Home / Artikel / Pemuda 1928 Hingga Pemuda Masa Kini

Pemuda 1928 Hingga Pemuda Masa Kini

Askolani Nasution

 

Oleh : Askolani Nasution

Dimensi Sumpah Pemuda adalah cara pandang pemuda melihat Indonesia sebagai satu uniti totalitas yang visioner, zonder kepentingan personal atau kelompok. Itu yang dilakukan para generasi terdahulu dari Angkatan 1928 dan 45.

Soekarno, Hatta, dan lain-lain bisa hidup senang dan kaya kalau mereka mau berdamai dengan kekuasaan, karena mereka memiliki pendidikan tinggi yang amat langka pada masa itu, tidak sampai 100 orang jumlah sarjana. Tapi mereka memilih jalan perjuangan, dibui, diasingkan, disengsarakan. Tan Malaka mati dalam pembuangan, Syahrir juga.

Dalam konteks kekinian, sedikit sekali pemuda yang berani memilih jalan sulit itu. Saya melihat banyak pemuda yang memilih berjuang dan berorganisasi hanya untuk jalan menuju hidup nyaman. Mereka sekedar bagian dari sistem yang lebih tinggi, onderbow dari kelompok sosial dan politik tertentu saja, yang pandangan dan sikap-sikapnya hanya membeo pada interest tertentu juga. Tentu karena tuntutan hedonisme dan gaya hidup senang yang menjadi tren. Berlomba memiliki kenderaan bagus, asesoris mahal dan berkelas, dan seterusnya.

Konsep sosial mereka tidak orisinil, hanya mengadopsi konsep orang lain, gamang berbicara, tidak terampil menulis, tidak konsepsional, dan macet memilih bentuk-bentuk perjuangan yang variatif. Kita lebih banyak mengambil cara-cara aksi massa yang sama dan tidak cerdas, paling-paling hanya demo seperti gaya Angkatan 66 dan 98. Berani karena ramai saja.

Syahrir dan Sukarni misalnya dari Angkatan 45 berani memilih gerakan bawah tanah. Mereka menolak kerja sama dengan Jepang, bahkan menculik Soekarno-Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan. Adam Malik memilih radio dan Kantor Berita sebagai alat perjuangannya. Sehari sebelum proklamasi mereka berani mencetak naskah proklamasi dan menyebarluaskannya melalui radio dan kurir. Dan ketika Indonesia merdeka, mereka tidak larut dalam kekuasaan, tetap menjadi pejuang.

Angkatan 66 menggandeng militer untuk menumbangkan Orde Lama. Itu yang dilakukan Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, David Napitupulu, Dr. Syahrir, dan lain-lain. Budiman Sudjatmiko dkk dari Angkatan 98 berani melakukan gerakan yang melawan dominasi militer dalam Orde Baru. Dan semuanya akhirnya berkuasa dan larut dalam kekuasaan itu.

Begitu banyak isu-isu sosial yang idealnya bisa dimainkan oleh generasi pembaru, tapi kita tak melihat ada yang sepenuh hati menceburkan diri dalam perjuangan seperti itu. Semua memilih jalan aman, menempel tokoh-tokoh yang ada, dan bersabar menunggu giliran saja seperti antrian. Padahal itu butuh waktu lama dan tidak efektif. Tapi tak ada yang mau melakukan lompatan jauh ke depan, (Istilah Mao Tse Tung yang mengubah Cina menjadi komunis sekaligus kapitalis).

Semua zaman ada isunya, butuh metode baru juga. Kemiskinan, ketimpangan sosial, pemerataan yang lamban, rendahnya kualitas hidup, dominasi ekonomi asing, dan lain-lain, sepatutnya menjadi visi perjuangan baru bagi pemuda kekinian. Dan rakyat Indonesia itu khas, mereka mau mati untuk orang yang tulus. Tapi tak ada yang memanfaatkan tipikal itu lagi setelah era Soekarno. Tak ada yang mau mengambil langkah itu!

Kita sibuk mencetak foto-foto kita di baliho besar-besaran, memamerkan jabatan sosial kita, berbicara seperti tokoh yang menjadi patron kita dalam melihat sudut pandang sosial, minus pilihan strategi, minus orisinalitas dalam berpikir, gamang memilih jalan perjuangan. Menjadi patron orang lain tidak akan memuat kita melebihi orang yang kita patroni, karena tidak berani memilih jalan yang khas kita sendiri.

Apa yang kita peroleh dalam hidup akhirnya amat kecil, menikah, punya anak, punya pekerjaan tetap, punya mobil yang nyaman, dan berbagai jebakan sosial lainnya. Lalu kita mati tanpa pernah menjadi orang besar, tanpa pernah membuat sejarah, hanya menjadi bagian dari sejarah orang lain saja yang porsinya kecil.

Padahal, hanya mereka yang berani mengambil jalan sulit yang akan ditulis namanya sepanjang sejarah. Itu yang melakat pada Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Syahrir, Hariman Siregar, dan lain-lain. (Penulis adalah budayawan, tinggal di Madina)

 

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar