Home / Artikel / Peran Penting Trio Anak Mandailing, Sebelum Soekarno Pembacakan Teks Proklamsi

Peran Penting Trio Anak Mandailing, Sebelum Soekarno Pembacakan Teks Proklamsi

Peranan trio anak Mandailing (Adam Malik, Pangulu Lubis, Rahmat Nasution) dalam menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia jarang dipublikasi. Padahal berita itu sangat vital dan disiarkan satu setengah jam sebelum Soekarno membacakan teks Proklamasi di Pengangsaan Timur 56, Jakarta.

(Dikutip dari buku Madina Madani ditulis Basyral Hamidi Harahap)

Perlu dicatat peranan anak Mandailing: Adam Malik, Pangulu Lubis dan Rahmat Nasution dalam menyiarkan berita Proklamasi ke seluruh pelosok dunia. Peristiwa yang menegangkan itu terjadi satu setengah jam sebelum Bung Karno membaca teks Proklamasi di Pengangsaan Timur 56 pada tanggal 17 Agustus 1945.

Adam Malik dan kawan-kawan sejak malam sampai pagi sibuk menyebarluaskan teks dan berita Proklamasi yang sudah mereka stensil.

“Sampai pukul 08.00 saya masih sibuk di Jalan Bogor. Kemudian pindah-pindah untuk menyampaikan instruksi-instruksi misalnya ke Domei, organisasi rakyat,” kata Adam Malik kepada penulis dalam wawancara tahun 1981.

Walaupun kantor berita Antara yang didirikan Adam Malik 13 Desember 1937 diambil alih Jepang dan dijadikan sebagai Seksi Indonesia kantor berita Domei, penguasa Jepang tetap mengangkat Adam Malik sebagai pimpinannya.

Pukul 08.00 tanggal 17 Agustus 1945 suasana masih tenang di Antara. Adam Malik menelefon Pandu Kartawiguna, tetapi karena belum tiba di kantor, maka Adam Malik menginstruksikan kepada Asa Bafagih yang sudah hadir di Antara agar segera menyiarkan berita Proklamasi.

Ketika itu Pangulu Lubis tiba di Antara. Tugas rutinnya adalah memasukkan berita-berita ke dalam morse cast dan mengirimkannya ke seluruh dunia.
“Pengiriman berita itu melalui morconi pukul 08.30,” kata pangulu Lubis kepada penulis pada tahun 1981.

Beberapa kantor Domei di kota-kota penting di Pulau Jawa langsung menerima berita itu. Sugeng dan Mintarjo menerimanya di Semarang, Bung Tomo di Surabaya, AZ Palinggih di Bandung. Satu setengah jam sebelum Bung Karno membacakan naskah Proklamasi di Pengangsaan Timur 56, berita Proklamasi itu sudah tersiar ke seluruh penjuru dunia dan beberapa tempat di Tanah Air.

Penguasa Jepang ikut kalut mendengar berita itu. Mereka mencari Adam Malik dan menanyakan kepada Pangulu Lubis dimana Adam Malik dan dari mana asal berita itu. Pangulu menjawab mengelabui Jepang, bahwa berita itu berasal dari Gunseikanbu.

“Saya tidak tahu di mana Adam Malik, dia sudah lama tidak masuk,” kata Pangulu Lubis kepada petugas Jepang itu.

Jepang memaksa Pangulu Lubis untuk mengirim berita ralat secepatnya untuk membatalkan berita Proklamasi itu. Pangulu melakukannya, tetapi di balik itu dia minta Rahmat Nasution (ayah Adnan Buyung Nasution) untuk secepatnya pula menginterlokal Bandung, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta yang isinya dua hal:

Pertama: Berita kedua adalah berita Jepang, isinya tidak benar. Kedua: Berita pertama tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, adalah benar.

Begitulah peranan trio ini menyiarkan berita Proklamasi ke seluruh dunia. Penguasa Jepang di Sibolga dan Natal juga sudah menerima berita itu melalui alat telekomunikasi Markoni.

Alasan Adam Malik menyiarkan berita Proklamasi sebelum dibacakan Bung Karno adalah untuk mencegah jangan sampai Proklamasi gagal. Karena pada saat itu balatentara Jepang masih berkuasa dan besar pengaruhnya kepada Bung Karno dan Bung Hatta.

Itulah sekelumit peranan tiga anak Mandailing dalam kancah perjuangan nasional, khususnya pada saat yang sangat genting berjuang agar Proklamasi tidak gagal.***

Comments

Komentar Anda

One comment

Silahkan Anda Beri Komentar