Home / Seputar Madina / Pemukulan Terhadap Polisi di Sipolu-polu Merupakan Sisi Kearifan Lokal

Pemukulan Terhadap Polisi di Sipolu-polu Merupakan Sisi Kearifan Lokal

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Peristiwa penangkapan dan pemukulan oleh warga terhadap oknum polisi yang diduga berbuat mesum di Kelurahan Sipolu-polu, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) harus dilihat dari esensi kearifan lokal Mandailing.

Itu dikatakan Camat Panyabungan, Hafizuddin pada acara silaturrahim Kapolres Madina, AKBP Mardiaz Kusin Dwihananto dengan tokoh-tokoh masyarakat Sipolu-polu, Munggu (22/9/2013) di rumah makan Paranginan 2, Sipolu-polu, Panyabungan.

“Persoalan sebetulnya hanya jam malam yang sebetulnya merupakan hukum adat yang tidak tertulis yang berlaku ditengah-tengah masyarakat. Jadi kita berharap juga nantinya hukum adat tentang jam malam ini mendapat pengakuan dari aparat penegak hukum,” harap Hafizuddin.

Pada kesempatan itu camat menyampaikan permohonan maaf kepada Kapolres serta jajaran polres atas kejadian pada Jum’at (20/9) yang menurutnya bahwa pada dasarnya warga Sipolu-polu maupun masyarakat Panyabungan umumnya tidak menginginkan kejadian tersebut.

Kapolres sendiri menyatakan bahwa oknum polisi tersebut akan menyelesaikannya dengan perwakilan masyarakat Sipolu-polu sesuai dengan adat dan kearifan lokal di Sipolu-polu.

Kapolres juga menyatakan pihaknya tidak akan menuntut warga Sipolu-polu atas peristiwa pelemparan terhadap mapolsek dan unit lantas oleh ratusan warga pada Jum’at (20/9) sebagai buntut dugaan perbuatan mesum oknum polisi itu di Sipolu-polu.

Camat juga menyatakan gembira atas adanya ketulusan dari kapolres dan masyarakat Sipolu-polu untuk menyatukan persepsi menyelesaikan persoalan ini sehingga tidak berlarut-larut lagi.

“Kita sangat mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil oleh Pak Kapolres Madina dalam menyelesaiakan persoalan,” katanya.

Ketua Naposo Nauli Bulung Sipolu-Polu, Nasrullah pada kesempatan itu menyampiakan terima kasih kepada kapolres yang telah melakukan silaturahmi dengan masyarakat Sipolu-polu dan pihaknya juga meminta maaf kepada seluruh jajaran Polres Madina atas kejadian pada Jum’at (20/9).

“Pada awalnya juga kami sebagai generasi muda yang ada tidaklah menginginkan kejadian itu, namun kami berharap agar kejadian itu tidak terulang lagi, ada saling pengertian, baik orang luar yang akan tinggal di kelurahan kami untuk lebih menghormati hukum-hukum adat yang ada ditengah-tengah masyarakat,” ungkap Nasrullah.

Mantan Sekretaris KNPI Madina, Saparuddin Haji yang ikut di pertemuan itu menyampaikan sangat mengapresiasi sikap yang telah ditunjukkan oleh kapolres Madina yang lebih mengedepankan kepentingan masyarakat.

“Sikap yang ditunjukkan kapolres ini harus diapresiasi, beliau tidak mengedepankan egonya untuk membela anggotanya, namun bagaimana agar persoalan dapat terselesaikan dengan baik, beliau lebih mengedepankan sikap untuk mengayomi masyarakat,” kata Saparuddin.

Peristiwa itu terjadi Kamis malam (19/9) ketika warga menangkap dan memukul satu oknum polisi yang diduga melakukan perbuastan mesum di rumah seorang wanita malam hari.

Buntutnya, ratusan warga Sipolu-polu melempari Mapolsek dan Unit Lantas Panyabungan, Jum’at (22/9) dipicu munculnya issu bahwa polisi akan melakukan sweeping ke Sipolu-polu terkait peristiwa Kamis malam.

Peliput : Maradotang Pulungan
Editor : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

9 comments

  1. Setelah melakukan penganiayaan kemudian minta maaf, tidak ada diakui hukum sipolu-polu, yg ada hukum republik indonesia.

  2. Damai itu indah,sekedar komen lebih baik si janda di nikahkan secara agama dengan di saksikan para undangan.
    Dan untuk kerusakan pos polisi,harus ada yang bertanggung jawab utk membangunya kembali.gk etis kalau pembangunan kembali pakai uang negara nantinya.

Silahkan Anda Beri Komentar