Home / Artikel / Partisipasi Pemuda Dalam Percepatan Pembangunan di Mandailing Natal

Partisipasi Pemuda Dalam Percepatan Pembangunan di Mandailing Natal

 

Oleh : Maradotang Pulungan

 

Baik buruknya suatu bangsa dilihat dari kualitas pemudanya. Tergantung pada karakter dan moral pemudanya. Sampai-sampai untuk menggambarkan betapa berharganya pemuda sebagai aset suatu bangsa, Presiden Soekarno pernah mengatakan “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”. Pemuda adalah simbol kekuatan, masa depan dan harapan suatu bangsa.

Pemuda memiliki tipe pemikiran yang kritis dan kreatif. Mahasiswa yang merupakan bagian dari pemuda tentu tak lepas dari sifat ini. Kita bisa melihat bahwa perubahan-perubahan besar banyak dilakukan oleh para pemuda. Seperti halnya sumpah pemuda, kebangkitan nasional bahkan reformasi. Semua itu tak luput dari peran pemuda. Pemuda adalah identitas suatu bangsa, merupakan penerus generasi terdahulu untuk mewujudkan cita-cita suatu bangsa. Pemuda lah yang menjadi harapan dalam setiap kemajuan bangsa. Kaum muda memiliki daya berfikir yang khas. Mereka menggunakan idealismenya untuk melakukan perubahan-perubahan dalam suatu bangsa atau dalam lingkungan masyarakat. Kritis dalam melihat masalah-masalah dalam masyarakat dan mampu memberikan solusi yang tak jarang tidak terpikirkan oleh generasi-generasi yang lebih tua. Banyak terobosan baru yang mereka buat karena pemuda memiliki cara pikir yang berbeda.

Pemuda/mahasiswa dahulu berbeda dengan mahasiswa saat ini. Dari cara berpikir, pergaulan/gaya hidup dan cara mereka menyelesaikan masalah. Pemuda zaman dahulu lebih berfikir secara rasional dan jauh ke depan. Dalam arti, mereka tidak asal dalam berpikir maupun bertindak. Mereka akan merumuskan secara matang dengan memperhatikan dampak-dampak yang akan timbul dalam berbagai aspek. Dahulu Mahasiswa sangat dekat dengan masyarakat. Mereka terjun dalam masyarakat dan merangkul mereka. Bertanya tentang masalah apa yang sedang dihadapi masyarakat saat itu. Mencoba memberikan kesempatan pada masyarakat untuk mengeluarkan unek-uneknya. Dan disinilah peran mahasiswa sesungguhnya. Menjadi agent of change dan social control. Mengisi kekosongan dalam tubuh masyarakat, yaitu peranan dalam kepemimpinan dan kepeloporan dalam melakukan perubahan sosial bagi masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.

Jauh berbeda dengan mahasiswa zaman sekarang. Mereka lebih menjadi mahasiswa yang pasif. Datang ke kampus, duduk, belajar kemudian pulang. Begitu seterusnya, mereka juga jarang masuk ke dalam organisasi-organisasi di kampus. Peran pemuda saat ini dalam sosialisasi bermasyarakat menurun drastis. Mereka lebih mengutamakan kesenangan untuk dirinya sendiri dan lebih sering bermain-main dengan kelompoknya. Masih terkesan acuh dengan masalah-masalah sosial di lingkungannya. Seakan tidak perduli dengan fenomena-fenomena sosial yang terjadi di sekitar mereka. Pemuda saat ini telah terpengaruh ke dalam pergaulan bebas, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkotika bahkan kemajuan teknologi yang seharusnya bisa memfasilitasi mereka untuk menambah wawasan atau bertukar informasi justru disalahgunakan.

Seperti kenyataannya di Kabupaten Mandailing Natal dimana dari hasil tes urine yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten Mandailing Natal di seluruh sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang ada di Kabupaten Madina hampir seluruh sekolah sudah ada muridnya yang terkontaminasi dengan Narkoba.

Mereka menggunakan internet tidak pada porsinya. Padahal dulu pemuda lah yang berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan-kegiatan di masyarakat seperti acara keagamaan, peringatan Hari Kemerdekaan, kerja bakti, dan lain-lain. Seandainya saja pemuda generasi terdahulu masih hidup pasti mereka sedih melihat pemuda-pemuda sekarang ini yang lebih mementingkan kesenangan pribadi. Generasi yang menjadi harapan mereka untuk melanjutkan perjuangan, tidak lagi memiliki semangat nasionalisme. Kesan mahasiswa zaman sekarang di mata masyarakat hanyalah anarkis, demo dan kekerasan. Kita harus bisa mengubah pemikiran masyarakat tentang mahasiswa masa kini.

Pemuda/mahasiswa dapat memulai aksinya berdasarkan dari masalah-masalah yang ada pada suatu daerah, maupun potensi besar yang belum teroptimalkan secara maksimal yang bahkan bisa menjadi senjata untuk daerah tersebut. Baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pangan, pertanian, sosial, budaya maupun pemerintahan. Dalam bidang sosial politik pun keberadaan pemuda menjadi pusat perhatian dan ajang perebutan simpati. Ide-ide yang disuarakan oleh kaum muda sering dianggap sebagai suara rakyat. Hal itu dikarenakan ide-ide kaum muda selalu mencerminkan isi hati dari rakyat bawah.

Dalam kesempatan ini, saya akan mengulas tentang Pemuda-pemuda dan cara mereka untuk ikut berperan dalam pembangunan di Mandailing Natal. Madina mempunyai banyak potensi, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Hal ini lah yang perlu di kelola dengan baik, pengelolaan yang baik membutuhkan peran serta pemuda Mandailing Natal.

Contoh dalam bidang ekonomi misalnya, kita tahu bahwa di Mandailing merupakan daerah penghasil emas. Selama ini kita tidak pernah menikmati hasil emas yang ada pada perut bumi Mandailing Natal ini dengan baik, walaupun ada hanya segelintir orang saja demi untuk kepentingan peribadinya masing-masing, padahal jika di manfaatkan lebih baik lagi, Biji-biji emas yang ada dalam perut bumi Mandaling Natal ini dapat di manfaatkan dengan baik demi untuk pembangunan Mandailing Natal ini sehingga pembangunan untuk mewujudkan masyarakat Madina yang madani dapat tercapai dengan cepat. Berdasarkan permasalahan tersebut Mahasiswa yang baik akan dapat mengubah permasalahan seperti itu menjadi potensi yang besar. Dia akan melakukan riset untuk mengelola biji emas tersebut sehingga menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk membiayai pembangunan di Madina ini. Sehingga hal ini dapat membuka peluang usaha baru yang nantinya menyerap tenaga kerja dan dengan begitu pengangguran dapat dikurangi.

Pada Tahun 2014 ini Pemkab Madailing Natal bersama dengan DPRD Kabupaten Madina telah mengesahkan suatu perda tambang rakyat sehingga dengan disahkannya perda pertambangan tersebut dapat memberikan peluang bagi generasi muda baik mahasiswa dan mahasiswi untuk berpartisipasi demi untuk pembangunan Mandailing Natal kedepan

Berdasarkan fakta yang penulis himpun dari Kesbang Linmas Kabupaten Mandailing Natal bahwa di Kabupaten Mandailing Natal ini sampai dengan Oktober 2014 ada sebanyak 46 OKP, 39 Ormas, 31 Organisasi Profesi, dan 103 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Penulis sangat optimis apabila dari jumlah organisasi profesi yang sudah terdaftar di Kantor Kesbang Linmas Madina tersebut membuat suatu perusahaan pertambangan maka akan terserap barapa tenaga kerja di dalam perusahaan tersebut, dan pemerintah di dalam hal ini hanya sebagai pengawas dalam pertambangan yang dibuka oleh para organisasi profesi tersebut.

Namun berdasarkan pantauan penulis di lapangan dari sejumlah OKP, Ormas, organisasi Profesi dan LSM yang sudah terdaftar di Kesbang Linmas Kabupaten Mandailing Natal ini hanya sekitar 30 persen saja yang benar-benar aktif selama ini, padahal kita ketahui bahwa di dalam sejumlah persatuan yang dibentuk tersebut terdapat sejumlah pemuda pemuda/i yang diharapkan oleh bangsa dan Negara untuk membangun Negara ini pada umumnya dan Kabupaten Mandailing Natal ini pada khususnya.

Pemuda/mahasiswa juga dapat berperan dalam membangun Kabupaten Mandailing Natal menjadi kabupaten yang lebih baik dimulai dari pendidikan anak-anak Madina. Seperti yang kita tahu, masih banyak sekali anak-anak di Madina ini yang belum bisa mengenyam pendidikan. Mereka terbelenggu pada keadaan ekonomi keluarga yang memaksa mereka menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bekerja membantu orang tua. Mahasiswa dapat memberikan kontribusi mereka pada hal ini, dengan mengunjungi kecamatan-kecamatan yang masih tertinggal. Memberikan pengetahuan-pengetahuan kepada anak-anak yang tidak bersekolah atau putus sekolah. Menyumbangkan buku-buku bekas yang layak pakai. Setidaknya jangan sampai ada anak yang masih buta huruf. Kita juga tahu bahwa Madina sudah mulai membangun Bandara Madina. Hal ini menandakan pembangunan di Madina sudah mulai meningkat. Dengan didirikannya Bandara ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat terutama di sekitar bandara tersebut.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Penulis dari Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Pemkab Mandailing Natal bahwa di dalam APBD Kabupaten Mandailing Natal Pemerintah telah menganggarkan dana untuk menunjang kegiatan-kegiatan para organisasi profesi yang ada di Kabupaten Mandailing Natal yang diposkan pada dana Bansos.

Dari data yang sudah diperoleh dari DPKAD Pemkab Madina bahwa sampai Bulan Agustus 2014 sudah satu milyar lebih dana APBD yang sudah dikucurkan pemerintah kepada Organisasi Profesi yang ada, sehingga para pemuda yang tergabung dalam organisasi profesi yang ada di Madina dapat berperan aktif disegala lini pembangunan yang ada di Madina ini.

