Home / Berita Sumut / Rencana Produksi 10.000 Ton per Tahun Pabrik Pupuk Segera Beroperasi di Sumut

Rencana Produksi 10.000 Ton per Tahun Pabrik Pupuk Segera Beroperasi di Sumut

Medan. Permasalahan kelangkaan pupuk yang sering terjadi di Sumut tampaknya akan mulai berkurang tahun ini seiring dengan beroperasinya pabrik pupuk yang diperkirakan memproduksi 10.000 ton pupuk per tahun.
Direktur PT Agro Tani Marisi Tulus P Sitorus mengatakan, pabrik yang mereka bangun tersebut merupakan salah satu wujud mencapai ketahanan pangan nasional. “Kehadiran industri kompleks pupuk terpadu, organik granul, NPK, composer, ini diharapkan dapat menghasilan produk terbaik dengan harga bersaing dan kualitas terjamin, sehingga membantu program perwujudan ketahanan pangan,” katanya, saat peresmian pabrik pengolahan pupuk tersebut, di Jalan Medan-Binjai Kilometer 11, Sabtu (21/1). Hadir di situ Dirjen Tanaman Kementerian Pertanian RI Undoro Kasih Anggoro dan Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Dzaili Azwar mewakili Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Gatot Pujo Nugroho.

Dia mengatakan bahan baku untuk pengolahan pabrik tersebut akan didatangkan dari Aceh, yakni sekitar 60%. Sedangkan sisanya sekitar 30% lagi masih harus diimpor dari Mesir. Produksi 10.000 ton per tahun tersebut, katanya, akan diwujudkan dengan mempekerjakan sekitar 150 orang karyawan.

Dirjen Tanaman Kementerian Pertanian RI Undoro Kasih Anggoro mengungkapkan, dari 14 juta rumah tangga petani padi di Indonesia, ternyata 1,2 juta diantaranya tidak mampu membeli pupuk. “Sehingga kehadiran pabrik pengolahan pupuk masih menjadi kebutuhan mendasar, dengan harapan harga pupuk tetap terjangkau dengan persaingan yang sehat antar produsen pupuk,” katanya.

Akibat ketidakmampuan membeli pupuk tersebut, lanjutnya, produksi padi yang menjadi komoditas utama tidak maksimal. Karena itu, katanya, pencapaian swasembada beras pun dikhawatirkan menjadi sulit dipenuhi. Makanya, dia juga mengharapkan semakin banyak investor yang membangun pupuk di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang menjadi sentra produksi tanaman pangan. “Kalau 1,2 juta itu rata-rata mengelola setengah hektar, berarti ada 600 ribu hektar. Kalau meningkat satu ton saja, berarti ada tambahan yang luar biasa,” lanjutnya.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Dzaili Azwar mengatakan, pembangunan pertanian menjadi salah satu prioritas ekonomi Sumut. Pasalnya, kata dia, sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap PDRB sebesar 23,03% dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 47%.

“Sejalan dengan perkembangan kemajuan ilmu teknologi di bidang pupuk serta banyaknya produk luar negeri membuktikan berkembangnya peredaran pupuk di Indonesia khususnya Sumut,” katanya.

Kepada wartawan, Dzaili yang didampingi Kadis Pertanian Sumut M Roem mengatakan, kehadiran pabrik pupuk ini membuktikan potensi investasi di Sumut masih cukup terbuka luas. Khusus untuk pupuk, katanya, pelaku usaha yang mendaftarakan usahanya di bidang pupuk tersebut terus bertambah.

“Minat masyarakat untuk mendaftarkan usaha pupuk cukup besar. Sehingga memerlukan perhatian dan pengelolaan yang lebih cermat dan hati-hati untuk mencegah beredarnya produk-produk yang memiliki kualitas yang tidak memadai,” tambahnya. (herman saleh.medanbisnis)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar