Home / Budaya / Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 1)

Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 1)


Oleh: HARIS SUTAN LUBIS
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Willem Iskander (Sati Nasution)

Abstract
Willem Iskander is known as an educator and man of letters from South Tapanuli. He produced poem and prose in Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk in nineteenth century. His prose is differed from the prose form at that moment. The form of his prose is short story, which in Indonesian literature is known as the modern prose and starts to be blazed by M. Kasim and Suman Hs by the end of 1930. Despitefully, Willem Iskander has also done the modernization at the election of the humanism theme, such as having phobia, surrenderness, responsibility, affection, and crime.
Key words: modernization, short story, form, and theme

1. PENDAHULUAN

Kesusastraan merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia yang sangat berharga dan memiliki nilai yang beragam. Pada satu sisi karya sastra dapat pula menampilkan wajah kultur zamannya dan oleh karena itulah sifat-sifat suatu zaman dan persoalan-persoalan yang ada di dalam masyarakat tersebut dapat dibaca melalui karya sastra. Hal ini dapat terjadi karena pengarang sebagai salah seorang anggota masyarakat hidup dan berelasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, kegelisahan masyarakat menjadi kegelisahan para pengarang, harapan-harapan, penderitaan-penderitaan, dan aspirasi suatu masyarakat di mana pengarang berada, menjadi bagian dari pribadi pengarang tersebut. Namun demikian, untuk memberi suatu defenisi yang lengkap tentang sastra merupakan sesuatu yang sangat berat. Karya sastra dalam suatu masyarakat belum tentu diakui sebagai sastra oleh masyarakat lainnya, sebagai contoh serat weda tama bagi masyarakat Jawa pastilah dianggap sebagai sebuah hasil sastra, namun belum tentu bagi masyarakat lainnya. Begitu juga mantra dalam masyarakat tradisional mempunyai fungsi keagamaan yang dominan tetapi bagi masyarakat modern justru menjadi ciri kesasteraannya yang paling mengesankan. Yang jelas dari karya sastra dapat diketahui bermacam-macam persoalan, pesan atau pun gambaran tentang sesuatu dalam suatu zaman, karena sastra memang difungsikan sebagai alat pelaksanaan acara-acara keagamaan. Oleh karena itu, setiap hasil sastra dari suatu zaman dan pengarang merupakan suatu objek kajian yang selalu menarik dan bermanfaat bagi kehidupan suatu masyarakat ataupun bangsa, setidaknya bagi kepentingan pengkajian sejarah kesusasteraan bangsa tersebut.

Di daerah Tapanuli Selatan tepatnya di daerah Mandailing telah lahir seorang sastrawan yang memiliki wawasan serta konsep kehidupan yang luas. Sastrawan tersebut adalah Ali Sati Nasution Gelar Ja Sikondar yang lebih populer di sebut Willem Iskander. Willem Iskander yang hidup pada tahun 1840-1876 mendapat kesempatan mengikuti pendidikan pada sekolah dasar di Panyabungan pada usia 13 tahun. Tiga tahun setelah mengikuti pendidikan tersebut beliau dibawa Asisten Residen Mandailing Angkola untuk mengikuti pendidikan di negeri Belanda. Hal ini terjadi karena kepintaran beliau, di samping sebagai seorang keturunan raja yang berkuasa di masa itu. Tiga tahun setelah mengikuti pendidikan di negeri Belanda, beliau mendapat ijazah guru bantu dan kembali ke Mandailing dan mendirikan sekolah guru (Kweekschool) di Tanobato, serta memimpin sekolah tersebut selama hampir 12 tahun.

Di samping sebagai seorang tokoh pendidikan pada masa itu Willem Iskander sebenarnya dikenal pula sebagai sastrawan daerah Mandailing yang paling terkemuka sampai saat ini. Kesimpulan itu diperoleh setelah menelusuri dan memahami nilai-nilai yang terdapat dalam karyanya Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk yang dikarangnya antara tahun 1860-1870. Berbicara mengenai sastra daerah dalam cakupan se Indonesia sebenarnya harus dilakukan suatu telaah yang sangat luas, disebabkan banyaknya ragam dan corak yang akan ditemui. Hal ini dimungkinkan karena setiap masyarakat bahasa mempunyai sastranya sendiri. Demikian juga kalau membicarakan sastra daerah Tapanuli Selatan sebagai bagian dari sastra daerah se Indonesia, maka kita pun semestinya harus melalui suatu penelaahan yang luas dan mendalam, harus kembali meneliti sastra lisan. Keragaman dan kekayaan Tapanuli Selatan dalam bidang kesusastraan ini karena letak wilayah Tapanuli Selatan yang banyak menerima pengaruh budaya yang datang dari luar daerahnya.

Di dalam kesusastraan klasik Indonesia kita akan menemukan pantun sebagai jenis puisi klasik tertua, maka di daerah Tapanuli Selatan ditemukan jenis tesebut yang dinamakan sebagai ende-ende. Sebagaimana dikatakan Hartoyo Andangjaya (Damono 1981: 25) bahwa jenis pantun itu pulalah yang paling luas tersiar di kalangan masyarakat dan hidup terus selama berabad-abad, yang menjadi alat pengucapan bagi kesedihan, nafsu-nafsu erotik dan juga norma-norma etikanya. Menurut Van Ophuysen (Usman 1963: 145) malah kejadian pantun sama seperti ende-ende di Tapanuli Selatan yang berasal dari bahasa daun-daunan, bahasa kiasan, dan bahasa sindiran.

Sementara untuk jenis prosa sebagaimana juga dikenal di setiap daerah di Indonesia, maka jenis yang lazim dijumpai ialah jenis cerita rakyat seperti dongeng, tentang binatang, makhluk halus, kalangan istana atau juga cerita-cerita humor yang selalu diceritakan dari satu mulut ke mulut yang lain sebagai cara untuk menginformasikannya.

Dengan demikian dari uraian singkat tentang sastra daerah Tapanuli Selatan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk dan jenis kesusastran yang terdapat di Tapanuli Selatan pada kesusastraan Indonesia klasik ialah bentuk prosa dan puisi yang masing-masing bersifat lisan. Isinya ditandai dengan gambaran dinamika kehidupan masyarakat tradisional yang statis dan tradisi itu berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni sejak manusia mengenal bahasa lisan sebagai alat komunikasi dan alat ekspresi sampai dengan permulaan abad ke XX sebagaimana perkiraan awal munculnya sastra modern di Indonesia seperti dikatakan oleh Teeuw 1982:11) bahwa sejak awal abad ke XX ini — atau sedikit sebelumnya — di Indonesia mulai diciptakan sastra yang biasanya disebut modern, yaitu lain dari tradisional.

2. PERMASALAHAN

Willem Iskander lebih dikenal oleh masyarakat Mandailing sebagai seorang tokoh pendidikan dan penyair. Sebagaimana disinggung sebelumnya, sebagai tokoh pendidikan beliau sempat mendirikan sebuah sekolah guru di Tanobato dan memimpinnya selama hampir dua belas tahun.

Lembaga pendidikan ini berhasil melahirkan guru-guru bermutu yang menyebar mengajar ke hampir seluruh wilayah Sumatera. Sementara sebagai seorang penyair beliau dikenal karena kekuatan puisi-puisinya, baik dari segi tema maupun dari sudut kemahiran Willem Iskander dalam mengungkapkan pesan-pesannya, sehingga puisi-puisi tersebut mampu membangkitkan semangat kaum pergerakan di Tapanuli Selatan sekitar tahun tiga puluhan. Sehingga dari kedudukannya sebagai seorang penyair, beliau ditempatkan sebagai seorang penyair modern daerah Mandailing abad kesembilan belas (Lubis 1985).

Sebagai seorang cerpenis, kiranya belum banyak yang mengenal beliau, apalagi mengungkapkan keberadaannya sebagai seorang pengarang prosa dari zaman kesusastraan tradisional, meskipun sebenarnya prosa-prosa yang diciptakannya itu juga dikumpulkannya di dalam Si Bulus-Bulus Si Rambuk-Rambuk.

Prosa-prosa yang diciptakannya pun sebenarnya tidaklah begitu banyak, melainkan hanya sepuluh buah. Oleh karena itulah apabila ditinjau kedudukannya sebagai seorang penulis prosa maka tidaklah dapat dikatakan kalau Willem Iskander merupakan seorang penulis prosa yang berhasil, mengingat jumlahnya yang tergolong sedikit. Namun keberhasilan seorang penulis prosa tidaklah mutlak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya prosa yang dihasilkannya, tetapi dapat pula ditinjau dari kemampuannya berkreativitas dalam memanfaatkan dan mengembangkan bentuk prosa tersebut dari keadaan yang biasanya kepada keadaan di luar tradisi sastra tersebut. Oleh karena itu, bukanlah merupakan suatu kelemahan kalau tinjauan kali ini akan beranjak dari kecermelangan beliau dalam melakukan pembaharuan bentuk prosa di luar jenis prosa yang biasa atau lazim terdapat pada zaman hidupnya. Untuk itu kesepuluh prosa yang ditulisnya disekitar tahun 1860-1870 tersebut merupakan objek penelaahan yang akan berusaha membuktikan pembaharuan yang dilakukannya terhadap bentuk prosa sebagai manifestasi kemajuan wawasan dan pola pikirannya dalam kedudukannya sebagai seorang sastrawan daerah yang hidup di abad kesembilan belas yang lalu. (bersambung)

Sumber awal: LOGAT, JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA Volume III No. 1 April Tahun 2007 (Halaman 18 – 25), lihat http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16669/3/log-apr2007-3%20(1).pdf.txt.

Sumber kedua : http://gondang.blogspot.co.id/search/label/puisi%20dan%20prosa%20lama

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar