Home / Budaya / Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 2)

Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 2)

Willem Iskander (Sati Nasution)

 

 

 

 

 

Oleh: HARIS SUTAN LUBIS
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

 

 3. PEMBAHASAN

Memberikan pengertian serta batasan-batasan apa dan bagaimana sebenarnya yang dikatakan sebuah cerita pendek adalah suatu pekerjaan yang rumit dan bahkan menjurus kepada kesia-siaan belaka. Ukuran panjang atau pendeknya sebuah cerita pun ternyata belum bisa memastikan apakah cerita tersebut tergolong cerita pendek atau bukan, sebagaimana dikatakan Mochtar Lubis (1981: 10) bahwa ada cerita pendek yang terdiri dari lima ratus perkataan, tapi ada pula yang sampai 40.000 perkataan. Namun seperti kata Richard Summer, bahwa sebuah Vijnetta bisa dan sering termasuk dalam golongan cerita pendek. Oleh karena itu sangat sulit untuk memberikan defenisi yang tepat dan tegas tentang cerita pendek. Di samping itu, Mochtar Lubis masih memberikan gambaran bahwa sebuah karangan tentang pasar misalnya, akan menjadi cerita pendek jika di dalamnya dijalinkan suatu insiden suatu kejadian pada salah seorang atau beberapa orang yang berada dalam pasar itu. Sementara sebuah cerita yang pendek tentang seseorang, bukan cerita pendek, jika dalam karangan itu tidak dimasukkan jasmani atau rohani manusia yang berlaku di dalamnya.

Namun, cerita pendek mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Misalnya tidak mungkin menceritakan keseluruhan aspek kehidupan seorang tokoh. Akan tetapi di dalam sebuah cerita pendek dimungkinkan untuk mengemukakan tanggapan-tanggapan saat-saat hidup yang oleh karena sesuatu sebab dapat diangkat ke permukaan dan ditonjolkan. Sebagai gambaran sederhana, bahwa sebuah cerita pendek hendaknya memenuhi beberapa persyaratan seperti adanya tema (dasar cerita), plot (cara menulis atau menyusun karangan tersebut yakni pengawalan dan pengakhiran penceritaan), karakter (gambaran fisik dan pribadi atau watak pelaku), suspense dan foreshadoing (hentakan-hentakan dalam gaya penceritaan yang memancing pembaca untuk terus menimbulkan keingintahuannya tentang cerita selanjutnya), immediacy dan atmosphere (kemampuan membawa pembaca ke dalam situasi penceritaan), point of view (sudut pandang pengarang dalam cerita tersebut), limited focus dan unity (pengarahan cerita pada satu fokus) dan menjalinnya menjadi satu kesatuan cerita yang utuh antara satu unsur dengan unsur lain tanpa membedakan besar kecilnya perasaan yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut. Namun ketujuh unsur yang dikemukakan tersebut pun tidaklah mutlak harus dimiliki oleh sebuah cerita pendek, karena sebagaimana dikemukakan oleh Richard Summers (Mochtar Lubis 1981: 46-47) bahwa sebuah cerita pendek haruslah mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai penghidupan, baik secara langsung atau tidak langsung, dan cerita itu harus pula mampu mengajak pembaca ”masuk” ke dalam situasi cerita, sebelum pertama menarik perasaan dan pada akhirnya nanti mampu menarik pikiran setiap pembacanya. Di samping itu sebuah cerita pendek juga harus mengandung uraian-uraian dan insiden atau konflik yang dipilih dengan sengaja yang mampu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembacanya, sebuah insiden yang menguasai dan menjalankan plot cerita, juga harus memiliki seorang pelaku yang terutama, jalan cerita yang padat yang akhirnya akan melahirkan satu kesan (impressia).

Sudah merupakan bagian dari sejarah hidup manusia bahwa kegemaran bercerita merupakan pusaka nenek moyang segala bangsa. Lingkungan di sekitar manusia tersebut dan juga dunia di dalam diri tiap manusia merupakan sumber yang kaya dan dapat digali sebagai potensi bagi manusia yang menjalani kehidupannya. Setiap manusia mempunyai pengalaman masing-masing tentang alam dan kejadian apapun yang ada di dalamnya sebagaimana juga terjadi pada manusia Indonesia. Di dalam cerita-ceritalah kita dapat melihat kehidupan, angan-angan, dan pikiran, kekayaan alam rohani yang penuh fantasi yang dibentuk oleh pengalaman manusia tersebut.

Menurut Ajip Rosidi (Eneste 1983: 10) bahwa cerpen sebagai bentuk kesusasteraan — seperti juga di bagian lain di dunia ini — di Indonesia adalah baru. Cerpen dikenal orang lebih kemudian daripada roman. Sementara itu Jacob Sumardjo (Eneste 1983: 27) memberi keterangan bahwa usia penulisan cerita pendek di Indonesia baru berjalan sekitar 40 tahun. Ini berarti bahwa Indonesia baru mulai menulis cerpen setelah jenis karya sastra ini dikenal oleh negara-negara lain satu abad sebelumnya. Dengan melatakkan dasar dan pandangan kedua pengamat tersebut maka dapat diperkirakan bahwa cerita pendek di Indonesia bermula disekitar tahun 1940-an, yang berarti lebih lambat sekitar dua puluh tahun dibanding dengan masa awal pertumbuhan roman yang menggantikan kedudukan bentuk hikayat akibat pengaruh perkembangan kesusasteran modern dari Barat. Kalau demikian halnya maka permulaan tumbuhnya cerita pendek di Indonesia ialah ketika pengarang M. Kasim dan Suman Hs menerbitkan kumpulan cerita pendeknya yang pertama di Indonesia yakni Teman Duduk dan Kawan Bergelut yang masing-masing terbit tahun 1936 dan 1938. Namun rintisan yang dilakukan oleh kedua pengarang tersebut tidak mampu meletakkan dasar penulisan cerita pendek yang mentradisi sesuai dengan perkembangan dan tradisi penulisan cerita pendek Indonesia sampai saat ini. Hal ini menurut para pengamat karena kedua pengarang tersebut sebenarnya beranjak dari tradisi lisan cerita-cerita penglipur lara yang hanya mengajak para pendengarnya tertawa ngakak tanpa tujuan-tujuan lain. Oleh karena itulah rintisan kedua pengarang tersebut disimpulkan sebagai menyambung tradisi cerita rakyat lisan yang memang berbeda dengan sifat penulisan cerita pendek yang tumbuh dan berkembang di belahan Barat, dan yang kemudian mengalir ke Indonesia.

Di samping itu menurut Ajip Rosidi bahwa baik M. Kasim maupun Suman Hs, tatkala menulis cerita-ceritanya itu tidak sadar bahwa dirinya memang untuk penciptaan kesusasteraan terutama bentuk cerpen. Yang mendorong mereka berdua menulis lebih banyak kehendak serta keinginan berlelucon yang begitu saja mengajak para pembaca tertawa, daripada mengajak para pembaca secara sadar menukik ke dasar hidup dan penghidupan manusia dan masyarakat.

Dalam konteks penulisan dan perkembangan cerita pendek di Indonesia, maka sejarah peletakan dasar tradisi penulisan cerita pendek tersebut sebenarnya dimulai oleh Hamka, Idrus, dan Armijn Pane, yang melepaskan tali penghubung dengan cerita rakyat tradisional, dan memulai penulisan cerita rakyat menurut konsep Barat. Kalau Hamka dan Idrus dikenal banyak menulis cerita yang memiliki orientasi sosial, maka Armijn melakukan kecenderungan dalam persoalan-persoalan psikologis tokoh-tokohnya. Maka dengan melihat kenyataan yang ada sekarang dapat disimpulkan bahwa tradisi penulisan cerita pendek yang terus berlangsung dan berkembang adalah pengembangan dari apa yang dilakukan oleh Hamka, Idrus, dan Armijn, yakni mengetengahkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan zamannya. Sedangkan tradisi penulisan sebagaimana dilakukan oleh M. Kasim dan Suman Hs, yang beranjak dari tradisi cerita rakyat tradisional telah lama berhenti tanpa kelihatan lagi kesinambungannya. Maka semakin kuatlah anggapan dan dasar pijakan bahwa tradisi penulisan cerita pendek Indonesia sebenarnya dimulai sekitar awal tahun 1940-an.

Prosa yang ditulis oleh Willem Iskander dalam Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk berjumlah sepuluh, satu di antaranya berbentuk dialog, dapat dikategorikan sebagai bentuk drama (mini). Keseluruhan prosa yang diciptakannya itu pun diperkirakan ditulisnya disekitar tahun 1860-an. Karena menurut keterangan yang diperoleh bahwa buku kumpulan puisi dan prosa itu dicetak untuk pertamakalinya tahun 1872 di Batavia. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa prosa-prosa itu diciptakannya 75 tahun sebelum kesusasteraan Indonesia mengenal bentuk cerpen sebagai pengaruh keberadaan kesusasteraan Barat.

Oleh karena itulah, uraian ini nantinya akan melihat pembaharuan yang dilakukan Willem Iskander dalam hal ini penciptaan prosa, meskipun tindak kreatifitasnya itu dilakukannya jauh sebelum kesusasteraan Indonesia memasuki era modernisasi cerita pendek, dan untuk melihat pembaharuannya tersebut, telaah akan dilakukan dari segi tema dan isi cerita, unsur dan struktur, serta bahasanya.

Sudah lazim dalam dunia karang mengarang bahwa hal pokok dan sangat mendasar untuk memulai sebuah tulisan ialah mempersiapkan dan menetapkan sebuah tema, meskipun sering kali masalah dasar itu hanya dibangun dalam hati dan pikiran setiap pengarang. Sebuah tema bagi seorang pengarang akan sangat banyak membantu dalam mengembangkan imajinasi dan ide-ide untuk disampaikan kepada khalayak. Sebagaimana dikatakan oleh Budi Dharma (Eneste 1983: 264) bahwa yang diperjuangkan setiap pengarang pada hakikatnya adalah tema. Dari tema itu pulalah nantinya akan dilihat isi cerita tersebut sesuai dengan perkembangan imajinasi dan pikiran yang diruntunkan oleh Willem Iskander.

Cerita pertama yang berjudul, Sada Alak Pulon Ta On Na Mabiar Di Ahaila (Seseorang dari Pulau Kita Ini yang Takut Malu). Dari judulnya saja dapat dipahami bahwa seseorang pada dasarnya selalu takut untuk berbuat sesuatu yang memalukan. Untuk menghindari perbuatan malu tersebut sangat dibutuhkan suatu tindakan yang berani, tegas, dan penuh tanggung jawab.

Tema dari cerita pertama ini ialah pertanggungjawaban terhadap tugas yang diemban setiap orang. Cerita tersebut mengisahkan sikap yang diambil oleh seorang putra raja ketika menerima tugas harus menemani seorang kontelir yang berburu ke hutan. Pada waktu perburuan sedang berlangsung, tiba-tiba seekor babi hutan yang ganas menyongsong sang kontelir Belanda.

Melihat keadaan yang membahayakan itu, sang kontelir pun menembakkan senapangnya ke arah babi hutan hingga seluruh pelurunya habis sia-sia tanpa dapat mematikan babi yang terus menyongsong kontelir dengan ganasnya. Melihat keadaan benar-benar genting, putra raja yang hanya bersenjatakan sebilah keris, secepat kilat meleset menebas babi hutan dan babi itu pun mati. (bersambung)


Sumber awal: LOGAT, JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA Volume III No. 1 April Tahun 2007 (Halaman 18 – 25), lihat http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16669/3/log-apr2007-3%20(1).pdf.txt.

Sumber kedua : http://gondang.blogspot.co.id/search/label/puisi%20dan%20prosa%20lama

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar