Home / Seputar Tapsel / Musim Tanam Padi Sawah Tiba Bibit Lokal Primadona

Musim Tanam Padi Sawah Tiba Bibit Lokal Primadona

Musim tanam padi sawah di Sipirok, Tapsel telah tiba, dan masyarakat petani masih memprimadonakan (cenderung) menggunakan bibit lokal jenis Silatihan untuk musim tanam raya. Alasan mereka, hasilnya lebih menjanjikan.
Keunggulan lainnya dari bibit lokal ini adalah rasanya lebih enak, harganya lebih mahal serta perawatannya lebih mudah. Kecendrungan petani ini untuk menggunakan bibit lokal, tidak mempengaruhi promosi bibit unggul lainnya yang terus dipromosikan pemerintah selama ini.
Seorang warga Lingkungan Pagaran Batu, Kelurahan Parausorat, Sipirok, Tapsel, Tua Siregar (46) mengatakan, masih lebih memilih bibit lokal jenis Silatihan untuk musim tanam kali ini. Alasannya, karena harga gabah atau beras Silatihan jauh lebih mahal dari jenis lain, kendati usia tanaman bisa mencapai 5 bulan.
“Usia tanamannya memang 5 bulan, tapi kami lebih menyukai jenis ini karena hasilnya lebih bagus, dan harganya juga lebih baik,” katanya sambil menanam jenis padi tersebut, Selasa (3/1).
Adapun jarak tanam jenis padi Silatihan sambung Tua, lebar sekitar 25 centimeter dan panjang 40 centimeter, sedangkan pemupukan juga sama saja dengan tanaman padi lainnya yakni 2 kali setiap musim. “Tanaman Silatihan inikan rimbun, jadi jaraknya harus disesuaikan, kalau tidak maka kurang bagus,” katanya sambil mengatakan jenis pupuk yang digunakan adalah urea dan ponska.
Disamping itu, perawatan tanaman padi lokal dengan padi unggul juga hampir sama. Dimana ketika tanaman sudah rimbun tentunya perkembangbiakan gulma diantara tanaman juga semakin berkurang. “Bedanya cuma harus menunggu lebih lama,” kata Tua.
Untuk diketahui, pola tanam pertanian lahan basah (sawah) di wilayah Sipirok memang secara berangsur selama 15 tahun terakhir sudah mulai bergeser dari pola tanam sekali setahun menjadi 2 kali setahun, kendatipun belum secara keseluruhan menerapkannya. Sehingga, setiap musim tanam yang dimulai setiap akhir dan awal tahun merupakan musim tanam raya atau secara keseluruhan sawah yang ada tanpa terkecuali pasti akan ditanami padi.
Dan setiap musim tanam yang dipertengahan tahun merupakan musim tanam selang (taon holang) dan pada musim tanam ini tak semua sawah bisa ditanami dengan berbagai faktor, seperti petani belum faham betul akibat kurang dan lemahnyanya penyuluhan, kurangnya sarana-prasarana pendukung terutama air dan berbagai alasan lainnya. Yang jelas, setiap musim tanam raya, petani cenderung menggunakan bibit lokal, sedangkan pada musim selangan, petani cenderung menggunakan bibit unggul dari pemerintah.
Apapun alasannya, dengan 85 persen masyarakat Tapsel merupakan petani dan mengandalkan mata pencahariannya dari sektor pertanian, tentunya pemerintah Tapsel dibawah kepemimpinan Bupati, H Syahrul Martua Pasaribu harus terus berupaya mewujudnyatakan sektor pertanian sebagai primadona menuju kesejahteraan dan kemakmuran Tapsel ke depan. (amr/mer.metrotabagsel)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar