Home / Artikel / MULAK TU KAMPUNG

MULAK TU KAMPUNG

Askolani Nasution

Askolani Nasution

Oleh : Askolani Nasution
Budayawan/Sutrdara film Mandailing

 

Anak-anak yang pulang kampung juga menjadi ruh bagi sebuah keluarga. Orang tua dan saudara akan bergembira, meskipun tak selalu ada “silua” yang dibawa.

Bagi sebuah keluarga, berkumpulnya semua anggota keluarga dalam masa lebaran menjadi hal yang sangat istimewa. Selain karena mengulang kembali masa-masa indah, juga kenikmatan yang tiada tara ketika semua makan bersama, lalu bercerita tentang kegembiraan-kegembiraan yang dijalani bersama waktu anak-anak kecil, kelucuan, dan lain-lain. Anak-anak akan termangu begitu mereka mendengar tingkah pola mereka di waktu kecil. Kesusahan jarang diungkapkan, karena diangggap mencederai kegembiraan keluarga.

Berkumpul dengan teman-teman sepermainan, “dongan magodang”, “dongan atia menek-menek”, lain lagi ceritanya. Selain cerita-cerita lucu di masa anak-anak, di “partandangan”, juga cerita-cerita tentang masa “haposoan-habujingan”. Ujung-ujungnya dilanjut dengan pertanyaan, “ma piga anak nia?”. Lalu semua akan tertawa sambil bergantian mengambil rokok para perantau. Dan besok, sambil jalan-jalan sepanjang kampung, ke sawah, ke kebun, juga sambil menandai tempat-tempat yang dulu menjadi kenangan indah mereka.

Dalam konteks kebudayaan Mandailing, orang merantau karena ingin mengubah kualitas hidup, terutama karena di kampung tidak lagi menjanjikan mata pencaharian yang layak. Jadi lebih bersifat ekonomis, meskipun bisa juga karena sosial-psikologis.

Merantau itu meninggalkan hal-hal yang indah di kampung, seperti “sopo parpodoman”, “dongan saparmayaman”, atau “dongan na dung saroha na dung tarsolong ni mata”. Karena beratnya meninggalkan kampung, lalu ada saja yang pulang sebelum mengubah hidupnya. Karena itu ada istilah merantau “inda pe mambuat jegang, ma mulak.” Tapi ada juga perantau “inda si mulak-mulak”, songon “pangaranto ni alak Cino.” Tipe yang terakhir ini bisa jadi karena latar belakang peristiwa tragis di kampung, sehingga malu kalau pulang kampung, atau karena semua kerabat dekat sudah meninggal. Itu menjadi hal yang pahit bagi kebudayaan Mandailing, karena ia kehilangan “huta”, tak ada tempat kembali.

Banyak faktor yang membuat para perantau pulang kampung, terutama menjelang “Ari Rayo.” Bisa jadi karena faktor berikut: Rindu suasana berkumpul dengan saudara dan orang tua. Kita membayangkan malam lebaran, atau pagi-pagi sebelum berangkat sholat ‘id, semua keluarga saling berkumpul, “paombang amak”, duduk berkeliling, saling bersalaman dan bercerita tentang masa lalu ketika semua masih kecil-kecil.

Selesai sholat ‘id, semua anggota keluarga berkumpul kembali untuk makan bersama, atau sekedar makan “kue ari rayo”. Pada masa lalu, ketika intensitas ekonomi belum sedinamis sekarang, kue lebarannya hanya sederhana saja: “alame”, “lomang”, “kue kambang loyang”, atau “kue sapit”. Tapi yang wajib: “alame” dan “lomang”. Rasanya lebaran tidak afdol kalau dua penganan terakhir tidak ada, atau tidak dibuat sendiri. Kadang-kadang tetangga memang membawakan “alame” dan “lomang”, tapi selalu kesannya tak sempurna. “Na larat mantong iba, hum mangalomang pe inda,” kata mereka. Karena itu, para petani, selalu menanam dua tiga petak “eme sipulut”, untuk keperluan menjelang lebaran nanti. Semiskin-miskin keluarga, minimal “lomang” ada, begitu tradisinya.

Pulang kampung biasanya agak seminggu menjelang lebaran. Tujuannya bukan biar agak lama di kampung, tapi agar sempat “mangalame” atau “mangalomang” bersama. “Mangalame” dilakukan minimal seminggu sebelum lebaran, biar penganannya agak keras. “Mangalomang” dilakukan sehari menjelang lebaran. Begitu tradisinya. Dan semua anggota keluarga ikut terlibat memasaknya.

Selesai sholat ‘id juga dilakukan dengan “manjalang” ke rumah keluarga dekat, terutama ke rumah saudara tertua ayah, atau rumah “ompung” kalau masih hidup. Tapi yang penting, juga berlebaran ke rumah keluarga ibu sebagai pihak “mora” yang wajib dikunjungi, tentu sambil membawa “lomang dohot alame”. Jadi bukan ke rumah bos di kantor atau pejabat tertentu seperti yang kecenderungan sekarang, apalagi sambil membawa parcel.

Tapi yang tak kalah penting lagi, laki-laki akan berkumpul di kedai kopi, bercerita banyak hal, terutama kisah-kisah setahun terakhir sejak perantau meninggalkan kampung pada lebaran tahun lalu. Itu akan menjadi hal yang asyik, karena para perantau juga berebut membayar kopi bersama. Dan selalu macam ada kesepakatan, yang paling berhasil yang wajib membayar.

Itu hal yang menyenangkan saya kira. Sekali setahun, apa salahnya menjajani kerabat sekampung. Saya sebut kerabat sekampung, karena dalam komunitas kampung di Mandailing, nyaris semua keluarga saling berhubungan kekerabatan, baik karena hubungan darah (sakahanggi), maupun karena hubungan perkawinan. Tiap orang ada dalam relasi “dalihan na tolu”, sebagai kahanggi, mora, atau anak boru.

Anak-anak yang pulang kampung juga menjadi ruh bagi sebuah keluarga. Orang tua dan saudara akan bergembira, meskipun tak selalu ada “silua” yang dibawa. Bagi sebuah keluarga, berkumpulnya semua anggota keluarga dalam masa lebaran menjadi hal yang sangat istimewa. Selain karena mengulang kembali masa-masa indah, juga kenikmatan yang tiada tara ketika semua makan bersama, lalu bercerita tentang kegembiraan-kegembiraan yang dijalani bersama waktu anak-anak kecil, kelucuan, dan lain-lain. Anak-anak akan termangu begitu mereka mendengar tingkah pola mereka di waktu kecil. Kesusahan jarang diungkapkan, karena diangggap mencederai kegembiraan keluarga.

Berkumpul dengan teman-teman sepermainan, “dongan magodang”, “dongan atia menek-menek”, lain lagi ceritanya. Selain cerita-cerita lucu di masa anak-anak, di “partandangan”, juga cerita-cerita tentang masa “haposoan-habujingan”. Ujung-ujungnya dilanjutkan dengan pertanyaan, “ma piga anak nia?” Lalu semua akan tertawa sambil bergantian mengambil rokok para perantau. Dan besok, sambil jalan-jalan sepanjang kampung, ke sawah, ke kebun, juga sambil menandai tempat-tempat yang dulu menjadi kenangan indah mereka.

Pulang kampung juga sering disempatkan menjadi ajang pelaksanaan berbagai hajatan, baik pernikahan, maupun acara keluarga lain. Karena jarang-jarang bisa berkumpul. Karena itu minggu pertama dan kedua lebaran nyaris tiap hari ada yang “horja-boru”. Orang tua akan selalu berpesan, “Kei tu orja ni aha man, so itandai alak ko.”

Dan di tempat pesta pernikahan itu, acap kali juga menjadi ajang cerita tentang anak-anak rantau, atau tentang masa lalu mereka. Orang tua akan sangat bangga bercerita tentang anak-anak mereka yang berhasil di rantau. Kadang-kadang juga dijadikan arena untuk mencarikan pasangan bagi anak-anak itu. “Na tobang maho ucok, inda bisuk nanga idaho boru-tulang mi?” Begitu pesan orang tua. Karena mereka yang berhasil hidupnya di rantau, rasanya tidak lengkap kalau belum punya keluarga sendiri. “Lobas ko do nanga na mardahani sajo?” Kata mereka memberi alasan, “Ida ho ayah pe na matobang ma. Nga uida tongkin nai paompungku sondia mei? Ise bage dope mangurupi iba pala nga bisa iba be sanga mangua?” Dan anak-anak rantau itu biasanya tidak banyak alasan untuk menolak keinginan orang tua. Karena mereka ingin memaksimalkan kebahagiaan bersama itu, sekalipun bukan hal yang menjadi pilihan hatinya.

Pulang merantau juga menjadi momen untuk mengurusi perkembangan kampung mereka, pembangunan, ketertinggalan, dan lain-lain. Dan mereka menjadi tempat mengadu penduduk kampung untuk berbagai ketidakpuasan pengelolaan pemerintahan desa. Kadang-kadang berlanjut dengan pembentukan komunitas politik, dan sebagainya. Itu semua dinilai menjadi hal yang lumrah, karena mereka para perantau lebih punya pengalaman, dan lebih luas ilmunya. Dan para perantau itu, merasa tak bisa mengelak dari tanggung jawab membangun “bona bulu” itu, kampung mereka yang mengesankan.

Bagaimana tidak mengesankan? Begitu pagi-pagi mereka bertemu orang-orang dipancuran, semua bertegur sapa dengan ramah. Tak afdol rasanya kalau tak bertegur sapa. Karena hanya sekali setahun pulang. Dan sejahat-jahat orang di rantau, kembali ke kampung ia mesti mengubah dirinya untuk beberapa hari itu: santun, sholat, ramah, dan sebagainya. Boleh menjadi bandit di kampung lain, tapi tidak untuk kampung sendiri. Karena ia tahu, selama di kampung ia akan menjadi sampel tingkah laku yang akan sangat berpengaruh kepada marwah orang tuanya. Kalau tidak, akan keluar umpatan, “Hum, anak si anu i, tie. Ondope mulak sonima parangena. Apalagi ma di rantoan!”

Belum tentu semua punya kemudahan ekonomi untuk pulang kampung. Karena pulang kampung butuh biaya besar. Bukan cuma ongkos, tapi lebih penting membuat kesan bahwa kita berhasil di rantau. Itu dengan baju yang bagus, berbagai dandanan berkelas, rokok berkelas, bayaran jajanan di kedai kopi, bagi-bagi “par-ari rayo” dengan anak-anak kerabat, dan lain-lain. Itu bukan jumlah yang sedikit.

Meskipun begitu, para perantau itu akan selalu berusaha mengumpulkan uang untuk bisa “ari rayo di kampung”. Meskipun, setelah kembali ke perantauan, mereka akan dipusingkan lagi dengan tagihan ini-itu. Tapi siapa peduli, karena pulang kampung bukan sekedar mengunjungi rumah Ibu!***

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar