Home / Artikel / Perantau dan Hakikat Pulang Kampung

Perantau dan Hakikat Pulang Kampung

(Tinjauan Singkat Sosio-Antropologi)

Oleh : Dr. M.Daud Batubara, MSi

M. Daud Batubara, Dr.MSi

Idulfitri, sering disebut dengan Lebaran, merupakan momentum bagi Umat Islam pulang ke kampung. Momentum ini lebih dikenal secara spesifik dengan sebutan mudik. Seminggu sebelum lebaran, para perantau biasanya mulai meninggalkan kota menuju kampung halaman. Tradisi pulang kampung
lebaran (mudik) untuk berkumpul bersama keluarga dan mengucapkan selamat idul fitri, ternyata tidak tergantikan dengan kecangggihan alat komunikasi yang sedemikian modern.

Lebih-lebih hal ini didorong keyakinan bahwa makna Fitri sebagai hari kemenangan karena pembebasan
dari dosa yang diperbuat, seperti ditegaskan Rasululullah Muhamad SAW “ Barang siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan dan mengerjakan amal ibadah karena iman dan mencari Ridha Allah, maka Allah SWT akan membebaskan dari segala dosa-dosanya, sehingga kembali suci, bersih, seperti bayi yang baru dilahirkan” (HR.Ahmad).

Aspek lain yang mendorong minat pulang kampung, juga lebih dari sekedar bersilturrahmi, bertatap muka dan bercakap-cakap yang dapat dilakukan melalui Video Call. Phonsel seakan kurang bermakna karena jauh dari kenikmatan memuaskan nilai dahaga tradisi budaya mudik. Perantau masih membutuhkan komunikasi yang bersifat personal dan emosional.  Maka tak heran bila persiapan mudik nyaris diperjuangkan tanpa reserve sekalipun. Tidak ada nada lelah atau urung niat, dalam perjalanan yang melelahkan dan penuh resiko. Ini bukti bahwa mudik bagi perantau tidak sekedar melepas kerinduan pada kampung halaman, tetapi mengandung makna yang jauh lebih mendalam yang berbeda dengan momen pulang kampung di hari biasa. Fenomena sosial ini, nyaris berlaku disemua lapisan tanpa mengenal kelas.

Motivasi mudik yang penuh resiko mengintai keselamatan jiwa, tetap saja dipentaskan. Dari pandangan sosio-antropogi, terdapat beberapa motiv yang kuat melatarbelakanginya. Pertama, Rasa hormat dan
kerinduan terhadap orang tua, sebagai motiv utama; Kedua, Berziarah dan berdoa untuk keluarga; Ketiga, Re-fresh lokasi dan kejadian, dengan mengenang masa kecil yang tiada tara, dengan teman yang sangat saling faham karakter dan prilakunya di ruang, waktu dan tempat yang sama, pada kondisi yang telah berbeda.

Pantaslah, meskipun tantangan global telah merasuk denyut nadi kehidupan masyarakat tradisional, namun ekses budaya mudik tak bisa dielakan, karena tanpa disadari aktivitas mudik, telah menjadi arena
proses enkulturasi dan revitalisasi identitas diri para perantau. Sisi keindahan lain bahwa, fenomena budaya mudik memberi isyarat bahwa masyarakat Indonesia belum mau meninggalkan kebaikan hubungan secara impersonal, meskipun disebut tradisional.

Kehangatan hubungan kekerabatan tersebut tetap menjadi cermin kemantapan tata hidup dan tata laku masyarakat Indonesia. Memang nilai budaya mudik ini telah merasuk kuat di denyut nadi kehidupan masyarakat nusantara, sehingga memaksa orang untuk taat dan mematuhi nilai-nilai itu dengan setia. Perantau rela antri, berdesakan dan macet panjang dalam pentas tradisi pulang kampung saat lebaran.

Kalau boleh disebut fenomena mudik lebaran di Indonesia memang unik dan jarang ditemukan di negara lain. Tentulah ada pula motif yang kurang tepat namun sah-sah saja, seperti keinginan perantau menunjukkan diri dengan keberadaannya saat ini, dibanding dengan masa lalunya. Meskipun sebagian orang menyebut pamer, namun marilah berpikir positif, agar yang dipamerkan berguna sebagai alat motivasi bagi yang lain untuk lebih giat. Tentulah mereka yang pamer ini biasanya perantau yang kurang mapan, dengan ciri berupaya menonjolkan keberadaannya dengan berbagai asesoris kehidupan. Sedang perantau yang mapan akan terlihat lebih mencirikan penataan tampilan berdasarkan pengetahuan, pengalaman maupun kehidupannya.

Masyarakat dan keluarga di kampung bila dapat menangkap karakter perantau sebenarnya membawa implikasi sosio-antropologi yang lebih jauh dari fenomena mudik itu sendiri, bahkan dapat terjadi enkulturasi (perubahan budaya baru) dengan peran perantau sebagai Agen of Change.

Masyarakat (kaum) yang ingin berubah dan Perantau yang dapat berperan sebagai Agen Perubahan dapat mewarnai sikap dan perilaku masyarakat untuk lebih baik. Perubahan lebih mudah pula terjadi karena perantau sangat mengenali budaya tradisional di kampungnya, sehingga lebih mudah beradaftasi dalam penyampaian pesan terhadap kaummnya.

Enkulturasi (perubahan budaya baru) yang dimaksudkan adalah perubahan pola berpikir kaum di kampung yang bercermin dari sifat-sifat perantau meliputi:

Pertama, Kemandirian, hidup jauh dari keluarga, menjadi diri sendiri. Belanja, kesehatan, kesulitan dan lainnya dihadapi dan diurus sendiri, jauh dari orangtua dan sanak saudara.

Kedua, Motivasa yang tinggi, dari bentukan komunitas atas solidaritas kebersamaan perantau sehingga lebih serius dan lebih peka menjalani aktivitas, sehingga muncul rasa tanggung jawab untuk modal sukses.

Ketiga, Hilang gengsi terhadap jenis pekerjaan dan pendapatan, karena malu menjadi pembicaraan tetangga atau keluarga bila bekerja dari level bawah, maka bersiaplah untuk tidak makan. Kondisi seperti ini menciptakan kemauan yang lebih besar. Keempat; Malu pulang tidak berhasil, sehingga
pekerjaan apa pun akan dilakukan selama itu baik dan tidak melanggar hukum, menjadi motivasi besar kesuksesan perantau.

Sikap perantu yang mandiri, giat, motivasi tinggi, hemat (berorientasi menabung), nyaris tanpa gengsi, solidaritas tinggi dan kemauan tinggi merupakan sesuatu yang harus menjadi anutan kaum di kampung sebagai karakter baru yang harus dibangun. Disadari bahwa Perantau lahir dari ibu di kampung, hidup dan dibesarkan ala-kampung, yang tidak ada beda dengan kaum yang tinggal di kampung. Tapi dalam kenyataannya Perantau mampu merubah diri sehingga memiliki karakter yang berorientasi masa
depan. Kaum dikampung juga bila memaknai kehidupan perantau akan dapat lebih berhasil. Kaum di kampung memiliki segalanya untuk diolah termasuk peralatan maupun lahan. Sementara perantau  berangkat hanya dengan membawa semangat dan keberanian menuju perantauan yang tidak
memiliki alat dan lahan.

Bila direnungkan mendalam, kaum di kampung tidak layak lagi untuk selalu menadahkan tangan dalam pembangunan masjid, surau, madrasah, irigasi, jalan setapak dan berbagai pembangunan yang ada dikampung. Apalagi untuk keperluan rumah tangga sanak saudara. Kaum di kampung pasti bisa menyekolahkan anak sampai sarjana, membangun rumah sendiri, menyumbang pembangunan seperti para perantau. Hanya saja kaum harus mampu disiplin menggunakan waktu mulai pukul 04.00 Wib untuk mulai berusaha dan berakhir pukul 23.00 Wib seperti kemauan dan semangat perantau ketika mereka melakukan usaha (Warung).

Perantau menggunakan waktu berusaha Warung selama 19 jam dalam 24 jam (sehari semalam), maka pantas mereka hidup layak. Mereka berhemat dari ngopi sebanyak 3x sehari. Dari sisi ini saja dapat dibayangkan betapa kaum dikampung telah mengabaikan begitu banyak waktu untuk berusaha
dan mengabaikan cara berhemat untuk menabung dalam mengarungi kehidupan. Lantas kaum kita dikampung masih berani mendahkan tangan untuk berbagai keperluan kepada perantau yang selalu kerja keras. Kita harus sadar bahwa ternyata kita belum menjadi pekerja keras. Perlu dicatat bahwa sebagain perantau juga tidak berhasil karena tidak terjadinya perubahan karakter, dimana mereka hidup dirantau dengan pola yang sama dengan di kampung.

Oleh karena itu, kepada perantau beri ceritakanlah yang benar-benar berguna bagi kaum kerabat di kampung. Beri tahu kepahitan yang dialami menuju sukses, tentang waktu yang digunakan dalam berusaha tiap hari, pentingnya kecerdasan, semangat, pentingnya membuang jauh rasa gengsi,
perlunya berhemat dan menabung sehingga dapat merubah karakter kaum kerabat.  Masih sangat sedikit yang menjadi pekerja keras. Kepada kaum kerabat mari ditiru cara mencari nafkah perantau. Kaum juga akan bisa berhasil bila memanfaatkan waktu dengan cara yang sama dengan perantau. Mari malu menadahkan tangan membangun desa pada perantau. Mari kita balik paradigmanya, bahwa kita bisa. Mari berubah untuk hidup yang lebih baik.***

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.