Home / Artikel / Panduan untuk Puasa di Jejaring Sosial selama Ramadhan

Panduan untuk Puasa di Jejaring Sosial selama Ramadhan

ragam jejaring sosial grafis

ragam jejaring sosial grafis

Ini bukan mengatakan bahwa semua media sosial adalah omong kosong, tetapi tujuannya adalah untuk memberikan keseimbangan dalam hidup Anda.

Sudah semestinya setiap kali menemui bulan Ramadhan, kita membuat target yang berorientasi untuk meningkatkan kualitas diri untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Ada dua cara untuk memenuhi target ini, apakah dengan meningkatkan kebiasaan baik atau dengan menurunkan kebiasaan buruk.

Kita berusaha mendapatkan itu dengan membangun kebiasaan dengan memperbanyak shalat sunnah, pergi ke masjid, membaca al-Quran, memperbanyak doa, menghabiskan waktu dengan keluarga, dan bahkan berolahraga. Begitu pula kita berusaha menurunkan kebiasaan buruk kita. Dengan mengurangi jam kita menonton TV, bergosip, bermain game, menghindari makanan yang tidak sehat, dan pada dasarnya, apa saja yang kita anggap hal tersebut salah dan berusaha untuk menghindarinya.

Alasan mengapa Ramadhan menjadi titik fokus dari semua kebiasaan ini adalah karena Ramadhan adalah waktu selama 30 hari di mana rutinitas normal kita dirombak seketika. Momentum bulan ini membuat kita lebih mudah untuk melakukan perubahan lainnya (dan tentu saja karena syaithan dibelenggu pada bulan ini).

Nah, beberapa orang merasa bahwa media sosial pada dasarnya jahat dan oleh karena itu harus segera dihentikan penggunaannya. Bagi yang lain, mereka mengaku dengan media sosial, banyak waktu yang terbuang karenanya, dan mereka perlu fokus untuk beribadah selama 30 hari ini. Yang terpenting ialah, untuk tidak memperhitungkan adanya semacam superioritas spiritual antara satu dengan lainnya. Sangat mudah untuk melihat orang melakukan puasa media sosial karena alasan relijius semata dan kemudian merasa bersalah karena tidak mengambil bagian.

Apakah Perlu Saya Puasa dari Media Sosial?

Jawaban singkat untuk pertanyaan ini adalah “ya”. Seberapa banyak dan dalam kapasitas seperti apa, tentu berbeda antara satu orang dengan lainnya.

Beberapa orang menolak untuk puasa media sosial karena merasa kalau mereka bakal ketinggalan sesuatu yang penting (kurang update). Di tempat di mana perkumpulan atau komunitas lokal tidak begitu kuat, media sosial memberikan cara untuk menikmati bulan ini dengan komunitas-komunitas online yang ada. Ini tidak biasa bagi orang yang bersama-sama membentuk kelompok tertentu dan membuat majelis tafsir atau hal seperti itu. Di media sosial, juga ada nasihat pengingat dan amar maruf nahi munkar yang selalu muncul terus-menerus untuk para penggunanya, – dan tentu saja, acara-acara di Facebook selalu mengumumkan program-program yang menarik.

Puasa media sosial selama Ramadhan bukanlah sesuatu yang baru bagi komunitas relijius. Disebutkan dalam berbagai media, bahwa terdapat penurunan jumlah pengguna media sosial atau teknologi di antara umat Kristiani pada saat pra Paskah.

Saya merupakan pendukung ajakan untuk berpuasa dari media sosial (meski tidak harus 30 hari penuh). Ini bukan karena saya menganggap media sosial itu buruk, melainkan sebagai cara untuk menghidupkan kembali jiwa saya. Ramadhan memberikan kesempatan untuk me-reboot fisik dan spiritual, dan media sosial, bagi banyak orang adalah penghalang terbesar untuk menghidupkan kembali jiwa mereka.

Banyak orang yang memiliki rutinitas tak berguna yang bahkan mereka sendiri tidak menyadarinya. Beberapa bulan yang lalu, sambil menunggu dalam antrean di toko, saya keluarkan ponsel. Saya mengecek Twitter, Facebook, email, dan sms. Saya kemudian mendongak, sadar kalau jalur antrian masih panjang, kemudian saya kembali menunduk memelototi ponsel saya. Lalu saya melakukannya lagi, dan lagi. Yang menyedihkan adalah, saya bahkan tidak menyadari apa yang saya lakukan. Apa yang kira-kira terjadi di sana yang tidak ada di sana saat sudah saya cek 45 detik yang lalu?

Beberapa orang mungkin menyebutnya kecanduan, tetapi dalam arti yang lebih umum, sebenarnya kita sedang mengisi waktu luang kita. Ini bagian dari rutinitas kita. Adalah hari biasa di perusahaan Amerika bagi banyak orang dimulai dengan siklus berulang, dari email kantor, email pribadi, Facebook, ESPN, CNN, Reddit, email pribadi, Facebook, sarapan, mulai bekerja, cek Reddit lagi…

Kita  meremehkan korban kognitif yang telah menguasai kita. Rasanya sulit ketika bangun, kemudian membaca doa sebelum tidur dan bangun tidur, ketika justru kita bangun dan tidur dengan kebiasaan yang sama: bangun setengah tidur, mematikan alarm, periksa email, Facebook, Twitter, bangkit dari tempat tidur … Email, Facebook, Twitter, atur alarm, berangkat tidur sambil me-refresh news feed sampai akhirnya kita terlelap…

Berpuasa atau  melakukan detox terhadap media sosial adalah cara yang bagus untuk berhubungan kembali dengan dunia di sekitar Anda. Kita tidak lagi dipenuhi pikiran yang macam-macam (karena saking takutnya kita dengan kesepian, bahkan menempatkan nyawa kita dalam resiko dengan mengetik pesan sambil berkendara hanya untuk mengucap salam ke orang lain). Rangkullah rasa kesepian itu. Bahkan, itu adalah cara yang bagus untuk memperkuat hubungan Anda dengan Allah dengan mengingat-Nya di saat-saat Anda mengalami hal itu (kesepian).

Fokus jiwa kita, juga memainkan peran langsung bagi kesehatan jiwa kita. Waktu kosong yang kita miliki dapat digunakan untuk tadabbur, atau untuk merenungkan hubungan kita dengan Allah, atau bahkan dengan memanjatkan doa kepadaNya.

Ada aspek yang lebih dalam yang berkaitan dengan nafs (jiwa) kita sendiri. Istirahat sejenak dari media sosial adalah cara terbaik untuk menurunkan ego Anda. Internet adalah pengingat bahwa dunia ini akan terus bergerak tanpa Anda. Ini adalah cara yang bagus untuk melakukan introspeksi diri- mengapa saya posting ini? Siapa yang saya targetkan? Harapan apa yang ingin saya capai dari postingan tersebut? Prioritas pribadi, dalam konteks ini, tidak bisa Anda tinjau kembali jika Anda terus-menerus dalam siklus tanpa pikir panjang di media sosial Anda beberapa kali dalam sehari.

Ketakutan terbesar yang banyak dimiliki orang saat ini adalah KUDET alias Kurang Update berita atau kabar terbaru. Oh, jika saya tidak mengecek Facebook, tiba-tiba saya tidak akan tahu apa yang sedang terjadi, ada acara keren apa, siapa yang sudah bertunangan, siapa yang sudah punya anak, siapa yang sedang makan malam di tempat ini-itu, begitu seterusnya. Anda mungkin merasa seperti orang bodoh ketika semua orang sedang membicarakan foto keren minuman syrup Rooh Afza dengan susu dalam plastik kertas yang diposting teman Anda di Instagram, dan hanya Anda satu-satunya yang belum lihat. Itu tidak masalah. Terlewat momen tertentu tidak mengapa. Biarkan hal itu terjadi, dan setelah beberapa saat, Anda akan menyadari bahwa Anda tidak begitu ketinggalan juga.

Ini bukan mengatakan bahwa semua media sosial adalah omong kosong, tetapi tujuannya adalah untuk memberikan keseimbangan dalam hidup Anda. Jika sebagian besar dalam setahun Anda menuruti kemauan menghabiskan waktu dalam media sosial, maka meninggalkannya untuk sementara merupakan jalan yang sehat.

Cobalah untuk mengganti waktu kosong itu dengan sesuatu yang bermanfaat. Beberapa kenangan terbaik saya tentang masjid di bulan Ramadhan, adalah membuat makanan berbuka dengan teman-teman saya, mengobrol dan bersenang-senang dengan mereka. Bahkan jika Anda tidak mengenal siapa pun, cobalah untuk memulai percakapan dan ciptakan pengalaman sendiri di masjid.

Jangan hanya terpaku di ponsel Anda saat waktu berbuka sedang Anda berada di tengah-tengah kerumunan banyak orang. (Disadur dari Hidayatullah.com /Artikel ditulis Omar Usman di  fiqhofsocial.media. Penulis adalah anggota pendiri dari MuslimMatters.org dan kolsultan IT. Artikel diterjemahkan Karina Chaffinch)

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar