Home / Seputar Madina / Pengembangan Kebudayaan Melalui Inklusif Museum

Pengembangan Kebudayaan Melalui Inklusif Museum

PANYABUGAN (Mandailing Online) – Masyarakat Mandailing Natal sudah saatnya didorong mengkonversi kebudayaan melalui pola inklusif museum.

Itu diungkapkan dosen di Universitas Utrecht, Blanda, Dr.Hayyan Ul Hag SH, LL.M kepada Mandailing Online, usai berkunjung ke KKM, Panyabungan, Mandailing Natal, Jum’at (14/6/2013).

Inklusif museum itu adalah model pengembangan dan media pembelajaran bagi masyarakat, dimana setiap anggota masyarakat itu mempraktekkan kehidupan berbudayanya di dalam kehidupan komunitas sehari-hari.

“Inklusif museum itu multi fungsi, baik itu fungsi protektor, pendidikan dan fungsi ekonomi” katanya.

Sisi protektor, bisa melindungi atau memberikan perlindungan terhadap pengkoservasian kebudayaan, sehingga kebudayaan Mandailing itu tidak dapat diklaim oleh pihak lain sebagai kebudaayan milik mereka. Dan pihak lain akan mengakui bahwa kebudayaan Mandailing itu adalah properti kolektif dari masyarakat Mandailing.

Fungsi kedua adalah media pembelajaran atau pendidikan kolektif, karena dia akan langsung mengajarkan generasi muda untuk mengetahui historical development community, dimana generasi muda dapat mengetahui sejarah perkembangan kebudayaannya sendiri.

“Jadi dia bisa belajar kearifan lokal, nilai-nilai yang baik dari kebudayaan leluhurnya, tentang estetika, tentang kebenaran dalam tradisi masyarakat Mandailing,” katanya.

Sehingga konsep inklusif museum itu menjadi contoh langsung di dalam pempadanan nilai-nilai kebudayaan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Fungsi ketiga adalah fungsi ekonomi. Ekonomi kreatif yang berbasis kebudayaan. Seperti Kampoeng Kaos Madina yang menciptakan medium pembelajaran kepada masyarakat luas untuk berekonomi melalui kebudayaannya.

Peliput/editor: Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar