai petani, sehingga pengaruh musim tersebut sangat menentukan terhadap kualitas panen mereka.

Musim kemarau yang panjang bahkan sampai membuat tanah menjadi kering hingga tanaman harapanpun menguning sebelum mati kering. Musim hujan yang dinanti menghanyutkan asa ketika tak kunjung berhenti hingga tanamanpun tergenang tak berarti. Apalagi bagi petani karet, musim sekarang bukanlah musim yang pernah mereka mimpikan, musim kemarau membuat pohon kering hingga getahpun enggan untuk menetes. Begitu juga dengan musim penghujan, getah menjadi encer hingga tak ada satupun toke yang mau menampungnya. Benar-benar serba salah, ibarat buah simalakama.

Pergantian musim yang berubah-ubah tidak tertebak ini memberikan pengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat. Pekerjaan sebagai petani menjadi mata pencaharian yang dielakkan, masyarakat mulai beralih menjadi tenaga pemerintahan, persaingan menjadi Pegawai Negeri Sipil semakin ketat hingga tak jarang banyak ditemukan kecurangan ditambah lagi minimnya formasi yang disediakan. Tak ada rotan akarpun jadi, tak bisa menjadi PNS sebagai tenaga honorer pun jadi. Sehingga ini semakin menambah beban pemerintah dalam hal pengupahan disela-sela minimnya anggaran. Jelas pergantian musim ini menjadi hal yang sangat berpengaruh ditengah-tengah kegiatan pemerintahan.

Ternyata permasalahan pergantian musim tidak cukup sampai disitu saja. Salah satu efek yang ditimbulkan selain yang disebutkan diatas adalah ancaman bencana alam. Misalnya kekeringan, tanah longsor dan banjir. Hal ini jelas sangat merugikan, selain banyaknya kerugian materi yang dikorbankan ditemukan juga kerugian mental dan psikologi yang sangat berpengaruh terhadap masa depan keberlangsungan hidup.

Sehingga, permasalahan pergantian musim ini tidak cukup sekedar diratapi atau bahkan hanya sekedar menyiapkan rencana penanggulangan semata, namun perlu juga antisipasi pencegahan dan upaya dalam meminimalkan kerugian akibat pergantian musim ini. Pergantian antara musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya sudah menjadi suratan takdir tanah air ini, tak mungkin digeser atau dirubah menjadi musim yang diinginkan. Solusinya hanya dengan mecari suatu langkah dan rencana pembangunan yang tepat diantara musim yang terus mendesak.

Pengelolaan anggaran dan rencana pembangunan harus disusun dengan lebih hati-hati lagi, bukan sekedar bagaimana cara untuk membelanjakan anggaran semata, namun bagaimana anggaran itu dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Misalnya, pembangunan jalan dalam desa, memang itu penting dalam sebuah pembangunan dan peningkatan perekonomian rakyat, tetapi hal yang lebih penting lagi yaitu membebaskan suatu perkampungan dari ancaman bencana yang kerap menghantui. Jika infrastruktur suatu pedesaan sudah dilengkapi, namun ancaman bencana tidak diantisipasi, maka infrastruktur yang dibangun itu akan sia-sia ditelan ludes oleg bencana.

Masalah pergantian musim ini bisa juga diantisipasi dengan pembuatan suatu waduk penyimpanan air berlebih atau juga sebagai persediaan air dimusim kemarau, namun hal ini juga harus dikaji terlebih dahulu disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang tersedia.

  • Penulis tinggal di Kayujati, Panyabungan / Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

 

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar