Home / Berita Sumut / Peringati Sumpah Pemuda, Ima Madina Tolak Sekularisme di Indonesia

Peringati Sumpah Pemuda, Ima Madina Tolak Sekularisme di Indonesia

 

MEDAN (Mandailing Online) – Dalam memperingati Sumpah Pemuda, di Medan tanggal 28 Oktober kemarin Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal (DPP Ima Madina) menelurkan 4 poin sikap terkait kondisi bangsa Indonesia terkini.

Dalam rilis pers tertanggal 28 Oktober 2014 ditandatangani Ketua Umum, Ahmad Irwandi Nasution dan Sekretaris Umum, Rahmad Riski Rangkuti yang diterima Mandailing Online, Rabu (29/10), empat poin sikap DPP Ima Madina itu adalah:

Pertama, menghimbau kepada seluruh pemuda dan pemudi di Republik Indonesia agar sama-sama bergandengan tangan dalam mengawal proses pembangunan di NKRI ini.

Kedua, meminta kepada Presiden RI Joko Widodo agar serius mengelola aset-aset penting negara serta menasionalisasikan seluruh hasil bumi Indonesia yang sekarang dikuasai pihak asing untuk dipergunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat. Termasuk tambang emas PT Sorikmas Mining di Kabupaten Mandailing Natal.

Ketiga, menolak segala bentuk budaya barat di Indonesia termasuk rusaknya generasi muda sebagai akibat penerapan sekulerisme dalam mengatur urusan kehidupan manusia, baik yang berbentuk Kapitalisme, Demokrasi maupun sosialis-komunis. Ideologi-ideologi tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi pemuda sebagai masa depan bangsa dan negara.

Keempat, menolak sistem pendidikan yang sekuler dan liberal, karna sistem tersebut akan melahirkan generasi pemuda yang bersifat apatis, apolitis, egois, pragmatis dan cenderung permisif. Sistem itu dikhawatirkan akan mengikis rasa nasionalisme pemuda sesuai dengan cita-cita sumpah pemuda.

Poin-poin sikap Ima Madina itu beranjak dari semangat deklarasi Sumpah Pemuda yang merupakan akhir dari perjalanan Kongres Pemuda Ke-2 yang dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 27 hingga 28 Oktober 1928.

Sumpah Pemuda itu adalah: Pertama, “Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia”. Kedua, “ Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia”. Ketiga, “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”.

Ima Madina menyatakan, sejalan dengan perkembangan bangsa ini, para pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa dan sebagai kontrol sosial terhadap jalannya birokrasi di pemerintahan harus selalu memberikan ide-ide cerdas dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa ini.

Keempat poin sikap Ima Madina tersebut berlandaskan bahwa mahasiswa yang merupakan pemuda serta berada di lingkungan pendidikan tinggi merasa terpanggil bergerak melihat kondisi bangsa saat ini yang jauh dari harapan-harapan pemuda.

 

Editor  : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

One comment

Silahkan Anda Beri Komentar