Apabila memang dana yang begitu besar yang sudah dikeluarkan oleh Pemkab Mandailing Natal bagi para organisasi profesi yang ada dimanfaatkan dengan baik kearah yang lebih baik penulis yakin sudah banyak manfaatnya bagi pembangunan di Madina ini baik dibidang pembangunan karakter generasi penerus yang sedang duduk di bangku sekolah.

Karena berdasarkan hasil dari tes urine Badang Narkotika Kabupaten Mandailing Natal di seluruh sekolah tingkat SLTA yang ada di Madina ini yang sudah diambil samplenya dari berbagai sekolah yang ada tidak ada sekolah yang terbebas dengan narkoba, sehingga para generasi penerus sebagai pemegang tongkat estafet kita sudah tekontaminasi dengan yang namanya narkoba.

Oleh karena itu penulis menyarankan kedepannya apabila organisasi profesi hendak mengambil dana dari Pemerintah agar dapat dimanfaatkannya dengan baik seperti contohnya melakukan sosialisasi kepada para pelajar tentang bahaya narkoba, kegiatan gotong royong di berbagai desa, karena dengan cara tersebut para generasi muda yang tergabung dalam Organisasi profesi yang ada di Kabupaten Mandailing Natal ini dapat memberikan contoh positif bagi generasi di bawah mereka dan masyarakat.

Disamping memberikan contoh yang baik kepada generasi yang akan menggantikan para pemuda/i yang ada sekarang ini, kegiatan-kegiatan positif yang dilaksanakan tersebut dapat juga membantu pemerintah untuk pembangunan yang ada di Kabupaten Mandailing Natal ini dan pembangunan karakter generasi yang akan menggantikan yang ada sekarang ini, karena gotong royong merupakan salah satu tradisi yang sudah mulai pudar di tengah-tengah masyarakat kita belakangan ini.

Mungkin hal-hal seperti itulah yang dapat dilakukan oleh pemuda untuk menjadikan Madina atau daerah-daerah lain menjadi lebih baik, lebih produktif dan lebih makmur. Madina yang merupakan serambi mekkahnya Sumatera Utara harus bisa menginspirasi atau harus bisa menjadi teladan yang baik bagi kabupaten-kabupaten yang lain. Jangan biarkan Madina di pandang remeh dan di anggap enteng. Kita tunjukkan kualitas Kabupaten Madina dengan menjadi pemuda yang berkelakuan baik, menjadi pemuda yang aktif dalam beraspirasi, menjadi pemuda yang taat akan aturan dan norma yang berlaku dalam masyarakat, menjadi pemuda yang membekali diri mereka dengan iman yang dipercaya masing-masing. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu melahirkan pemimpin yang melebihi kemampuannya.

Sebagai pemuda kita harus sadar negara ini membutuhkan ksatria untuk mewujudkan kesejahteraan di lingkungan masyarakat. Mungkin di mata kita pemerintah sendiri tidak cukup baik mengusahakan kesejahteraan bangsa ini, tapi kita tinggal di negeri ini. Baik buruknya negeri ini secara langsung maupun tidak pasti akan berdampak dengan kehidupan kita di negeri ini. Jadi jangan hanya bisa mengkritik, menyalahkan, menghina atau mencela saja. Itu semua tidak bisa membangun negeri kita, terjun dan belajar langsung dari kehidupan di sekitar kita. Jadilah pemuda yang perduli terhadap bangsa dan lingkungan sekitar dan jadilah pemuda yang senantiasa melandasi diri dengan Pancasila. Jangan menjadi pemuda yang NATO (No Action Talk Only). Pemuda diharapkan mampu bertanggung jawab dalam membina kesatuan dan persatuan NKRI, serta mampu mengamalkan nila-nilai yang ada dalam Pancasila agar terciptanya kedamaian, kesejahteraan umum serta kerukunan antar bangsa.

Sejarah tidak berhenti pada satu generasi. Sejarah akan terus menghadirkan tokoh dan pemimpinnya. Sejarah pula yang akan membuktikan apakah seorang pemimpin akan tercatat dengan menggunakan tinta emas atau tinta hitam yang penuh bercak. Lawan penindasan dan eksploitasi, sudah saatnya kaum muda memimpin dan menyelamatkan bangsa.

Semoga negara kita ini tetap bersatu seperti slogan budaya bangsa yang tersirat dalam Bhineka Tunggal Ika. Berkaryalah pemuda-pemudi Indonesia, majukan negara kita dengan inovasi-inovasi baru, dengan kreatif, percaya diri, jujur, dan berjiwa sosial membangun daerah dengan semangat juang tinggi dalam membangun bangsa. Jadilah Soekarno dan Moh Hatta berikutnya yang memiliki semangat juang tinggi dalam membangun bangsa. (Penulis adalah Jurnalis tinggal di Mandailing Natal)

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar